Dulu saya lumayan tomboy, tidak bisa masak, tidak bisa jahit, tidak suka dandan (sampai sekarang…, entah kenapa rasanya kalau pakai make up kok kayak bertopeng), tidak bisa bernyanyi, tidak bisa main musik (alhamdulillah, jadi ninggalin hubungan dengan musik jadi lebih mudah), dan sederetan ketidakbisaan yang lain.  

Waktu berlalu, saya harus hidup sendiri di negara lain. Kalau tidak bisa masak dan tidak cukup banyak uang untuk jajan makanan siap saji (itupun belum tentu Halal kan), terus mau manggil bantuan dari mana coba? 

Singkat cerita, saya bisa sesuatu karena kepepet kondisi. Saya bisa sesuatu karena butuh. Saya bisa sesuatu karena ingin berhemat. Saya suka belajar secara otodidak, tanpa didikte, dan harus muncul dari keinginan saya sendiri. Saya belajar karena saya ingin lebih dari diri saya di masa lalu, bukan lebih dari orang lain. Pembanding terbaik itu, kondisi diri sendiri di masa lalu, bukan orang lain. Kita orang beruntung jika hari ini lebih baik dari sebelumnya, bukan sebaliknya. 

Kini, akhirnya satu hal lagi yang saya mulai coba yaitu menjahit. Hanya jahitan tangan, modal otodidak baca sana-sini dan ingatan tentang dasar menjahit yang sudah hampir hilang. Sebenarnya sudah pingin bisa dari zaman belum nikah dulu, zaman masih sekolah. Tapi ya itu tadi, kalau belum kepepet, belum terpicu deh kemauannya. Yokunai, yokunai, yokunai!

Di luar sana, banyak perempuan yang lebih pandai menjahit dan saya salut pada mereka. Menjahit itu susah, butuh ketelitian dan telaten. Orang yang grusa-grusu macam saya benar-benar ujian kesabaran saat mulai belajar menjahit. Tapi ini sudah jadi komitmen saya, saya akan terus belajar hal baru sampai akhir hayat. Biidznillah semoga Allah memudahkan saya untuk mempelajari hal bermanfaat terutama tentang Islam. 

Lalu, inilah salah satu hasil iseng-iseng -yang semoga- bawa barokah: baju untuk bayi M. Hasil potong sana-sini dari gamis bekas punya saya yang sudah rusak. Daripada dibuang begitu saja, coba dibuat baju kecil saja. Awalnya lihat pola baju gamis saya saja, yang paling sederhana, yang tidak macam-macam modelnya. Lalu cari tahu cara pasang resleting, bikin lengan baju dan seterusnya. Jadi ini bukan baju besar terus dipotong pinggirannya doang, tapi memang dijahit dari potongan-potongan. Karena seringnya modal kira-kira saja, jadinya kadang malah mindon gaweni, harus mengulang bikin beberapa bagian. Lihat kan, betapa tidak telatennya saya. Alhamdulillah jadi juga meski masih berantakan. Modal kemauan baca petunjuk di internet saja dan modal nekat pastinya. Saya mah gitu orangnya, suka malas (malas ngurangin isi dompet :D) kalau suruh ambil kursus. Begitulah, pokoknya yang penting saya senang sudah bisa nambah hal baru. 

  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s