Long time no write. Sebenarnya ada beberapa hal lain yang ingin ditulis tetapi selalu gagal diselesaikan di blog ini & berakhir pada “draft” semata (masalah klasik). Gara-gara baca di twitter maupun berita online tentang tema “ibu hamil & kursi di kereta” akhirnya saya memilih untuk mengomentari hal ini lebih dulu. Lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg daripada tambah bikin eneg.

Sebut saja mbak D (males nyebutin nama aslinya), cewek yang mendadak populer karena statusnya di Path tersebar di dunia maya. Si mbak D mengungkapkan kekesalannya terhadap ibu hamil yang meminta kursi saat di kereta. Barangkali wajar merasa kesal tapi pilihan katanya itu lho yang menurut saya terlalu kasar. Apalagi ditujukan kepada ibu hamil yang pastinya badannya lebih lemah ketimbang kondisi orang normal yang tidak hamil. Entah apa yang ada di kepala si mbak sampai menulis bahwa ibu hamil pemalas, minta dimengerti terus-terusan oleh orang lain.

Status si mbak D yang kemudian menyebar ini tentunya mengundang berbagai tanggapan, dari yang pro dengan dia hingga menghujat dia sebagai sosok yang kehilangan sisi manusiawinya. Yang bikin saya gemes, ada yang mengusulkan untuk pura-pura tidur demi menghindari permintaan kursi dari ibu hamil. Subhanallah, sudah sebegitu mengganggunya kah ibu hamil di dunia ini?

Si mbak D ini kemudian meminta maaf, entah tulus atau karena kepepet sudah diserang habis-habisan di dunia maya. Meski sebelum meminta maaf dia masih sempat membela diri dengan nada tetap nyolot. Dia beralasan kakinya pincang karena tulang bergeser plus harus berangkat pagi tiap hari. Oke, si mbak memang juga butuh kursi tetapi haruskah dengan mengumpat dalam status di media sosial? Kan sebenarnya tinggal bilang saja, “Maaf kaki saya sakit jadi saya juga butuh kursi ini.” Titik.

Kasus serupa di Jepang
Kenapa saya memilih untuk mengomentari hal ini lebih dulu ketimbang menulis tentang perkembangan Nuh Yoshi? Karena dua hari sebelum berita si mbak D ini menyebar, saya sudah sempat diskusi hal serupa dengan suami. Pagi-pagi saya iseng mencari tema tentang ibu hamil dan kereta dalam bahasa Jepang lalu menemukan situs ini. Di forum tersebut, ada seorang ibu hamil yang bercerita tentang rutinitas dia pergi kerja dalam kondisi hamil dan meminta tempat duduk di bagian prioritas. Saya cuma sanggup baca hingga halaman pertama, begitu juga suami, karena tidak kuat membaca isi sebagian besar tanggapan yang rata-rata sama yaitu menganjurkan untuk tidak meminta tempat duduk kepada orang lain meski itu di bagian prioritas.

Bagi yang bisa Bahasa Jepang, silakan dibuka sendiri tautan tadi & baca sepuasnya kalau kuat :D. Inti yang saya tangkap dari sebagian besar komentar antara lain:
– Hamil & resikonya adalah 自己責任 (jiko sekinin) atau tanggung jawab pribadi. Jadi kalau hamil lalu naik kereta tapi tidak dapat tempat duduk ya silakan ditanggung sendiri.
– Melindungi kehamilan yang berbahaya adalah tanggung jawab pribadi
– Melindungi nyawa dalam kandungan adalah tanggung jawab pribadi
– Pergi lebih pagi atau ke stasiun awal yang mungkin sepi agar dapat tempat duduk
– Berhenti naik kereta ke tempat kerja atau berhenti kerja sekalian
– Pikirkan perasaan & perkirakan kondisi orang yang sudah duduk duluan di bagian prioritas sekalipun (bukan penerima prioritas sekalipun)
– Jangan pernah meminta kursi kepada orang lain di bagian prioritas apalagi dengan membangunkan orang yang tidur
– Pergi di jam yang tidak sibuk
– Karena hamil lalu minta datang minta tempat duduk? Egois namanya.
– Jangan bikin malu orang yang dimintai kursinya. Orang yang dimintai kursi kemungkinan besar akan memberi karena malu dilihatin orang banyak. Pikirkan perasaannya.
– dan seterusnya (tidak lagi ingat & enggan membuka kembali daripada mengungkit emosi hati)

Sewaktu baca pertama kali, saya langsung ingin teriak,”Hellooooooo” dengan o super panjang. Lalu saya istighfar dan berpikir bahwa mungkin karena mereka belum pernah hamil atau mereka laki-laki jadi tidak paham. Namun ketika ada ibu-ibu yang pernah hamil juga “menyerang” dengan berkata itu tanggung jawab pribadi & jangan menyusahkan orang lain, olala…, emosi saya tersulut lagi.

Di bagian akhir halaman pertama untungnya masih ada komentar yang sedikit melegakan dengan bilang bahwa untuk minta kursi mungkin sebaiknya dengan alasan guai ga warui atau tidak enak badan ketimbang memakai alasan kehamilan. Dalam artian, saat minta lebih menekankan bahwa dia merasa lemah secara fisik bukan sekedar menyodorkan fakta perut membesar karena hamil. Ada lagi saran bahwa lebih baik membuat perut tampak “lebih menonjol atau menarik perhatian”, jangan hanya mengandalkan maternity mark yang dipasang di tas. Di Jepang, ibu hamil akan mendapatkan emblem tanda ibu hamil yang bisa digantung di tas sebagai tanda.

20140418-175017.jpg

Memang tidak semua orang Jepang berhati keras dengan tidak memberi tempat duduk bagi ibu hamil. Toh kenyataannya, ada juga yang memberikan kursinya dengan diminta ataupun tidak. Lalu ketika ada yang bilang, orang Jepang pasti memberi kalau diminta kursinya oleh ibu hamil. Silakan baca baik-baik ya. Itu yang komentar mereka orang Jepang semua sebagai cerminan isi hati Mereka jadi bukan dibuat-buat.

Fenomena yang ada di mana-mana
Berdasar dua hal di atas, saya menyimpulkan bahwa masalah tentang kursi bagi ibu hamil di transportasi umum bisa jadi hal dilematis bagi siapa saja, di mana saja. Bukan hanya di Jakarta, tetapi di Jepang & mungkin kota besar dunia lainnya. Yang membedakan adalah bagaimana tanggapan ketika permintaan atas kursi tersebut datang. Kalau di Jepang, orang cenderung akan memberi meski dengan berat hati hingga bahkan grundelan & merutuk dalam hati. Tapi tetap diberikan karena malas menanggung rasa malu dilihatin orang banyak kalau sampai ribut. Di Jakarta mungkin orang bisa milih perang mulut langsung kali ya? 😀

Saat berdiskusi dengan suami tempo hari, kami berpikir hal yang sama bahwa hati orang-orang yang tidak memberi kursi sedang dalam kondisi sekarat atau bahkan mungkin sedang mati. Karena apa? Atas banyak sebab. Barangkali mereka sudah lelah dengan rutinitas super sibuk. Sibuk dari pagi buta hingga malam hari demi mencari sesuap nasi & sebongkah berlian. Barangkali pernah menerima perlakuan keras juga dari lingkungan sekitarnya jadi semacam menganggap wajar berlaku keras juga ke orang lain, termasuk ibu hamil. Barangkali salah
menata hati saja makanya yang keluar emosi duluan ketimbang hati nurani & logika bahwa ibu hamil itu lemah.

Saya sendiri pernah mengalami kok dibantu minta kursi di bagian prioritas oleh orang Jepang. Saya tadinya diam saja, tetapi sang nenek baik hati yang membantu saya, mungkin karena saya terlihat sakit waktu itu. Dapat kursi baik di prioritas ataupun tidak, juga berkali-kali. Saya juga lumayan sering tidak dapat tempat duduk, baik karena di bagian prioritas sudah penuh dengan orang-bukan-prioritas-yang-sok-sibuk-atau-tidur-atau-pura-pura-tidur hingga tidak lihat saya dengan perut gede ataupun karena diserobot bagitu saja oleh orang yang masih muda & tampak sehat (rata-rata laki-laki) meski tahu ada saya yang sedang hamil. Saya sejauh ini diam saja karena percuma saya menegur minta hak saya, hanya akan bikin ribut. Biasanya sih kalau pergi dengan kereta atau bis, berusaha mencari jam yang tidak sibuk. Kalaupun kepepet kena yang jam sibuk atau tipe jalur kereta yang padat, cari gerbong yang sekiranya agak longgar. Kalau di Jepang, biasanya ada satu atau dua gerbong yang seperti itu, misalnya di ujung. Tapi ya memang butuh pengorbanan lebih dengan berjalan agak menjauh hingga ujung peron.

Ibu hamil dalam pandangan Islam
Allah dalam Qur’an surat Al Luqman ayat 14 telah berkata jelas sebagai berikut:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Saya tidak ingin menambahi lagi betapa lemahnya ibu hamil karena Allah sendiri telah menyebutkan. Jadi wajar ibu hamil itu lemah, terlepas dia mengeluh atau tidak tentang hal tersebut. Bagi yang kuat dan menganggap masa kehamilan sebagai jihad, insya Allah pahala baginya. Bagi yang mengungkapkan kelemahannya dan tetap bersabar, insya Allah juga pahala baginya.

Tidak usahlah saya menyebutkan satu persatu kelemahan yang mungkin dialami ibu hamil untuk perdebatan logika. Yang sudah hamil pasti mengiyakan meski dalam diam. Ibu hamil itu tanpa ada badai topan dan geledek menyambar sekalipun, bisa tiba-tiba lemas, susah bernafas, dada panas & sesak, kaki kram, pegel, masuk angin, muntah, mual, tidak nafsu makan, pusing, hilang nafsu makan dan sebagainya. Lalu, apa mesti semua hal tersebut ditampilkan keluar? Tidak. Tapi, kalau kita bijaksana dan adil serta menyimak isi ayat tadi dengan baik, pastinya kita akan bersikap lebih baik. Dalam Islam, sikap kita terhadap yang lemah itu sudah jelas yaitu menolong & melindungi, tanpa diminta sekalipun. Jadi mestinya tidak di kursi prioritas sekalipun, kalau ada ibu hamil kita kasih kursi. Apalagi di bagian prioritas, sudah sangat wajar diberi.

Just my two yen (cents, too extreme haha
Terus bagaimana dong kalau fenomena kayak di tulisan ini tetap ada dan tetap jadi dilema? Pikir baik-baik yuk.

Menurut saya, peran masyarakat sangat penting. Sebagai makhluk sosial tentunya kita saling membutuhkan. Kalau ada yang sekiranya butuh kursi tetapi tidak dikasih, jangan diamkan saja. Do something!. Teriak “Oi, ada yang butuh kursi nih” (lebay mode on kalau ini). Bantu nanyain ke orang lain yang mungkin memberikan kursinya. Masak iya sih dalam satu gerbong beneran tidak ada yang mau, kayaknya tidak deh ya.

Barangkali butuh gerbong khusus prioritas, misal khusus ibu hamil & ibu dengan anak kecil? Tetapi riskan juga kali ya, kalau ada apa-apa dengan kereta itu nanti gimana dong?? Gerbong khusus wanita, kalau menurut pengalaman saya di Jepang, kadang-kadang isinya lebih “tidak manusiawi” ketimbang gerbong biasa. Kadang ada yang lebih sadis & galak ketimbang di gerbong biasa. Mungkin karena sama-sama merasa “khusus” jadi persaingan makin tinggi kali ya. Tidak tahu ya kalau di Indonesia, tetapi semoga tidak demikian.

Ada juga yang menyarankan “berhenti kerja” saja atau ambil cuti hamil. Ada benarnya tetapi mungkin tidak semudah itu terutama bagi yang memang butuh kerja atas alasan ekonomi. Alternatifnya, mungkin perlu kebijakan yang bisa membuat nyaman ibu hamil dalam bekerja misal diijinkan berangkat lebih siang, sekitar 1 jam mungkin. Biar tidak perlu ikut desak-desakan di jam yang padat. Kalau pekerjaan bisa diselesaikan secara online, dengan bekerja dari rumah misalnya.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah pemerintah lebih tanggap dengan menyediakan angkutan umum yang lebih banyak dengan interval yang lebih sering di jam padat sehingga orang-orang bisa cepat terangkut tanpa perlu berdesakan & berebut kursi.

Last but not least, be human. Manusia bukan robot, pastinya punya sisi manusiawi. Kalaupun sedang tidak bisa memberikan kursinya, tinggal bilang baik-baik “Maaf, tetapi saya juga sedang butuh duduk. Barangkali orang lain saja ya Bu.” Lalu tidak usah memaki di media sosial. Kami yang hamil, kadang jadi “pemalas” tapi karena terpaksa kok, bukan menyengajakan diri.

Bagi kita yang pernah hamil, ada baiknya kelak ceritakan kepada anak-anak kita tentang perjuangan selama hamil. Bukan atas pamrih kepada anak kita, tetapi untuk mengajarkannya berempati & bersimpati karena anak kita belum tentu paham lemahnya ibu yang sedang mengandung.

Sekian dulu deh tulisan kali ini. Saya juga tidak lebih baik dari siapapun dalam berpendapat maupun berkomentar. Saya hanya melepaskan uneg-uneg biar tidak eneg.

Advertisements

4 thoughts on “Ibu Hamil & Kursi di Kereta

  1. Suka ini, setujuu : “Bagi kita yang pernah hamil, ada baiknya kelak ceritakan kepada anak-anak kita tentang perjuangan selama hamil. Bukan atas pamrih kepada anak kita, tetapi untuk mengajarkannya berempati & bersimpati karena anak kita belum tentu paham lemahnya ibu yang sedang mengandung.” 🙂

  2. Aku pikir cuma di Indonesia saja yang kayak gini ternyata di Jepang juga. Banyak yang bilang mbak ibu-ibu atau bumil lebih milih gerbong umum di krl soalnya lebih sedikit manusiawi. Ya dengan kejadian ini berharap kita bisa ngecek diri sendiri ya, ternyata masih banyak yang peduli juga.

    1. Hihihi, di mana-mana ada sepertinya Pit. Cuman bentuk munculnya aja yang berbeda. Yang penting kita sendiri tidak kehilangan hati nurani meski sekitar muncul macam ini ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s