Ternyata hampir setahun blog ini melompong tanpa isi. Niat untuk nulis selalu ada, tetapi isi hati akhirnya lebih sering tertumpah di catatan Facebook. Tulisan kali ini pun hasil merupakan salinan dari curahan hati ibu pendatang baru di dunia parenting. Lucu ya, tidak ada pengantar cerita kapan saya hamil, tahu-tahu sudah ada tulisan tentang bayi mungil. InsyaAllaah, catatan lain selaman hamil akan segera dipindah juga di sini. Semoga lebih bisa rutin nulis agar hal-hal penuh makna selama ini tidak menguap begitu saja. Setidaknya, jika suatu saat anak saya bertanya tentang masa kecilnya, saya punya catatan untuk membantu ingatan lemah saya dalam mengenangnya. Bismillahirrahmanirrahim…

————-

20131024-131804.jpg

Wahai anakku, darimu aku belajar
October 24, 2013 at 9:38am

Hampir 3 bulan sejak kelahiran anak pertama saya, Nuh Yoshi Nurramadhan. Waktu terasa cepat berlalu seiring dengan begitu banyaknya hal baru yang saya pelajari & nikmati bersama Nuh Yoshi selama ini. Kadang, saya masih hampir tidak percaya sekaligus takjub betapa Allah telah menciptakan setiap makhluk-Nya dengan perincian yang detail, fungsi yang sangat lengkap & efisien serta kadang di luar pencapaian akal bodoh saya.

Anak adalah anugerah. Pernyataan ini telah saya dengar ataupun baca berkali-kali dalam berbagai kesempatan. Dulu ketika saya belum punya anak, saya hanya mengangguk-angguk & berjanji akan berusaha berpikir seperti itu agar saat merawat anak saya, saya bisa lebih enjoy. Ketika kita berpikir bahwa anak adalah anugerah maka kita mestinya akan lebih banyak bersyukur, tidak mengeluh tentangnya, tidak marah akan tingkah polahnya, dan sederet hal-hal baik lainnya. Namun kenyataannya, penerapannya kadang sulit. Alhamdulillaah, Allaah senantiasa memberi kemudahan dan petunjuk hingga saya akhirnya faham makna pernyataan di awal dengan lebih baik. Nuh Yoshi berhasil membuat saya banyak berucap hamdallah dan juga berdzikir dalam tiap interaksi kami. Dari hal sederhana seperti proses penggantian popoknya pun, saya dapat memahami bahwa dia benar-benar anugerah dalam hidup saya.

Hampir tiga bulan ini saya belajar banyak dari anak saya. Saya dulu berpikir bahwa saya yang akan mengajarinya berceloteh, tersenyum, tertawa, dan banyak hal lain. Setidaknya, itulah yang saya siapkan dari hasil baca sana-sini. Kenyataannya, saya lebih merasa bahwa saya lah yang belajar dari Nuh Yoshi tentang banyak hal yang saya pikir saya tahu sebelumnya. Misalnya, saya berpikir bahwa saya tahu caranya tetap tersenyum saat menghadapi bayi umur 2 bulan yang tidak mau kembali tidur saat terjaga tengah malam. Saya sangat percaya diri awalnya. Kenyataannya, saya sempat hampir kehabisan cara & kepayahan karena dia lebih betah melek ketimbang saya. Saya mengeluh. Saya ulangi, iya, saya mengeluh. Saya mengeluh pada bayi umur 2 bulan,”Nuh, ummi capek. Bobok yuk biar kita sama-sama istirahat. Kalau ummi capek & sakit, kita berdua yang repot…”. Uupss, shimatta, batin saya. Belum apa-apa saya sudah menuntut lebih pada anak saya. Padahal saya berkeinginan menjadi ibu yang bukan penuntut terhadap anak-anaknya. Astaghfirullaah… Alhamdulillah, Nuh Yoshi justru yang mengajarkan saya bagaimana menghadapi situasi seperti itu. Nuh Yoshi justru tersenyum lebar melihat muka saya merengut capek. Barangkali baginya lucu. Seketika itu juga hilang capek & keluhan saya. Bayi umur dua bulan itu yang mengajari saya agar tersenyum, bukan sebaliknya. Nuh pula yang mengajari saya tentang sabar, ikhlas, tawakal & istiqomah. Barangkali tidak secara langsung, tetapi memang kehadirannya dalam hidup saya mendorong saya untuk kembali “kuliah” dalam universitas kehidupan.

Memang benar bayi akan meniru ekspresi, ucapan & perilaku orang tuanya. Karenanya saya ingin memberikan contoh yang baik untuk anak-anak saya. Ternyata, dalam proses ini bukan saya “guru” bagi anak-anak saya tetapi ada kalanya anak saya lah “guru” bagi saya. Saya mungkin tidak bisa bercerita dengan suara lucu & lembut. Namun demi buah hati saya, maka saya tidak segan mencoba bertingkah lucu. Saya yang kembali belajar hal-hal baik, bukan anak saya. Anak saya hanyalah cerminan dari hasil belajar saya sebagai orang tua.

Terima kasih Nuh sayang. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allaah telah kau titipkan “guru” mungil lucu dalam keluarga kami. Kalau begini, apa iya saya masih mau jadi orang tua penuntut terhadap anaknya, sementara anak telah memberikan sangat banyak kebahagiaan sejak dia dititipkan di rahim saya? Jawabannya, insyaAllaah semoga tidak. Bismillah, motto ganbarimasu…

———
Sekedar catatan…
Bagimu mungkin hal biasa, tapi bagiku luar biasa.
Bagimu mungkin hal lama, tapi bagiku hal baru dalam sejarah hidup
Saya pelupa tapi saya tidak ingin lupa.
Karenanya saya menuliskannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s