The article below is only a simple note which I to0k from my notes in Facebook. Sorry for writing in Indonesian language.
————————————————————————————————————————————–
Aku sebenarnya sudah gemes pingin nulis tentang kondisi & situasi di Jepang saat ini sejak beberapa hari lalu, tetapi karena hampir tidak waktu bahkan untuk diri sendiri akhirnya batal terus. Sekarang, apapun yang terjadi pokoknya harus ditulis! Basi tidak basi, sudah tak peduli lagi.

Terpuruk tapi tidak merutuk
Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sikap & perilaku orang-orang Jepang ketika gempa besar Miyagi terjadi. Meski Tokyo jauh dari pusat gempa & tidak ada kerusakan sama sekali, tetapi seketika itu juga dampak besar gempa turut terasa.

Kereta api langsung dihentikan saat itu juga hingga esok harinya. Otomatis transportasi jadi kacau balau, apalagi untuk Tokyo dengan jutaan orang yang sangat tergantung pada kereta & subway. Calon penumpang menumpuk di sekitar stasiun hingga penuh sesak di ruas-ruas jalan sekitarnya. Begitu pula antrian panjang di sekitar tempat menunggu taksi & bis.

Sore itu dingin tetapi semua orang tetap rela antri teratur bahkan hingga berjam-jam berikutnya. Awalnya, aku & teman-teman berniat mengantri bis untuk pulang tetapi tampaknya percuma saja karena saat itu kami berada di kota kecil yang bisnya juga terbatas. Akhirnya kami jalan kaki 1,5 jam hingga asrama teman. Aku juga mendapat cerita dari Goto Sensei bahwa beliau juga harus antri bis di Shibuya & baru sampai rumah 5 jam setelah gempa.

Pemandangan yang terlihat selama berjalan kaki adalah sesama orang yang terjebak situasi & terpaksa jalan kaki. Meski harus jalan kaki entah berapa kilometer jauhnya, mereka tampak tetap tenang & taat pada peraturan lalu lintas. Begitu pula dengan para pengemudi mobil & motor yang juga harus rela antri lebih lama. Macet, itu pasti! Namun, tidak ada yang saling serobot meski lampu merah tidak berfungsi. Tidak ada bising suara klakson meski antrian kendaraan mengular panjang & bergerak sangat pelan.

Antrian panjang semacam itu tidak hanya terjadi di Tokyo saja. Di TV & media cetak, kulihat para pengungsi pun antri untuk mendapat ransum yang tidak seberapa jumlahnya. Orang-orang tidak menggurutu ketika harus antri di supermarket untuk bahan makanan yang jumlahnya terbatas. Tidak ada kerusuhan akibat saling berebutan!

Berbagi & berhemat
Masalah-masalah lain pun turut bermunculan pasca gempa Miyagi, mulai dari masalah klasik di pengungsian hingga bahaya radiasi dari PLTN Fukushima yang bermasalah. Aku tidak akan membahas hal tersebut satu-satu di sini. Lebih dari itu, aku kagum dengan semangat berbagi yang kurasakan sejauh ini. Rusaknya infrastruktur di daerah Tohoku memang menghambat pasokan ataupun distribusi barang kebutuhan masyarakat di daerah sekitarnya. Apalagi PLTN Fukushima juga bermasalah yang berakibat pada penurunan pasokan energi untuk daerah Tohoku & Kanto, termasuk Tokyo tentunya.

Sejauh ini, entah sudah berapa banyak kulihat iklan layanan masyarakat ataupun leaflet yang mengajak berbagi demi para pengungsi di Tohoku. Aku sempat tertegun dengan gambar yang kutemukan di internet yang mengajak orang untuk tidak menimbun barang karena panik ketika beberapa barang jadi langka. Kurang lebih 12 rol tissue toilet bisa untuk 1.000 orang, 1 tabung gas kecil bisa untuk memasak makanan 10 orang, 1 liter bensin bisa untuk ambulance yang mengangkut 4 orang yang terluka. Hitung saja berapa junlahnya jika jutaan orang lain juga berhemat hal yang sama.

Hemat energi juga kurasakan langsung di kehidupan sehari-hari. Jadwal pemadaman bergilir telah diumumkan sejak beberapa hari lalu. Toko-toko yang biasanya tutup sekitar jam 9 atau 10 malam, jadi tutup jam 6 petang. Shibuya yang biasa hingar-bingar dengan lampu & beberapa TV raksasa pun sedikit jadi suram karena semua itu dimatikan. Lampu-lampu di tempat umum pun tidak banyak yang dinyalakan. Suasana Tokyo memang berubah, tapi kami baik-baik saja!

Aku makin terpana & kagum saat menyimak pesan-pesan iklan ataupun diskusi di TV. “Ini berat & entah untuk berapa lama, tapi kalau semua melakukan bersama-sama pasti kondisi ini terlalui & jadi lebih baik”, “Marilah saling menolong, jadilah kuat, & percaya pada masa depan”, “Jepang negara kuat. Percaya pada kekuatan Jepang”, “Jika semua orang melakukan hal yang sama, akan jadi kekuatan besar” dan pesan-pesan macam itu terus diulang.

Acara di beberapa TV pun menyajikan hal-hal yang positif mulai dari liputan tentang pengungsian hingga tanya jawab tentang radiasi. Ada acara di NHK yang menyerukan ajakan berbagi & berhemat dengan memberikan contoh kongkrit yang dilakukan oleh masyarakat seperti sukarelawan sebuah LSM yang membuat program untuk menghubungkan orang-orang yang terpisah atau mencari keluarganya di pengungsian, gerakan matikan alat listrik yang tidak perlu di banyak keluarga, dan sebagainya.

Aku terenyuh melihat semua ini. Aku tak kuasa menahan air mata saat melihat liputan tentang para pengungsi yang masih tetap antri & tersenyum ketika hanya bisa makan 2 butir nasi kepal dalam sehari. Aku kehilangan kata-kata ketika sebuah keluarga rela menampung belasan pengungsi dengan segala keterbatasannya, dengan makanan yang mereka coba sediakan sendiri. Aku merasa sakit & pedih melihat anak-anak yang lulus tahun ini terpaksa diwisuda tanpa upacara yang layak tapi tetap semangat menyanyikan lagu kelulusan.

Aku kagum dengan kemampuan mereka untuk “gaman” yang artinya cukup dekat dengan kata “sabar”. Mereka gaman dengan menahan diri tidak mengeluh & merutuk meski aku yakin tak ada satu pun orang yang senang & nyaman dengan kondisi saat ini. Mereka “gaman” dengan tidak melaukan hal-hal negatif ataupu perusakan meski semua hal jadi terbatas & sempat tidak teratur. Kuteringat pada percakapanku dengan orang-orang Jepang tempo hari,”Karena kami sama-sama jatuh saat ini, makanya harus bisa gaman. Kalau yang lain semua duduk lalu kita berdiri sendirian, rasanya malu & tidak nyaman bahkan akan sangat terasa kehilangan & kesusahan akibat bencana alam ini. Namun, jika sama-sama duduk & saling membantu untuk bangkit, pasti terasa lebih ringan & cepat terlalui.” Sudah, aku tak sanggup lagi menerangkan maksudnya saking gamblang & tegasnya makna yang disampaikan dalam kalimat tadi.

Jepang, negeri keduaku…, bangkitlah & pulihlah kembali. Memang benar semua pesan iklan itu dan aku sepakat sepenuhnya. Jepang, kamu tidak sendirian karena orang-orang di dunia ada untuk mendukungmu. Mulai dari diri sendiri, hal sekecil apapun itu, lakukan penghematan & berbagi untuk kebaikan bersama demi pemulihan kondisi Jepang ke normal kembali. Ganbarou Nippon!

*Ganbatteta nulis di note iPhone karena Cherry masih bermalam opname di tempat service*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s