Kali ini mau cerita sedikit ah tentang salah satu persiapan back for good. Salah satu yang penting adalah mengirim barang-barang ke Indonesia. Berhubung saya dan suami terhitung sudah cukup lama di Jepang, barang-barang lumayan banyak. Apalagi kan ibaratnya ini seperti isi dua apato digabungin. 

Pertama yang kami lakukan adalah mencari info tentang pengiriman barang. Yang terpikir saat itu adalah jasa pengiriman barang dengan kontainer milik Pak Ruswan. Dalam setahun hanya ada dua kali pengiriman di bulan April/Mei dan  September/Oktober, sementara kami berencana meninggalkan Jepang sekitar bulan Juli. Akhirnya, dengen beberapa pertimbangan kami milih daftar yang bulan April saja. Sekitar Desember kami daftar lalu Januari dapat pembagian kelompok. Bulan Februari kami diminta mengirimkan daftar barang yang akan dikirim dalam bentuk fix atau dengan kata lain nanti pas kirim beneran, isinya seperti daftar itu persis. Akhir bulan Maret, pengiriman barang-barang kami ke gudang di pelabuhan Yokohama. 

Oya, salah satu alasan kami memilihi jasa pengiriman milik Pak Ruswan adalah ini jauh lebih murah daripada pengiriman via pos pastinya. Jasa pelayanannya juga sudah terpercaya bertahun-tahun. Ada juga sih jasa pengiriman barang pindahan semacam Mitsui Soko (padahal teman kuliah saya pensiunan dari sana dan pernah cerita bagaimana mereka jaga kualitas kerjanya) tapi rasanya bakal tidak bersahabat dengan budget kami. Lagipula kami masih akan ada di Jepang saat pengiriman barang, artinya kami tidak terburu-buru dan bisa mempersiapkan sendiri. Itulah rencana awalnya.

Kenyataannya, Alhamdulillah delapan puluh persen sesuai rencana. Bulan Februari masih bisa mengirimkan daftar barang yang akan dibawa dengan simulasi yang hanya sebagian saja. Selebihnya, berdasarkan perkiraan saja. Ngaco ya? Yes, indeed! 

   

 

Sebagian barang yang dikemas dari awal.   

Kami kirim sekitar 1,5 kubik padahal status kami tidak bisa jadi anggota karena masih akan ada di Jepang saat barang diproses. Akhirnya Pak Ruswan menjadikan sebagai penitip dalam dua kelompok. Awalnya sih barang akan dikirim ke dua alamat jadi dipisah sekalian di dua kelompok. Namun qodarullah ujung-ujungnya dikirim ke satu alamat saja. Tapi karena harus sesuai daftar yang sudah diserahkan sebelumnya, jadi meski jadi alamat pun kami tetap mengelompokkan barang sesuai rencana awal. Ribet kan? (Tarik nafas panjang, kipas-kipas… Rasanya sekarang pun kalau ingat, saya masih suka kebayang ngos-ngosannya).

Sesuai kesepakatan dengan dua kelompok, barang-barang kami dikirim tanggal 26 Maret (Kamis), pas hari kerja biasa. Jadi suami bakal ambil cuti biar bisa mengantar barang-barang ke gudang Yokohama. Awal Maret sudah mulai menyicil pengepakan barang. Namun, karena ini “barangnya dua orang” yang dijadiin satu jadi kadang harus saling cocokan data beneran ini atau bukan yang bakal dikirim, terutama yang berupa dokumen atau buku. Beberapa barang juga masih dipakai jadi bakal dikemas mepet-mepet pengiriman. Ditambah lagi, kalau pas hari kerja saya harus berusaha mengemas sendiri sedangkang ada dua bayi yang kadang tidak selalu kooperatif. Kesempatan tinggal akhir pekan untuk bisa kerja bareng-bareng tapi itu pun tidak setiap pekan bisa. 

Qodarullah, sepekan menjelang pengiriman barang masih belum siap, belum ada separuh yang terkemasi. Bahkan di akhir pekan terakhir sebelum pengiriman, tadinya mau habis-habisan fokus mengemasi barang, terutama hari Sabtunya. Qodarullah, bayi M tiba-tiba demam tinggi. Ahadnya saya harusnya jadi penanggung jawab makan siang untuk pengajian tapi terpaksa tidak bisa datang karena panas bayi M masih naik turun. Alhamdulillah hari Senin dia sudah lumayan mendingan, bisa disambi ngebut mengepak barang. Namun karena Senin-Selasa sendirian dengan kondisi bayi agak rewel, se-ngebut-ngebut-nya pun tidak bisa selesai tepat waktu sesuai rencana. Itupun sudah dibelain mengurangi jam tidur, makan sambil mengerjakan sesuatu, dan kadang-kadang sambil gendong bayi.

Secara ringkas yang harus kami lakukan adalah:

  • Menyiapkan kardus dengan ditulisi nonor kode sesuai daftar. Kami pakai kardus bekas, jadi ukurannya beragam. Anggaplah kami pelit buat beli kardus baru, tapi kalau memang sudah punya beberapa kardus amazon yang kuat-kuat, kenapa kudu beli baru? Apalagi beberapa barang tetap perlu kardus “rakitan” jadi kardus bekas adalah pilihan terbaik bagu kami. 
  • Melapisi bagian dalam kardus dengan plastik.
  • Memasukkan barang ke dalam kardus dan menutup rapat plastiknya.
  • Menutup kardus dengan lakban
  • Membungkus kardus  dengan terpal. Kalau kardusnya harus digabung, harus dilakban dulu sebelum dibungkus. Kami pakai terpal ukuran 3,5 x 5 m, jadi harus potong kecil-kecil sesuai kebutuhan. Jadi harus ukur lebar kardusnya juga terlebih dahulu. 
  • Menempel nomor kardus di 3 sisi  kardu
  • Mengikat kardus dengan tali

  
  
Sepekan sebelum pengiriman. 
Hari Rabu, suami sebenarnya cuti tapi sudah janji untuk membantu menyetir truk sewaan  yang dipakai pindahan para mahasiswa Chibadai. Rencananya  truk ini akan lanjut diisi barang teman-teman di Chiba yang akan dikirim ke gudang Yokohama bersamaan dengan barang kami. Rencananya pagi-pagi suami berangkat ke Chiba tapi karena kondisi saya masih keteteran banget jadi suami mengundurkan jam berangkatnya demi membantu saya membungkus kardus-kardus yang besar. 

Ada sekitar 25 kardus beragam ukuran yang harus kami isi dan bungkus. Tidak hanya ditutup rapat dengan lakban, kami juga berusaha membungkusnya dengan terpal sesuai anjuran Pak Ruswan. Di antara kardus-kardus ini, ada yang berupa dua kardus yang harus disatukan baru dibungkus terpal. Sampai hari Selasa, 80 persen sudah masuk kardus tapi ada yang belum tersegel lakban apalagi belum dibungkus terpal. Sampai hari Rabu pagi, 25 persen di antaranya sudah terbungkus rapi, terutama yang besar-besar. Itu pun hasil kerja sama dari pagi banget bareng suami. 

Tega tidak tega, suami saya tetap harus pergi Rabu siang itu. Saya hampir menyerah melihat separuh lebih barang masih perlu disegel ulang, masih harus menyatukan beberapa kardus, masih harus motong terpal buat bungkusnya. Badan saya sudah terasa panas banget hari ini, tapi rasanya kok kalau menyerah, sayang banget. Laa khaula walaa quwwata illa billah. Akhirnya saya mulai kerja lagi dengan menggendong bayi M, dengan bolak-balik membuat  penghalang bagi bayi N biar tidak mengganggu. Rasanya mirip saat berusaha naik ke puncak Gunung Fuji, panas dan nafas pendek-pendek, berat karena ada bayi M di punggung saya, tapi saya belum mau menyerah. 

  
   
Sesuai kesepakatan dengan suami, Rabu malam suami akan pulang bawa truk sewaan ditemani dua kawan dari Chiba untuk memasukkan barang-barang ke truk. Qodarullah suami pulangnya sudah lumayan malam dan ternyata saya lupa menempelkan lembaran nama dan nomor kardus serta belum mengikat kardus-kardus yang sudah siap. Akhirnya, meski sudah dibantu dua kawan, hanya beberapa barang yang bisa dimasukkan ke dalam truk. Kelihatannya sih sepele hanya menempel dan mengikat tapi kenyataannya ribet karena harus nempel 3 sisi kardus dan mengikatnya dengan pengikat barang yang harus ditarik kuat. Padahal ya, nanti di akhir-akhir tahu kalau yang lain ada yang hanya diikat rafia, sekedar formalitas memenuhi anjuran saja. 

Akhirnya tengah malam, saya dan suami berusaha melanjutkan sebisanya. Sebenarnya masih ada dua kardus besar yang harus “dirakit” oleh suami tapi dini hari kami memutuskan tidur saja dulu biar tetap ada energi. Apalagi suami masih harus menyetir sampai Yokohama. Subuh, sudah bisa diterka kami gedubrakan mengejar target. Karena waktunya terbatas, akhirnya satu kardus besar terakhir saya yang menyelesaikan sementara suami memasukkan barang ke truk dibantu dua teman yang sudah berbaik hati datang. 

Alhamdulillah aladzi bini’matihi tatimush sholihat. Barang-barang kami berhasil dibawa ke gudang tepat waktu pada tanggal 26 Maret itu. Meski gedubrakan di akhir waktu tapi Alhamdulillah 95 persen terkemas rapi. 

Kenapa tidak disiapkan dari awal Maret? We tried. Kami sudah coba semampu kami untuk mengepak seawal mungkin. Qodarullah, kadang saya hanya sendirian mengepak dan kadang badan tidak fit. Qodarullah anak sempat demam. Qodarullah ada saja acara dadakan di akhir pekan. Kami hanya berencana, tapi tentunya ada ketentuan Allah yang tidak bisa kami tolak. 

Well, over all I should said Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimush sholihat. Nothing to regret. We did our best as a solid team. 

Banyak yang harus disyukuri. Alhamdulillah, sejak beberapa hari sebelumnya kami sudah mengumpulan semua perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan untuk pengepakan barang. Ibaratnya, peralatan tempur sudah lengkap dari awal. Jadi mepet-mepet pun sudah tenang karena alat in syaa Allah cukup. Alhamdulillah di sekitar rumah kami ada  home centre jadi bisa beli  peralatan pindahan dengan harga relatif lebih miring dari Daiso. Soalnya kan butuhnya lumayan banyak jadi kalau dihitung totalnya beli di home centre lebih hemat. Alhamdulillah anak-anak cukup kooperatif meski beberapa hari sebelumnya kadang tiba-tiba saya ajak belanja ini-itu dengan stroller. Alhamdulillah meski demam tapi bayi M tidak terlalu rewel. Alhamdulillah, ada gendongan Manduca yang nyaman buat bawa-bawa bayi saat mengepaki barang. Alhamdulillah, Allah membuat saya dan suami saling sabar dan kompak, padahal saya sempat hampir menyerah. Alhamdulillah Allah memberi kesehatan untuk menyelesaikan ini semua dengan baik. Suami kaget saat pulang Rabu malam karena 90 persen barang sudah rapi tinggal finishing touch. Padahal siangnya pas ditingga pergi masih separuh lebih yang harus disegel dan dibungkus terpal. Saya saja yang mengerjakan tidak percaya bisa selancar itu. Keep moving, keep doing, keep dzikrullah, keep khusnudzon, keep cheering my self and keep asking help from Allah th merciful. Alhamdulillah selesai juga. Selesai pengiriman hari Kamis itu, kami tepar semalaman. Tapi esok harinya masih nekat bowling dan main trampolin :D. Maafin ya, tulisan kali ini alurnya berantakan. Jujur saja aslinya sudah agak-agak lupa karena sepekan menjelang pengiriman barang ingatan saya kayak skipped beberapa hal, rasanya kayak tahu-tahu sudah malam, tahu-tahu sudah pagi lagi. Sekarang pu kalau suruh ingat-ingat lagi, kepala langsung pening. Alhamdulillah semua sudah terlewati. (Semoga tidak ada komentar harusnya begini begitu atau tadinya  lebih baik begini begitu, harusnya mendingan pakai jasa yang sekalian  mengepak dan sebagainya. Kalau iya, hehehe…, semoga dosa-dosanya diampuni :D)

   
    

Advertisements

3 thoughts on “Perjuangan Mengirim Barang Pindahan

  1. Hahaha, aku malah jadi notice ma kata-kata di paling bawah itu,.. 😀
    Harusnya manggil aku aja, biar aku bantu jagain dua ponakan hebat,. 😀

    Eh nanya serius inih, kalian mau balik Indonesia? Okaerinasai,.. :* Miss you all,.. :*

    1. Yoi, mbak Titin. إن شاءالله tgl 2 Juli, k Srbaya dlu. Abis lebaran bakal ngendon di Semanu bbrapa waktu. Moga bisa ketemu ya… Kata-kata paling bawah emang ditebelin sih, biar kebaca :)))…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s