20121107-134725.jpg

Disambut dengan pemandangan yang sangat indah, Ka’bah tampak depan dengan bulan sabit cantik di atasnya, thawaf qudum saya di Masjidil Haram akan jadi kenangan tak terlupakan. Tanggal 18 Oktober pagi waktu setempat, kami telah sampai di Mekah. Sayangnya, kondisi fisik saya yang terserang demam sejak di Istanbul, tidak kunjung membaik & masih sangat lemah saat sampai di Mekah. Akhirnya, suami memutuskan mengajak saya thawaf qudum sore hari atau ba’da Maghrib saja. Kami masuk tepat dari sisi depan Ka’bah tanpa kami sengaja. Tepat saat bulan sabit mulai nampak di atas Ka’bah. Bangunan kubus berbalut kain hitam itu begitu anggun, kokoh, cantik, & penuh daya pikat. Saya datang Ya Allah, saya datang memenuhi panggilan-Mu. Saya datang Ya Allah dan tak ada sekutu atas-Mu.

Tiga pekan perjalanan spiritual kami di Tanah Suci tentunya menghadirkan kenangan dan hikmah beragam bagi diri kami masing-masing. Fisik kami diuji, tidak sedikit yang jatuh sakit baik sekedar batuk pilek ataupun hingga dirawat di rumah sakit. Emosi kami pun diuji, dengan banyak perubahan kenyataan dibandingkan rencana yang ada, ketidakpastian, ketidaksabaran, dan sebagainya. Hingga akhirnya, menurut saya pribadi, di sinilah iman masing-masing orang diuji, tentang seberapa teguh kita percaya & berbaik sangka pada ketetapan & keputusan Allah serta seberapa ikhlas & tawakal kita menerima ketetapan Allah.

Bagi saya pribadi, perjalanan tiga pekan ini sangatlah berharga. Saya menjalani umrahnya orang sakit, yang nyaris kepayahan saat thawaf & terduduk lemas sesudahnya. Saya memang memaksakan diri dengan demam yang masih tersisa, tapi atas pertolongan Allah lah, selama tujuh putaran thawaf saya merasa lebih kuat dari sebelumnya. Kondisi saya membaik di masa jeda antara umrah & haji. Namun, saat masuk manasik haji, fisik & keteguhan hati saya kembali diuji. Kli ini, saya merasakan pengalaman hajinya perempuan yang haid. Jadwal haid saya terbilang teratur dan haid saat haji ini adalah di luar prediksi karena maju 2 pekan dari perkiraan. Sedari awal, saya enggan minum obat penunda haid atau sejenisnya dan suami mendukung. Namun, pilihan saya diuji kala usai wuquf di Arafah, flek kecoklatan mulai nampak. Perlukah saya minta obat ke teman yang saat itu bawa atau saya pasrah saja sampai haid datang & selesai dengan alami? Alhamdulillah, saya dikaruniai suami yang sangat mengerti dan sepaham dengan saya yang mendukung saya untuk melewati semua ini dengan alami. Mabit dan lempar jumrah di Mina saya lalui sebagai perempuan haid. Rasanya sayang sekali tidak bisa ikut sholat berjamaah, tidak bisa banyak bersujud mendekat pada-Nya. Namun saya yakin bahwa yang saya alami adalah bagian dari ketetapannya jadi sebisa mungkin tetap disyukuri dengan banyak tilawah dan dzikir.

Selama perjalanan umrah & haji ini, saya merasa begitu banyak sekali kejutan & hadiah dari Allah. Ka’bah yang saya lihat pertama & terakhir kali adalah sisi depan dengan ujung-ujung kain penutup pintunya sedikit melambai-lambai tertiup angin. Kata suami, “Adek lihat, mungkin itu hadiah pernikahan Adek dari Allah.” Subhanallah… Kami datang sebagai bagian maktab reguler tapi saat masuk manasik haji, travel ternyata membayari rombongan kami untuk masuk maktab VIP yang ternyata satu maktab dengan rombongan ONH Plus dari Indonesia. Alhamdulillah, rasa penasaran akan pelayanan maktab ONH Plus terpenuhi. Rasa penasaran itu sudah ada sejak lama tapi selalu saya tepis karena tidak tahu entah kapan bisa punya ribuan dollar untuk bayar biayanya.

Rasanya memang benar kata suami bahwa kesempatan haji kami adalah kado pernikahan spesial dari Allah. Visa suami yang nyaris tidak dapat, akhirnya berhasil diperoleh di jam-jam terakhir jelang keberangkatan. Sebelumnya kami sudah memutuskan, kalau suami tidak dapat visa maka saya tidak akan berangkat tahun ini karena kami berprinsip perempuan pergi haji harus bersama mahramnya. Jadi bisa pergi bareng suami di saat pernikahan kami masih berumur satu bulan itu, keberkahan yang luar biasa. Tak hanya rasa penasaran, banyak pengalaman pertama juga saya alami di Tanah Suci. Seumur-umur tidak pernah diinfus, tapi akhirnya pertama kali di infus malah di klinik darurat Masjidil Haram. Diantar ke kliniknya pakai kursi roda pula. Terkadang masih ketawa geli kalau ingat saya bisa selemah itu, tapi memang tak ada yang tak mungkin bukan? Pertama kali masuk ke rumah keluarga Arab, isinya pujian-pujian ke Allah dan taujih yang berharga. Pertama kali haji dan tiba-tiba masuk maktab VIP. Plus pertama-pertama lainnya yang selalu bisa bikin tersenyum sendiri kalau ingat kejadiannya.

Kalau mau dirunut satu-persatu, begitu banyak kejadian yang membuat saya dan suami tidak habis berucap hamdallah ataupun kadang-kadang istighfar. Bagi saya, sakit selama awal perjalanan adalah penjagaan Allah agar saya lebih banyak tilawah & dzikir, bukan sibuk mencari kesempatan untuk jalan-jalan atau belanja. Sakit saya juga lah yang menghantarkan saya jadi tamu di sebuah jamuan keluarga Arab di mana saya bertemu seorang hafidzoh dari Suriah yang mengingatkan saya untuk banyak berdzikir di Tanah Haram. Beberapa kali hal yang saya batin juga kejadian, Alhamdulillah hal-hal baik, termasuk hujan di Mekah. Rasa-rasanya, sebagian besar rasa penasaran dan permintaan saya langsung dijawab oleh Allah, kadang tanpa berselang lama. Oya, ada satu hal yang sampai sekarang masih bikin saya heran yaitu tentang penglihatan saya. Saya hampir selalu pakai kacamata karena minus. Tanpa kacamata, penglihatan saya akan buram. Sesampainya di Mekah, saya sempat batin pingin rasanya melepas kacamata biar kepala lebih enteng dari tekanan gagang kacamata. Alhamdulillah, selama pindah-pindah tempat ke Mina, Arafah, Muzdalifah, balik Mina lalu ke Mekah, saya mutusin tidak pakai kacamata dan Alhamdulillah jelas tanpa buram sama sekali. Anehnya, begitu saya pindah ke Madinah, langsung buram dan harus pakai kacamata lagi.

Perjalanan tiga pekan ini membuat makin sadar bahwa keikhlasan dan kesabaran dalam menerima apapun ketetapan dari Allah itu tidak mengenal syarat. Tidak peduli seberapa banyak ketidakjelasan, ketidakpastiaan, seberapa banyak pertanyaan kita yang tidak terjawab atas kondisi baik ataupun buruk, Allah hanya memerintahkan kita untuk sabar menerimanya. Dalam ayat-ayat-Nya, Allah memerintahkan untuk sabar tanpa menambahkan hingga kapan atau berapa lama. Saat haji, hal ini benar-benar diuji. Ada satu hal lagi yang membekas di hati saya tentang ketidakjelasan atas sesuatu hal. Ada kalanya, kita mengedepankan pertanyaan, “Kenapa begini?”, “Kenapa sekarang?”, “Kenapa saya?”, dan kenapa yang lain sesaat kita mengalami sesuatu. Saya pun demikian. Hingga akhirnya saat masih di Mekah, saya memutuskan untuk tidak lagi memaksakan banyak bertanya kalau memang sudah mentok tidak ada jawaban atau tak ada manusia yang mampu menjawab. Kenapa bertanya terus jika ujungnya hanya akan saling menyalahkan? Lagipula, ikhlas dan sabar atas ketetapannya itu tidak bersyarat. Tahu atau tidak tahu alasan atas terjadinya suatu peristiwa mestinya tidak menghalangi kita untuk ikhlas, sabar, dan tawakal atas segala ketetapan-Nya. Wallahualam bissawab.

Sedikit berbagi kutipan dari ayat Al Qur’an, surat Ali Imran ayat 186:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s