Mumpung masih semangat dan ingat, rasanya perlu mencatat perjalanan kelahiran Maryam dan opname hari pertama di rumah sakit. Dulu waktu kelahiran Nuh, selalu tertunda saat mau cerita. Sekarang harus ditulis.

Persalinan kedua bagi saya, rasanya tetap saja seperti pertama. Jujur saja, sempat ada rasa was-was karena khawatir lupa gimana caranya mengatur nafas, mengejang dan mendorong bayi saat persalinan. Persalinan yang pertama dulu, saya sempat ikut kelas persiapan yang mengajarkan lengkap tentang persalinan. Penting ya? Bagi saya sih iya karena dengan tahu tiap tahapan dan cara menghadapinya, saya bisa lebih tenang. Setidaknya, saya tidak perlu teriak-teriak kesakitan :D. Nah, kehamilan kedua ini saya tidak ikut kelas persiapan. Aslinya daftar tapi terus dibatalkan karena repot ajak Nuh juga. Bidannya juga malah bilang,”Ah tapi kalau Isti-san kayaknya tidak perlu. Tahun lalu prosesnya kan bagus dan baik-baik saja.” Baiklah, jadi skip.

Alhasil, saya agak santai kali ini. Bahkan tas perlengkapan opname belum jadi disiapkan meski bidannya sudah mewanti-wanti kalau masuk pekan ke-36 harus siap-siap perlengkapan yang langsung bisa ditenteng untuk opname. Ternyata pas masuk pekan ke-37, saya tiba-tiba mengalami flek yang lumayan. Kebetulan siang hari dan hari kerja jadi suami tidak ada di rumah. Akhirnya pas suami istirahat siang, saya cerita semuanya via telpon. Seperti dugaan, suami saya responnya masih santai saja. Kesimpulan sementara sama, istirahat dulu saja karena siapa tahu hanya karena kecapekan biasa. Makin sore, rasa kencang di perut makin intensif datang dengan jarak yang konstan dan rasa pegal mulai menyerang pinggul maupun punggung bawah.

Dalam kondisi seperti itupun, saya masih tetap berusaha mengurus Nuh sebaik mungkin. Kebetulan Nuh mendadak manja luar biasa, maunya nempel ke saya kalau saya duduk atau tiduran. Kadang dia datang menepuk-nepuk perut saya sambil ngoceh. Tiga hari terakhir, entah kenapa dia juga kalau mau tidur maunya sambil nemplok di pangkuan saya atau setidaknya berbaring di dekat saya.

Sorenya, flek kembali keluar seiring menguatnya rasa sakit tiap kali kontraksi. Akhirnya mengontak suami dan keluarga di Indonesia. Reaksinya beda-beda. Ibu saya menyarankan segera hubungi rumah sakit saja. Suami saya masih tetap sama, istirahat saja dulu karena palingan karena akumulasi kecapekan. Tapi bagi saya rasanya beda, sakitnya justru makin menguat sedangkan kalau hanya kecapekan harusnya cukup dengan berbaring lalu kontraksi akan hilang. Saat kondisi seperti itu, Nuh justru makin manja hingga sempat yang minta gendong segala macam. Saking bingungnya melihat polah Nuh juga, saya sampai bilang ke suami,”Kayaknya lahir deh ini ntar malam.”

Petang hari, munculnya kontraksi makin sering. Saat siang, kontraksi muncul tiap 20 menit dan hanya sebatas perut mengencang selama beberapa detik. Namun petang itu, kontraksi makin rapat dengan interval sepuluh menit lalu tiap delapan menit sekali. Tidak hanya perut mengencang, tapi juga rasa mulas dan pegal yang makin menguat. Akhirnya benar-benar minta suami pulang secepatnya. Nuh masih tetap sibuk bermain sambil mengoceh macam-macam dan lagi-lagi menepuk-nepuk perut saya.

Saat suami pulang, dia masih belum sepenuhnya percaya bahwa saya menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Dia masih berusaha memijit saya karena berharap ini hanya kecapekan. Akhirnya saat kontraksi terasa, saya minta dia memegang sendiri perut saya dan saya minta lihat catatan waktu. Alhamdulillah, suami responnya berubah dan segera menelpon rumah sakit untuk konsultasi. Berharapnya masih akan dijawab dengan anjuran istirahat dulu di rumah. Ternyata malah disuruh datang langsung ke rumah sakit. Yang bikin geli malam itu, bidan yang jaga adalah bidan yang saya kenal baik karena dia penanggung jawab saat kelahiran Nuh. Kebetulan suami juga tahu dan kenal suaranya. Makanya seusai telpon, kami ketawa ngakak bersama karena sama-sama berpikir “Kok bisa?!”, padahal ada banyak sekali bidan di rumah sakit yang kami tidak kenal.

Dalam satu jam, saya berusaha menyiapkan tas untuk opname dan barang-barang Nuh. Sementara suami membuat makan malam sendiri sambil sesekali menyuruh saya berbaring saja. Kontraksi makin sering dan sakitnya makin lama juga. Suami sampai harus mengulang berkali-kali supaya saya berbaring saja. Tapi menurut perkiraan saya, kalaupun sudah pembukaan, ini baru 3-4 cm jadi bayinya belum bakal langsung keluar kalau saya gerak sana-sini. Yang terpikir saat itu adalah Nuh harus dititip ke siapa. Alhamdulillah, teman Indonesia yang rumahnya tidak jauh dari kami bersedia dititipi. Sekitar jelang jam sepuluh malam kami selesai siap-siap dan segera ke rumah sakit sambil mampir menitipkan Nuh.

Sesampainya di rumah sakit, saya masih bisa jalan ngebut sendiri, masih ngajakin bercanda dan ketawa-ketawa bareng suami. Suami memang pada aslinya model nyantai, jadi ya sudahlah kami malah tidak berhenti ngobrol macam-macam. Sampai di ruang bersalin dan diperiksa ternyata benar saya sudah pembukaan sekitar 3 cm. Dari pembukaan 3 cm ke 10 cm atau puncak untuk melahirkan, jaraknya bisa berjam-jam tergantung masing-masing orang. Namun, kata bidan membran pelapis ketuban sudah terasa tipis jadi sepertinya kontraksi saya akan makin menguat dan sering alias prosesnya akan lebih cepat dari kebanyakan.

Suami tidak langsung diizinkan masuk menemani tadinya. Sepertinya bidannya lupa karena sibuk mengurusi dua pasien sekaligus yang semuanya akan melahirkan. Setelah saya minta, dia baru ingat suami bisa masuk. Alhamdulillah, suami bisa ikut menemani saya meski beberapa kali diminta keluar karena saya harus diperiksa. Sayangnya, saat melahirkan justru suami tidak boleh menemani. Suami sampai berusaha meminta izin lagi tetapi tetap ditolak.

Ternyata benar bahwa kontraksi saya makin kuat dan dekat. Sekitar jam 12 malam, pembukaan sudah sekitar 8-9 cm saat kontraksi atau sekitar 5-7 cm saat normal. Para bidan langsung mempertimbangkan untuk memanggil dokter. Suami sudah mulai “diusir” berkali-kali dari ruangan karena saya harus diperiksa tiap beberapa menit sekali. Sebelum jam 1 dokternya datang tapi masih sebatas pengecekan ringan dan bolak-balik pergi. Sekitar jam setengah dua, sakitnya makin terasa terutama di bagian pantat. Para bidan terus menyemangati untuk sabar dan jangan mengejan dulu. Sambil menyiapkan berbagai peralatan, mereka bolak-balik mengingatkan untuk tetap mengatur nafas dan rileks. Ternyata benar, dalam setengah jam itu, proses puncak melahirkan benar-benar berlangsung. Sekitar jam dua dini hari, Alhamdulillah bayi mungil saya pun lahir.

Subhanallahi walhamdulillah. Prosesnya ternyata sama cepatnya dengan kelahiran Nuh dulu. Para bidan juga sempat kaget dan berunding dadakan untuk memanggil dokter lebih cepat dari perkiraan mereka. Untungnya bidan yang bertanggung jawab malam itu hafal dengan saya dan riwayat kelahiran sebelumnya jadi responnya tidak terlalu kaget karena Nuh dulu juga lahir dalam waktu relatif singkat untuk anak pertama.

Dalam catatan di buku ibu-anak (boshi techo) ditulis bahwa proses melahirkan Maryam adalah 6 jam 41 menit. Itu dihitung dari kontraksi yang jaraknya di bawah 10 menit sekali yaitu sekitar pukul 7 malam. Alhamdulillah, harapan agar prosesnya cepat kembali terkabul.

Proses kelahiran Maryam agak berbeda dengan Nuh dulu. Kali ini rasanya lebih enteng. Kalau Nuh dulu sakit saat kontraksi rasanya lebih kuat. Gerakan Nuh juga lumayan kuat saat itu. Bahkan saat puncaknya pun, saya hampir tidak kuat mendorong dia keluar hingga harus dibantu dengan selang oksigen untuk pernafasan, sementara dia seperti masih betah saja di dalam meski separuh kepalanya sudah nongol. Padahal dia harus segera dikeluarkan agar tidak bermasalah dengan pernafasannya. Hebatnya detak jantung Nuh saat itu masih tetap kuat meski kondisinya terhitung darurat. Hampir semua bidan saat itu turun tangan. Kalau tidak salah ingat sampai ada empat orang bidan selain bidan utama dan dokter. Plus bidan magang dan dokter magang yang ikut observasi. Kelahiran Nuh rasanya rame dan sibuk sekali.

Kelahiran Maryam lebih tenang. Sakit sih tetap ada. Tangan suami sampai merah karena membantu saya menahan sakit sih tetap iya. Bedanya, saat puncaknya, saya tidak perlu sampai banyak mengejang. Tidak perlu mengeluarkan tenaga sampai habis-habisan ataupun pakai selang oksigen untuk pernafasan. Bahkan saya sendiri kaget ketika dibilang bahwa bayinya sudah keluar. Jadi saya setengah kaget melihat Maryam diangkat di hadapan saya. Jari-jari mungilnya mau menggenggam jari saya saat disentuhkan ke saya. Rasanya luar biasa. Malam itu total hanya dua bidan dan satu dokter yang bertugas. Benar-benar kontras dengan kelahiran Nuh dulu. Suami bahkan sempat hampir kelewatan momentum kelahiran Maryam karena saat menunggu di depan ruang bersalin, dia sangat ngantuk dan setengah tertidur. Tahu-tahu ada suara tangisan bayi yang dia kira dari ruang bayi. Padahal itu suara Maryam. Suami lumayan kaget karena tadinya tidak dengar suara apapun. Saya memang tidak mengeluarkan suara apalagi teriak-teriak kesakitan. Makanya suami agak heran bagaimana saya bisa tetap tenang. Padahal, di ruang sebelah tidak lama setelah saya melahirkan, ada juga yang melahirkan dan dia terus-terusan teriak kencang sekali sampai suami kaget. Komentar suami,”Jangan-jangan memang orang melahirkan normalnya teriak sakit kayak gitu ya? Kok kamu tadi ga ada suaranya?”. Saya cuman nyengir lebar dan bilang tidak tahu jawabannya. Wallahu’alam, mungkin Allah memang meringankan rasa sakit saya atau menambahkan kesabaran pada saya untuk menghadapi rasa sakit yang mungkin sebenarnya sama levelnya dengan orang yang berteriak-teriak tadi. Apapun itu, Alhamdulillah saya bisa bertahan hingga akhir proses.

Kelahiran Maryam memang jauh dari dugaan. Pertama, kehamilan saya baru berumur 37 pekan atau dengan kata lain maju 3 pekan dari perkiraan lahir. Di rumah sakit tempat saya periksa, 37 pekan dianggap sudah usia layak lahir jadi tidak diperlakukan sebagai bayi prematur. Kedua, mertua baru akan datang pekan depan. Awalnya, suami mengajak minta bantuan keluarga di Indonesia terutama untuk membantu menjaga Nuh. Ternyata semua beda jauh dari rencana. Kami harus menghadapi ini bertiga saja. Alhamdulillah, ada teman yang bisa dititipi Nuh dan Nuh tidak rewel meski harus dititipkan. Ketiga, kami kembali memilih rumah sakit yang sama dengan sebelumnya meski di sini suami tidak bisa menemani saat puncak proses kelahiran, ibu dan bayi rawat terpisah, bayi dan anak-anak tidak boleh ikut besuk ke ruang pasien. Sebenarnya kami pernah survei beberapa klinik bersalin yang bisa mengakomodir semua kekurangan di rumah sakit ini. Sayangnya, seluruh klinik bersalin itu dokternya laki-laki. Sementara kami tidak sreg dengan dokter laki-laki. Akhirnya lebih memberatkan untuk mencari tempat yang bisa minta dokter perempuan. Alhamdulillah, saat melahirkan pun kok ya kepasan yang jaga adalah dokter perempuan, kepala bagian juga malahan. Padahal tadinya sudah pasrah kalaupun kepasan yang jaga dokter laki-laki. Yang lebih bikin senang, bidan yang memeriksa awal dan bidan yang bertanggung jawab saat kelahiran, dua-duanya kenal baik dengan saya. Jadi rasanya lebih santai dan tenang. Keempat, Maryam beratnya hanya 2,4 kg tetapi dia sehat dan normal jadi tidak diperlakukan seperti bayi prematur.

Alhamdulillah ‘alaa kulli hal. Meski banyak hal di luar rencana kami tetapi semua bisa terlewati dengan baik. Sejauh ini, kami masih bisa banyak tertawa dan selalu bersyukur atas apa yang terjadi. Inilah bukti bahwa Allah SWT Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Qodarullah kami harus menghadapi kelahiran anak kedua tanpa bantuan keluarga dekat kami. Namun, sekali lagi Alhamdulillah kami tetap bisa melewatinya. Memang benar bahwa Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan makhluk-Nya.

20140807-054904-20944139.jpg

Advertisements

One thought on “Kelahiran Maryam di Luar Perkiraan (Hari Pertama)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s