『大人って、面倒臭いね。』
(Otona tte mendoukusai ne)

“Orang dewasa itu ribet ya…”

Ya, saya masih ingat betul ucapan polos dengan ekspresi “sok paham” campur “kecewa” ala anak kecil yang saya temui beberapa tahun lalu. Begitulah reaksinya ketika mendengar kami, orang dewasa, tidak bisa melakukan ini itu atau lebih tepatnya tidak mau melakukan ini itu. Ada banyak alasan, karena malu, bukan tempatnya berlaku seperti anak-anak ataupun demi jaga gengsi biar terlihat sebagai orang dewasa.

Saya waktu itu hanya tersenyum nyengir. Sekarang pun saya juga akan tersenyum nyengir. Iya, jadi orang dewasa yang benar-benar dewasa itu bukan hal mudah. Terlalu banyak aturan tidak tertulis yang kadang standarnya berbeda-beda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Belum lagi dibumbui keluwesan yang dituntut untuk hadir dalam setiap interaksi. Berpangkal pada basa-basi yang mungkin tidak perlu lalu berujung pada penyebaran gosip yang belum tentu benar.

Ngomong-ngomong soal gosip atau marilah diperhalus dengan “kabar tentang teman atau kenalan”, saya dari dulu kurang suka mencari tahu kecuali ada kesempatan tanya langsung ke orang yang bersangkutan. Maksudnya, saya males mengorek kabar tentang si A dari si B, si C, si D… Kadang tidak sengaja dengar, tapi berusaha dilupakan. Alhamdulillah ada untungnya juga saya pelupa. Jadi kebanyakan tidak nyantol di kepala :D.

Dalam Islam, ada lho istilah ghibah. Apakah itu ghibah?

“Tahukah kalian apa itu ghibah?”, Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahinya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya (berbuat buhtan).” (HR. Muslim. 4/2001. Dinukil dari Nashihatii lin Nisaa’, hal. 26)

Selengkapnya bisa dibaca di sini. Jadi, mau kabarnya benar sekalipun tetaplah jadi ghibah. Apalagi kalau salah, makin berat tuh, jadinya dusta. Terlepas dari benar atau salah kabarnya, memangnya siapa sih yang suka dijadikan bahan omongan orang lain? Saya sih tidak mau ya… Jadi bagi yang ngomongin tentang saya, saya tidak rela lho :)).

Ini, dari tentang sulitnya orang dewasa kenapa jadi bahas ghibah ya? Haha, rupa-rupanya otaknya memang terlalu acak untuk menulis sesuatu secara runut. Tapi tidak mengapa lah ya, anggap saja masih nyambung. Seri tentang orang dewasa sambung nanti lagi deh, in shaa Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s