Hari ke-2 di rumah sakit berlalu dengan sedikit rasa haru dan sempat sedih. Bukan terkena sindrom baby blues, tapi sedih karena dihadapkan pada kenyataan bahwa rumah sakit ini tidak terlalu pro-ASI meski sebenarnya di antara bidan-bidannya banyak sekali yang pro-ASI. Sistem manajemen rumah sakitnya yang luar biasa ketat memutuskan bahwa ibu pasca melahirkan harus istirahat jadi susu formula akan diberikan untuk bayinya sebagai ganti agar ibunya tidak perlu berulang kali bangun di malam hari. Saya tidak ingin terlalu membahas bagian ini karena toh pada akhirnya saya tetap memilih rumah sakit ini meski tahu kebijakan tersebut. Rumah sakit ini dipilih karena di antara klinik dan rumah sakit bersalin lainnya, mudharatnya paling kecil.

Saya lebih tertarik untuk berbagi cerita tentang pengalaman menyusui di ruang menyusui bersama. Kami semua rawat terpisah dengan bayi jadi untuk menyusui kami harus ke ruang khusus. Mau tidak mau akan bertemu ibu-ibu lainnya. (Tidak perlu ditanyakan kenapa kami memilih rumah sakit yang rawat terpisah, bukan gabung. Situasi dan kondisi kami dihadapkan pada pilihan yang terbatas yang mengerucutkan keputusan kami pada rumah sakit ini sebagai pilihan, dengan berbagai pertimbangan melalui survei dan diskusi panjang. Alasannya, biarlah kami dan Allah yang tahu). Rata-rata kami melahirkan dalam waktu berdekatan. Paling jauh beda sehari saja.

Ada satu ibu muda yang melahirkan anak pertamanya sehari lebih dulu dari saya. Awalnya dia terlihat sangat percaya diri (sedikit over sih menurut pendapat pribadi saya) dan agak mengintimidasi ibu-ibu lainnya. Saya kira ASI-nya sudah lancar jaya keluarnya makanya mungkin dia bersikap seperti itu. Ternyata, belum dan baru masuk masa-masa payudara mengencang sebagai tanda produksi ASI benar-benar digenjot secara produktif. Masa ini biasanya ditandai dengan payudara mengencang, keras, dan sakit luar biasa kalau tidak segera disusukan ke bayi.

Singkat cerita, si ibu muda tadi tampaknya merasa kesakitan saat menyusui bayinya hingga bilang ke bidan kalau ingin memberikan susu formula saja. Dia merasa saat bayinya menyusu, payudaranya sakit dan rasanya tidak ada yang keluar. Untung, bidannya kepasan yang senior dan dengan telaten mengarahkan dia untuk tidak langsung menyerah. Bidan tadi lalu membantunya memerah ASI untuk diberikan ke bayi. Si ibu muda sepertinya salah ekspektasi, mungkin dia pikir dengan diperah sakitnya akan hilang. Ternyata dia menangis saat bidan menyuruhnya memerah dan menekan bagian-bagian yang tampaknya tersumbat dan mengeras. Nyaris dia menyerah lagi sambil sesenggukan merintih kesakitan.

Ya Allah, betapa pemurahnya Engkau dengan membuatk mau barsabar atas proses ini. Saya paham apa yang dirasakan oleh ibu muda tadi. Sakitnya memang bisa jadi beban bagi mereka yang tidak tahan. Makanya tidak heran jika kadang mendengar ada cerita tentang ibu yang enggan menyusui anaknya karena risih ataupun sakit saat anaknya menyusu. Semua tidak datang dengan sendirinya, memang butuh perjuangan. Siapa bilang dengan lahirnya anak maka otomatis akan langsung bisa keluar ASI dan menyusui dengan sempurna? Ibu dan bayi sama-sama butuh waktu untuk saling terbiasa, sama-sama melewati masa berjuang dan adaptasi terus-menerus. Sakit itu pasti ada. ASI tidak langsung keluar lancar itu juga banyak terjadi. Bayi susah menyusu karena puting yang dianggap pendek, juga sering jadi masalah. Namun, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Itulah pentingnya belajar laktasi yang benar. Mulut bayi tidak akan serta merta menempel dan menyusu dengan pintar begitu saja. Ada cara tertentu, tips, trik agar bayi menyusun dengan optimal.

Saya bersyukur persalinan saya yang pertama terjadi di Jepang. Meski harus rawat inap selama enam hari padahal persalinan secara normal dan semua sehat-sehat saja, tetapi mereka punya prosedur standar yang menitikberatkan agar ibu bisa istirahat pasca melahirkan. Selama rawat inap, kami juga diajari berbagai macam hal seperti laktasi yang benar, pola makan agar ASI lancar, cara merawat bayi sehari-hari, dan sebagainya. Intinya, kami diminta rawat inap karena sekaligus diberi berbagai pengetahuan dasar agar siap mengurus bayi sendiri sepulang dari rumah sakit. Makanya, saya cukup terharu menyaksikan sendiri kejadian kemarin.

Dukungan dari orang di sekitar untuk ibu hamil dan ibu menyusui itu perlu dan penting. Bersyukur kami masih di sini di awal masa transisi ini karena kalaupun pulang ke tengah keluarga, belum tentu semua keluarga paham tengang laktasi yang benar dan keutamaan ASI eksklusif. Belum lagi tambahan beragam mitos tentang perawatan bayi. Bisa jadi ibu yang masih miskin pengalaman justru tambah bingung kalau dihadapkan pada situasi semacam itu. Karena sakit harus dihadapi bisa justru menggiring sang ibu untuk menyerah pada susu formula. Padahal masa sakit itu hanya sebentar. Saya tentu saja tidak akan menyalahkan ibu yang memberikan susu formula kepada bayinya karena alasan medis. Toh bayi saya yang besar juga harus kena susu formula saat saya hamil tua.

Raga perempuan memang tercipta dengan kelebihan bisa melahirkan dan menyusui. Payudara dan hormon pendukungnya juga sudah dirancang agar ASI segera siap saat bayi dilahirkan. Namun sekali lagi, semua tidak otomatis. Tetap butuh usaha untuk mengoptimalkan semua fungsi raga kita. Ibaratnya, sepasang mur dan baut, tidak akan bisa mengunci dengan kuat kalau tidak kita padukan dengan pas dan kita putar hingga terkunci rapat.

Semangat untuk ibu-ibu yang sama-sama sedang berjuang menyusui di luar sana. Semangat untuk calon ibu-ibu yang sedang deg-degan menanti kelahiran. Ilmu pengetahuan itu penting dan persiapan menjelang kelahiran itu juga perlu. Semoga kita selalu diberi kesabaran dan terhindar dari godaan mitos yang menyesatkan :D. Wallahu’alam bisshowab.

Ichihara, 8 Agustus 2014

20140808-093338-34418499.jpg

20140808-093337-34417544.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s