Hanya ingin dicintai karena cinta kepada-Nya dan atas izin-Nya. Jika hal itu tidak ada, jangan coba mencintaiku.”

Itulah tulisan di secarik kertas kecil yang  saya salin di blog tahun lalu. Kata-kata yang entah dulunya tertuju untuk siapa itu ternyata menarik perhatian seseorang, Agyl Fajar Rizky. “Karena aku merasakan ada Allah dalam perilakumu dan aku yakin ada Allah di hatimu. Maka karena Allah pula aku memilihmu untuk jadi istriku,” kurang lebih begitulah khitbahnya terhadap saya. Alhamdulillah, atas izin Allah kami pun menikah pada tanggal 9 September 2012.

Bagi yang mengenal kami masing-masing, barangkali akan heran atau kaget kenapa kami bisa memutuskan menikah. Seperti yang diketahui orang, kami teman berorganisasi dan kegiatan sosial tetapi lebih banyak berdebatan hal tidak penting ketimbang akurnya. Namun, Allah berkata lain, kami diperjodohkan dalam tali pernikahan yang semoga hingga Jannah. Ada pendapat berkata jika wajahnya mirip, maka jodoh. Kami hanya tertawa kalau membahas itu. Secara fisik, kami beda jauh atau bahkan dapat dikatakan bertolak belakang. Namun,dalam kurang sebulan kami menikah, kami menyadari ada begitu banyak kesamaan pemikiran,  tentunya visi & misi juga (ya iya lah ya, kalau ndak yo ngapain nikah :D). Kami kompak dan kadang tanpa bicara kami sudah paham. Hingga kadang-kadang, kami sampai tertawa geli sendiri kalau kebetulan “kompak” itu terjadi. Kami saling melengkapi, itulah prinsip kami ^^.

Pernikahan kami terhitung super sederhana dibandingkan pernikahan lain di Syawal ini. Tapi kami tak berkecil hati karena itulah pilihan kami. Tanpa adat, tanpa ritual yang tidak Islami. Kalau kebanyakan orang bilang, “Ini kan sekali seumur hidup, jadi harus istimewa.” Bagi kami inilah istimewa kami karena kami berani berbeda dari orang kebanyakan. Lagipula tujuan kami bukanlah sekedar hingar-bingar kemegahan walimahan kami, tetapi kekuatan & kebahagiaan bahtera rumah tangga kami nantinya agar tak hanya langgeng di dunia tetapi juga dipersatukan lagi di jannah (aamiiin).

“Karena Allah aku memilihmu  dan untuk Allah jua lah kebersamaan kita,”  telah jadi semangat hidup kami. Karenanya, kami ikhlas memilih walimatul ‘ursy yang sederhana demi penghematan. Kami bisa bermewah-mewah kalau kami mau, tapi kami bersepakat untuk mengalokasikan tabungan kami untuk hal lain. InsyaAllah, tahun ini kami berniat naik haji bareng dari Jepang. Bisa saja kami memberatkan walimatul ‘ursy kami dengan menunda rencana pergi haji di tahun-tahun berikutnya. Namun, kami sama-sama “ngotot” pingin dapat dua-duanya, ya nikah ya pergi haji dalam tahun yang sama. Kami bisa berangkat bukan karena kami kaya, tapi karena Allah Yang Maha Pemurah yang melancarkan rezeki kami. Alhamdulillah, begitu banyak kemudahan yang kami terima selama proses persiapan ini seperti kelancaran rezeki tambahan, bantuan dalam pengurusan ini itu, dan sebagainya.

Bagi saya, pernikahan ini adalah jawaban doa-doa saya dalam satu paket. Sejak awal kuliah S1, saya punya buku kecil berisi wishing list seumur hidup, mulai dari yang konyol hingga serius. Jurnal impian, begitu saya menyebutnya. Salah satunya, tentang sosok yang saya harapkan ada dalam suami saya nantinya. Buku itu teronggok begitu saja di pojokan rak buku, hampir tak pernah saya buka selama bertahun-tahun kecuali sekedar untuk menambahkan harapan. Bahkan saya lupa pernah menuliskan bagian “suami” tersebut di sana. Subhanallahi walhamduliillah, karakter suaminya saya sama persis dengan yang saya tulis saat itu. Pernikahan ini juga memberi kesempatan bagi saya untuk bisa tinggal di Jepang lebih lama. Yang kenal saya, tentunya tahu bahwa saya pernah bilang akan berusaha tinggal di Jepang, entah bagaimana caranya. Ketika pertama kali ke Jepang pada September 2002, saya berjanji pada diri saya bahwa saya tidak akan lelah mencari cara kembali ke Jepang, kalau perlu hingga berkali-kali saat saya sudah jadi nenek-nenek sekalipun.

Kalau diurutkan, banyak sekali jawaban doa-doa yang saya dapat sekaligus dari pernikahan ini. Saya bercita-cita berkontribusi dalam syiar Islam di Jepang dan Alhamdulillah suami juga sangat semangat dalam hal dakwah ini. Dalam jurnal impian itu, saya juga menulis bisa naik haji bareng suami dan keluarga. Alhamdulillah, meski keluarga belum bisa bareng, tahun ini bisa langsung berangkat bareng suami. Semoga dengan keberangkatan kami ke Tanah Suci nantinya bisa jadi barokah dan penguat langkah-langkah kami ke depan. Itu hanya beberapa contoh saja, masih banyak sederetan jawaban doa yang saya sadari hadirnya bersamaan pernikahan kami. Semoga Allah mengekalkan ikatan kami di dunia hingga akhirat nanti dan menjadikan kami pasangan yang sholih-sholihah, sakinah, mawadah, warahmah.

Sebagai penutup, saya ingin berbagi kutipan arti dari Q.S Al Baqarah ayat 186 sebagai berikut:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Kumaka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s