Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang rawat inap kami di hari ke-4 kecuali dua kejadian di ruang menyusui. Pertama, tentang Maryam. Seperti biasa, saya suka memotret Maryam saat tidur ataupun terjaga. Kebetulan kami butuh foto Maryam untuk pengajuan permohonan paspor anak ke KBRI. Jadi ini kesempatan bagus karena alas tidur Maryam di rumah sakit sesuai persyaratan. Dari beberapa hasi jepretan, saya amati bahwa saya merasa pernah melihat pose maupun ekspresi-eskpresi serupa. Saya buka album lama dengan beberapa foto yang masih tertinggal di handphone saya. Yup, benar sekali. Ada pose dan ekspresi Maryam yang sangat mirip Nuh. Ketika saya bandingkan dan kirimkan ke suami, suami tidak kaget tentunya karena sedari awal kami sudah menyimpulkan Maryam mirip Nuh.

Lebih lucu lagi, polah dan kebiasaan Maryam sedikit banyak mirip Nuh juga. Saya amati, Maryam sangat tidak nyaman kalau popoknya kotor dan akan menangis sejadi-jadinya. Menangisnya lebih keras dibanding menangis karena lapar. Nuh dulu juga begitu. Maryam juga menunjukkan gejala-gejala “my pace” seperti Nuh. Awalnya tampak minta disusui tetapi baru saja mulai menyusu, langsung tertidur. Giliran ditaruh di atas bantal, lansung buka mata dan mulai mewek. Suami cuma komentar,”Selamat. Nuh versi cewek.”

Cerita berikutnya tentang sesama pasien yang mengalami kegalauan karena ASI-nya tidak kunjung keluar lancar sementara bayinya tidak pernah terlihat cukup dengan jatah susu formula yang terpaksa diberikan. Akhirnya semalam dia menangis ketika harus dipijat oleh bidan untuk menstimulasi keluarnya ASI. Pasien yang ini, melahirkan hampir bersamaan dengan saya. Kadang, kami duduk sebelahan saat menyusui. Dari pengamatan tanpa sengaja, bayinya awalnya cukup tenang tetapi karena saat menyusui tampaknya posisi tidak pas dan sebagainya, si bayi jadi lumayan uring-uringan. Akibatnya, bayi tadi jadi mudah rewel dan selalu menangis kencang meski digendong ibunya. Sementara itu, ibunya tampaknya belum menemukan cara untuk menenangkannya ataupun memahami bahasa tubuh ataupun kebutuhan bayinya.

Rasanya ikut sedih saat melihat bayinya sampai meronta-ronta dan menangis sekuat tenaga. Semalam, ibunya akhirnya minta bantuan bidan tentang cara memerah ASI karena ternyata putingnya luka dan sakit saat bayinya menyusu. Ibu tadi sampai menangis saat dipijat agar ASI keluar. Saya dan satu pasien menyemangati agar tetap bertahan meski sakit. Kami juga pernah merasakan sakit yang serupa. Sementara bidannya malah sempat melontarkan komentar,”Tidak usah memaksakan diri. Kalau memang sakit, kasih sufor dulu saja. Sembuhkan dulu lukanya.” Saya bengong, antara sepakat dan tidak sepakat. Saya sepakat bahwa setidaknya luka di payudara harus sembuh tapi tidak serta merta menyerah pada sufor. Bukannya makin ditahan atau tidak disusukan, payudara justru makin sakit? Kalau saya sih rasanya gitu. Saat ASI mulai benar-benar berproduksi, rasanya sakit dan bahkan tahun lalu sempat agak demam. Rasanya lebih enteng kalau disusukan. Masalahnya si ibu pasien lain ini, saya lihat kurang berusaha baik mengobati lukanya ataupun mencoba memerah ASInya. Bingung saya menjelaskan kondisinya, tetapi ya begitulah kurang lebihnya.

Singkat cerita, dari kejadian malam itu, saya justru lebih tertarik mengomentari bahwa konsep gaman suru itu berbeda dengan sabar yang diajarkan dalam Islam. Untuk kejadian semacam ini tadi, kalau muslim Insya Allah akan bilang, “Bersabarlah.” Namun untuk orang Jepang, ternyata tidak bisa serta merta bilang gaman suru. Susah juga membandingkannya, tetapi di mata saya gaman suru itu lebih seperti mampu menahan beban. Sedangkan sabar kan tidak hanya menahan diri tetapi juga menerima apapun yang terjadi tanpa banyak protes, dengan tetap taat perintah Allah dan menjauhi larangannya. Jadi, bagi orang Jepang perjuangan melawan sakit demi ASI tadi lebih tepat dikasih kata ganbaru atau berusaha bukan bersabar. Bingung kan? Saya juga hahaha… Pas cerita ke suami tentang pendapat saya, dia cuma bilang, “Benar”, tanpa penjelasan tambahan.

Rawat inap kali ini benar-benar memberi banyak pelajaran bagi saya. Tahun lalu saat Nuh lahir, saya sendirian sepanjang masa rawat inap. Tidak ada ibu lain yang melahirkan hingga Nuh sendirian di ruang bayi. Kali ini, total ada delapan bayi jadi suasana ramai dan sibuk setiap hari. Ibu-ibu yang bertemu di ruang menyusui pun “warna-warni” karakter dan usianya. Ada yang masih muda belia, naif dan periang. Ada yang kalem, agak mudah bingung, tetapi enggan bertanya. Ada yang sudah pernah punya anak tetapi pendiam dan jarang ngobrol dengan yang lain. Ada yang super percaya diri tetapi ternyata banyak hal yang dia juga bingung dan tidak tahu. Ada juga yang cerewet dan selalu dilewati oleh perawat tiap mereka kasih penjelasan karena dia dianggap sudah expert, tanpa masalah tentang bayinya (Ngacung sambil lompat-lompat, biar kelihatan ama bidan-bidan. Padahal saya juga butuh perhatian. Halah! Tahun lalu dikasih pelajaran privat selama rawat inap sih, makanya tahun ini banyak diskip ). Terlepas dari beragamnya karakter kami, ada satu yang saya merasa terpisah jauh dari mereka. Saya sangat sering mencium dan mengajak bicara bayi saya, sedangkan ibu-ibu Jepang ini hampir seluruhnya tidak pernah melakukan hal ini. Bahkan saat mereka akan berpisah dengan bayinya, ya hanya ditaruh di bed lalu pergi. Saya kok tidak tega kalau suruh berlaku seperti itu. Kalau bisa malahan ingin berlama-lama dengan bayi saya, kasih pelukan dan ciuman sebanyak-banyaknya. Ah, beda budaya emang beda kebiasaan ya tampaknya.

20140810-090039-32439134.jpg

20140810-090046-32446857.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s