Selama beberapa hari terakhir saya sedang terobsesi dengan proyek membuat mainan untuk Nuh. Awalnya sederhana saja, saya punya banyak kardus bekas yang ingin saya manfaatkan. Di waktu yang sama, saya ingin “nambah” mainan yang edukatif untuk anak saya, sebisa mungkin dengan harga murah & tidak mengandalkan merk terkenal. Artinya, mau tidak mau saya harus berusaha membuat ataupun menciptakan sendiri. Klop kan, ada bahan, ada target.

Saya kemudian mencoba membuat sesuatu dari kardus bekas & kertas roll tissue toilet. Berhasil meski hasilnya berantakan. Anak saya suka. Saking sukanya, belum juga proyeknya selesai sepenuhnya, sudah hancur duluan. Maklumlah, anak saya super aktif & gesit. Kardusnya kadang diduduki, kadang dijadikan pijakan, kadang diseret-seret sambil merangkak. Bagian printilan (kecil-kecil) digigit ataupun dikulum. Wajar. Anak sampai umur satu tahun kan kalau tidak salah sedang asyiknya eskplorasi dengan mulut atau disebut fase oral, kalau tidak salah :D.

Oke, saya harus cari ide lain. Tetap belum menyerah, pokoknya harus bikin mainan sendiri. Saat itu, langsung kepikiran mainan dari kain. Coba cari inspirasi di internet, banyak juga mainan dari kain baik yang dijual oleh merk terkenal ataupun hasil buatan sendiri. Semangat makin menyala waktu tahu harga mainan non-plastik, misal dari kain ataupun kayu ringan, kadang harganya lebih mahal dari bahan plastik. Pingin yang kain dengan alasan lebih ringan, aman, mudah dicuci ataupun disimpan.

Sok idealis ya, tidak mau pakai mainan plastik. Sebelumnya, saya juga memberikan mainan plastik kok. Tapi, hasil dari mengamati perkembangan anak saya, lama-lama saya khawatir kalau kebanyakan mainan plastik. Anak saya sangat aktif sementara geraknya masih belum terkontrol dengan bagus. Alhasil, kadang dia berpijak atau berguling di atas mainannya yang dari plastik keras. Belum lagi kadang dia terlalu semangat mengayunkan mainan lalu kena badannya sendiri. Saya kepikiran kalau misalnya mainannya itu dari kain, bukannya akan lebih aman. Setidaknya tidak akan bikin benjol atau memar kalau kena badan dia.

Sayangnya, saya belum bisa jahit pakai mesin. Waduh, gimana dong?! Alhamdulillah teringat tentang kerajinan kain flanel atau kain felt. Akhirnya memutuskan memakai kain felt saja karena kain ini lumayan tebal & kuat sekaligus ulet jadi tidak akan mudah sobek. Selain itu, tusuk jahitan yang dipakai di kain flanel atau felt adalah tusukan sulam atau hias yang tidak perlu tersembunyi di belakang kain agar tampak rapi. Jadi, tusuk jahitan yang dipakai malah justru sengaja ditampakkan agar jadi hiasan atau menambah aksen di kain tersebut.

Yosh! Saya segera berburu kain flanel atau felt di Daiso yang murah. Kebetulan dekat rumah ada dan cukup lengkap. Sebagai awalan, saya beli paket kain flanel yang sudah potongan kecil dengan beragam warna dalam satu plastik. Ada juga yang gulungan lebar per warna. Kalau sudah jelas apa yang akan dibuat dan warna yang dibutuhkan sih, yang model gulungan mungkin tepat. Karena saya baru coba-coba jadi belinya yang kecil warna-warni dulu saja. Benangnya pun ada beragam pilihan warna. Akhirnya juga beli yang banyak warna dalam satu plastik. Toh tidak akan langsung habis banyak untuk masing-masing warna, pikir saya saat itu.

Ngomong-ngomong tentang sulam-menyulam dan kerajinan tangan, sebenarnya ini bukan pertama kalinya buat saya. Alhamdulillah, waktu SMP dapat pelajaran menjahit & menyulam. Kebetulan sampai SMA juga masih suka bikin sesuatu dengan aplikasi sulaman tangan. Makanya saya tidak pakai bingung ketika memilih jarum & benang sulam. Alhamdulillah masih banyak yang nyantol di ingatan jadi tinggal penyegaran kembali saja.

Dari beberapa rencana proyek mainan yang terus memenuhi kepala, mainan yang pertama saya buat justru yang nomor kesekian di list yang saya inginkan :D. Alasannya sederhana, pingin segera mencoba yang jahitannya sederhana dan cepat selesai. Sedangkan mainan yang paling saya inginkan sampai sekarang masih dalam proses penyelesaian. Kebetulan memang mainan the most wanted terdiri dari beberapa printilan yang jlimet alias ribet tahapannya. Itupun masih mengubah sketsa terus-terusan sampai sekarang.

Wah, sudah panjang saja tulisan ini. Sebagai penutup, pingin berbagi gambar hasil proyek mainan yang pertama dan kedua. Jahitannya masih berantakan, tapi lumayan untuk orang yang aslinya tidak bisa menjahit macam saya. Taraaaaa, inilah hasil kreasi Ummu Nuh ^^.

20140530-083047.jpg
Mainan pertama, bola warna-warni yang terdiri dari 12 warna berbeda. Saya asal pilih warna :D. Biar tambah menarik, saya masukkan klintingan alias bel kecil di dalamnya. Jadi ini akan selalu bersuara tiap kali digerakkan.

20140530-083242.jpg
Mainan kedua, kubus atau dadu warna-warni dengan aksen beragam bentuk di bagian tengah tiap dindingnya. Tujuannya agar nanti bisa digunakan juga untuk belajar bentuk dan warna. Lagi-lagi, mainan ini juga bisa bersuara. Alhamdulillah, kedua mainan ini meski dilempar lalu kena badan pun, tidak bikin sakit. Rasanya senang sekali bisa memberikan sesuatu hasil dari tangan saya sendiri untuk anak saya dan anaknya juga suka akan barang itu. Happy mom, happy son ;).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s