Judulnya “sok iye” gitu ya, kayak sibuk ala mahasiswa atau profesional gitu, padahal cuman catatan hariannya ibu rumah tangga. Kali ini tujuannya buat mengingatkan diri sendiri untuk pandai bersyukur atas begitu banyak nikmat dari Allah. Anggap saja ini pencitraan karena kejadian semacam ini tidak mesti ada tiap hari hahaha.  (Peringatan: yang sudah malas baca, lebih baik langsung tutup blog ini dari awal, tidak perlu dilanjutin ya :D)
Bikin bento buat makan siang suami adalah rutinitas pagi di hari kerja. Kalau mood difoto, selebihnya yang penting jadi dan masuk tas suami.

 

Kalau ada tenaga, bikin kue atau apapun. Kami menyebutnya renshuu (praktikum :p). Kalau jadi bagus, Alhamdulillah, tidak jadi pun tetap Alhamdulillah. Kalau saya pribadi, ini bagian dari refreshing. Siapa tahu kelak saya bisa punya usaha di bidang makanan hihi… (Mohon diaminkan ya^^) 
Masak buat harian, menunya seadanya saja.  Kalau pas “mewah” kayak di bawah ini. Kalau pas tidak sempat masak, larinya ke kombini beli onigiri (nasi kepal).

Dari semua aktifitas, paling banyak porsinya sih mengurus dan menemani main anak-anak baik di dalam maupun luar rumah. Tidak setiap hari kami jalan-jalan atau bermain di luar karena kadang jam tidur siang anak-anak tidak bersamaan atau kesorean.    

 
Kalau akhir pekan, kadang belanja atau main ke mall (tidak tiap pekan ya) atau sekedar guling-guling berempat di rumah.  

  

 
Kok tidak ada bagian beres-beres rumah, bersih-bersih toilet, dan sebagainya? Kan saya sudah bilang di awal, anggap saja pencitraan makanya yang ditampilin yang bagus-bagus saja. Yang berat, yang capek, yang bikin stres, yang bikin sedih, yang tidak perlu dikeluhkan kepada manusia, biar saya simpan sendiri. Lagipula itu hanya sebagian, sebagian lainnya saya masih bisa browsing resep, nonton episode terbaru Detective Conan, nantangin suami main apalah di rumah dan hal remeh temeh tapi bikin happy lainnya.  Yang religius, biar jadi urusan saya dan Allah saja ^^.
Catatan untuk muhasabah diri dan lebih banyak bersyukur:

  • Rezeki tak terukur nilainya yaitu masih bisa bangun pagi tanpa sakit yang butuh pengobatan mahal (bayangkan pagi-pagi harus beli O2 buat hidup sehari penuh, berapa duit?!), bisa kumpul bareng keluarga (begitu banyak keluarga terpisah karena perang di luar sana), ada bahan makanan buat dimasak, ada tenaga buat masak, masih ada rumah buat berteduh, ada pekerjaan bagi suami dan seterusnya yang mungkin tidak akan ada habisnya menghitung nikmat dari Allah.
  • Anak dua usianya deketan. Repot  dan itu wajar. Tapi, ini sungguh rezeki luar biasa sementara di luar sana tak sedikit yang mendambakan anak bertahun-tahun tapi tak kunjung ada, tak sedikit yang menghabiskan dana banyak untuk program hamil. Sungguh, semua kejadian adalah atas kehendak Allah. Kami pun sekedar menjalani takdir dengan mencoba bertawakal dan bersabar. Allah memberikan nikmat yang terbaik maupun ujian bagi manusia sesuai takaran kemampuannya masing-masing. Kami tidak lebih baik dari siapapun.
  • Dunia adalah tempat berlelah-lelah mengumpulkan tabungan untuk pulang ke rumah yang sebenarnya, kampung halaman di surga. 
  • Sukses itu kalau berhasil masuk surga. Jadi kalau sekedar sukses di dunia, itu bukan kesuksesan yang hakiki, bisa jadi justru ujian di dunia. Jadi, jangan sampai tertipu dan terlena. Garis finish masih jauh. 
  • Lakukan hal bermanfaat, tinggalkan hal yang sia-sia. Hal yang sia-sia salah satunya adalah sibuk mengurusi kehidupan orang lain :D, komentar yang tidak penting di urusan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain, atau sejenisnya. 
  • Iri pada kehidupan orang lain yang tampak bahagia, sejahtera, aman sentosa sepanjang masa? Hoho, coba tilik kehidupan sendiri dulu, mau tidak sisi yang gelap, yang gagal, yang salah, yang penuh aib, yang penuh dosa diketahui orang lain? Tentu tidak. Nah, bisa jadi yang kita lihat sisi enaknya saja, sisi susahnya disimpan rapat-rapat oleh mereka. Makanya kalau lihat kebaikan pada orang lain ucapkan maa syaa Allah dan barakallah. Terus, daripada iri terus timbul hasad dan hal buruk lainnya, mending fokus perbaiki hidup sesuai tujuan masing-masing. Standarnya gampang, yang mau dilakukan sesuai hukum Allah dalam Al Qur’an dan sunnah tidak. Standar duniawi sih tidak usah diambil pusing. Lagipula, kalau tahu orang laih butuh jatuh bangun juga untuk mencapai kehidupannya yang tampak sukses, belum tentu kita juga mau. Manusia mah gitu, mau sisi enaknya saja. Uups :D. Astaghfirullah…
  • Hidup saya tidak lebih baik dari siapa pun karena masing-masing kita sudah dapat porsi terbaik menurut Allah? Masih tidak percaya? Berarti kurang tawakal kepada Allah. Masih merasa kurang? Berarti kurang bersyukur kepada Allah. 
  • Syukur itu menambah dan melipatgandakan nikmat. Bahagia bukan benda yang bisa dibeli, tapi diwujudkan dari hati. Allahu a’lam. 
Advertisements

One thought on “Atashi no Mainichi (Rutinitas Harianku)

  1. Subhanallah….. Menginspirasi sekali ceritanya… Saya seorang mahasiswa bahasa jepang di indonesia, dan ingin banyak mengetahui tentang kehidupan muslim di jepang… Saya juga ingin tinggal di jepang dan merasakan sendiri bagaimana hidup disana 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s