Cerita hari-3 rawat inap saya & Maryam akan saya dedikasikan untuk dua lelaki hebat saya saat ini, Abu Nuh & Nuh. Bertepatan dengan hari ke-3 adalah hari Jum’at di mana suami saya harus ke Nishi Chiba untuk sholat Jum’at. Sementara itu, ada urusan terkait laporan kelahiran Maryam di kantor pemerintah kota yang belum selesai. Oleh sebab itu suami berencana berangkat agak pagi agar selesai semuanya tanpa terburu-buru.

Ternyata, pagi itu lagi-lagi dia terlambat bangun dan akhirnya berangkat agak kesiangan dibanding rencana awal. Saya tidak terlalu kaget karena suami saya memang kalau sudah tidur karena capek, susah bangun sendiri maupun dibangunkan. Yang lebih saya khawatirkan adalah kondisi anak saya. Kalau kami berencana bepergian, biasanya saya yang menyiapkan hampir semua hal terutama untuk Nuh. Suami saya tinggal angkut barang-barang ke mobil karena sesuai kesepakatan dan janjinya sendiri, saya tidak diperbolehkan bawa barang kalau bepergian dengannya. Nah, kali ini saya tidak meninggalkan daftar kebutuhan Nuh kalau diajak pergi. Kadang saya kirim pesan jangan lupa ini itu, tetapi tetap saja ada yang kelupaan terutama sepatu. Haha, sepertinya suami saya masih belum sepenuhnya ngeh kalau anaknya sudah lancar jalan dan sewaktu-waktu bakal minta turun dari gendongan.

Tentang makan, saya tidak terlalu khawatir meski rada sedih juga tidak sempat menyiapkan stok makanan buatan saya di freezer. Qodarullah, kelahiran Maryam jauh lebih cepat dari perkiraan jadi semua rencana kami dapat dibilang berantakan dan berubah total. Namun, sekali lagi Alhamdulillah ‘alaa kulli hal, Allah lebih tahu dan berkuasa atas segala kejadian. Alhamdulillah, Nuh sudah setahun jadi sudah bisa ikut makan menu yang sama dengan kami (belum keseluruhan makanan lah tentunya). Kebetulan lagi, ternyata dia doyan banget disuapi onigiri bareng kami. Jadi selama ikut suami pergi ke berbagai tempat, dia bisa makan bareng onigiri bareng suami saya. Sabar ya Nak, nanti sepulang dari rumah sakit, Ummi masak khusus buat kamu lagi.

Yang bikin saya terharu, seusai sholat Jum’at suami saya masih berusaha ke kantor imigrasi untuk mengurus visa Maryam. Saya sempat khawatir waktunya tidak cukup jika harus mengantri lama tapi karena lokasinya searah jalan pulang, jadi sekalian saja disempatkan mampir. Ternyata benar, antrian cukup banyak sementara pergerakan nomor antrian sangat lambat. Padahal sorenya, kami ada janji untuk makan bersama di restoran yang ada di rumah sakit. Alhamdulillah, kami dapat tiket makan gratis sebagai ucapan selamat atas kelahiran anak kami. Setelah saya ingatkan, suami saya baru sadar bahwa kemungkinan besar dia tidak akan tepat waktu datang ke rumah sakit jika nekat berusaha tetap mengantri. Akhirnya dia memutuskan pulang. Ya Allah…, kasihan suami dan anak saya, sudah capek mengisi macam-macam dan mengantri tapi akhirnya terpaksa pulang di tengah jalan.

Saya terharu membayangkan suami saya berusaha menyelesaikan beragam hal seefektif mungkin hari itu. Saya tahu dia berusaha keras untuk tidak telat seharian itu karena dia tahu saya paling tidak suka menunggu orang telat. Padahal dia harus mengurus Nuh juga yang biasanya kalau bepergian, bekalnya paling banyak dan makan tempat. Alhamdulillah, di mata saya suami saya berhasil mencuri poin keberhasilan. Dapat dibilang saya kian hari kian percaya bahwa dia bisa diandalkan untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas kondisi kami, istri dan anak-anaknya.

Lelaki mungil saya yang akhir-akhir ini liurnya sudah mulai berkurang juga sangat kooperatif. Alhamdulillah dia tidak rewel dan kompak diajak bepergian ke banyak tempat hari itu. Paginya juga sempat saya telpon dan dia menyahut dengan gaya seperti layaknya orang dialog. Cepat sekali waktu berjalan, ya Nak. Rasanya baru kemarin kamu masih dalam gendongan dan hanya bisa menangis. Kini kamu sudah bisa menyapa dan menjawab di telepon meski masih sekenanya.

Kelahiran Maryam yang di luar perkiraan ini memang memberikan banyak hikmah dan pelajaran untuk kami. Saya dulu pernah bertanya-tanya, seandainya saya harus melahirkan tanpa bantuan keluarga apakah keluarga kecil kami sanggup? Allah Maha Mengetahui dan Maha Pemurah. Allah menunjukkan bahwa kami mampu untuk melewati semua ini meski dengan segala kekurangan di sana-sini. Alhamdulillah, saya merasa kami bertiga, eh berempat sekarang, kompak dan tetap bisa saling dukung meski terpisah tempat. Saya tidak akan habis berterima kasih dan bersyukur kepada Allah jika teringat malam di mana kami harus ke rumah sakit. Suami saya sangat sabar dan telaten menemani dan mendukung saya. Dia tidak lelah meladeni permintaan saya meski harus menahan letih dan kantuk karena seharian kerja dan langsung harus mengantar saya ke rumah sakit. Allah yang menguatkan, Allah yang memberi jalan dan kemudahan. Manusia tiada daya tapi manusia bisa meminta kepada Rabb-nya. Mintalah dan Dia akan memberi yang terbaik untuk kita. Sudah terbukti berkali-kali dalam hidup saya. Salah satunya, suami saya yang sangat cocok dengan harapan-harapan yang pernah terbersit dalam hati dan do’a jauh sebelum bertemu dengannya. Kecocokan-kecocokan yang membuat kami selalu tertawa sekaligus bersyukur atas kasih sayang Allah kepada kami berdua. Semoga segala kejadian ini menguatkan ikatan kami dan menjadikan kami lebih banyak bersyukur dan mendekat kepada Allah.

20140809-124614-45974363.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s