Di tengah beres-beres barang (yang tidak kunjung selesai karena “rebutan” mana yang “keep”, mana yang “throw” :p.., biasa lah demi alasan kenangan atau siapa tahu nanti butuh), saya menemukan peta Mother Farm alias Maza- Bokujo (マザー牧場) hasil jalan-jalan beberapa pekan lalu. 

     

Tadinya saya agak malas nulis ini di blog karena foto pendukungnya kurang. Namun, setelah saya timbang-timbang lagi kok sepertinya sayang kalau pengalaman seru itu dilupakan begitu saja. Bagi kami ini cukup seru. Isi peternakannya sendiri menurut saya biasa saja (apalagi saya asalnya dari desa di mana kambing, ayam, sapi dan hewan ternak lainnya itu adalah pemandangan biasa), tapi perjalanan untuk mencapai tempat tersebut sungguh luar biasa :D.

Sebelumnya saya sepertinya perlu memperkenalkan dulu tempat tujuan kami saat itu. Mother Farm adalah peternakan yang dijadikan tempat wisata di mana pengunjungnya bisa taiken atau mencoba melakukan berbagai hal. Hal yang bisa dicoba misalnya memberi makan ternak, memerah susu sapi, memangku kelinci, memetik buah atau umbi-umbian dan sebagainya. Jadi, tempat wisata ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kehidupan ala peternakan yang tidak bisa ditemui dalam keseharian orang Jepang. 


Salah jalan lewati hutan berliku

Mother Farm letaknya masih di Chiba, satu prefektur dengan rumah kami tapi jauh hampir di tepian Lautan Pasifik. Waktu itu niatnya berangkat pagi biar puas menikmati tempatnya. Maklum, tidak mau rugi karena tiket masuknya juga lumayan harganya. Qodarullah agak kesiangan berangkatnya dan ternyata navigasi mobil kami error. Jadilah kami pakai navigasi iphone saja.

Awalnya milih pakai tol karena mikirnya biar cepat. Ternyata rute yang dipilih oleh navigasi iphone kurang tepat. Pintu keluar tol yang dimaksud hanya bisa untuk ETC (semacam kartu kredit untuk lewat tol), bukan untuk tiket bayar tunai. Jadilah keluar di pintu berikutnya dan itu lumayan menjauh dari rute awal. Ketika sudah di jalan biasa, pilihannya langsung belok kanan atau kiri. Kanan berarti kembali ke arah datang dan lumayan muter. Kiri ke arah lain yang juga bisa tembus ke mother farm dan tampaknya lebih dekat. Akhirnya kami memilih jalur terpendek yang ternyata lewat pedesaan, hutan, perbukitan dan penuh tikungan tajam. Yang bikin deg-degan, sampai di puncak bukit di mana peternakan berada, baru sadar kalau lupa isi bensin dan nyaris nol :O. Yo wis, yang penting masuk aja dulu deh dan bensin dipikir nanti lagi hahaha.

Pas pulang, baru mikir lagi tentang bensin dan sempat bingung mau tanya siapa. Akhirnya tanya pegawai Mother Farm dan disarankan lewat jalan yang semula kami lewati. Katanya di sana ada pom bensin terdekat. Lumayan dag-dig-dug juga karena saat itu sudah sore dan jalanan cukup berliku-liku. Sampai di kota kecil terdekat, kami coba ke pom bensin sesuai navigasi peta di iphone. Ternyata tutup. Sempat bingung mau tanya ke mana lagi tapi Alhamdulillah ada beberapa orang di sawah yang bisa ditanyai. Berdasar petunjuk mereka akhirnya kami menemukan pom bensin terdekat yang dimaksud di awal. Dekatnya bukan 1-2 km saja tapi 5 km lebih atau sekitar 15 km dari Mother Farm. Ini benar-benar pedesaan dan kota kecil yang sepi banget setelah sore. Saat kami memutuskan pakai jalan raya biasa/bukan tol, rasanya jarak antar pom bensin lumayan jauh. 

Sekilas isi Mother Farm

Berhubung sampai sana sudah jam 11 lebih, ternyata sudah tidak bisa ikut beberapa taiken seperti memetik strawberry. Padahal salah satu alasan ke sana biar sekalian bisa kasih pengalaman strawberry picking buat bayi N. Qodarullah telat, berarti bukan rezeki^^. 

Mother farm ini letaknya benar-benar di atas pegunungan. Pemandangan sekelilingnya adalah pegunungan dan rerumputan yang hijau segar. Kami ke sana di awal musim semi dan ternyata kadang terasa dingin dan berangin. Jadi saya tidak bisa membayangkan kalau ke sana saat musim dingin, mungkin saya langsung masuk angin :D. 

Awalnya bingung mau milih ke bagian mana dulu, tapi karena suami membelikan tiket untuk tour ke peternakan khusus juga, jadi kami prioritaskan mendaftar untuk itu dulu. Sambil menunggu waktu tour yang kami pilih, kami sekalian istirahat makan siang dan sholat serta  mengajak bayi N untuk kenalan dengan domba, alpaca, dan bebek :D. Padang rumputnya tidak terlalu luas tapi lumayan tetap bisa untuk piknik. 

  
Lokasi utama terdiri dari peternakan, perkebunan buah ataupun sayur dan bunga, rumah taiken untuk mencoba membuat sesuatu (music box, memasak, dll), restauran, toko oleh-oleh dan taman hiburan. Beberapa peternakan yang bisa dilihat gratis di lokasi utama, antara lain domba, kelinci dan hamster, kuda, sapi, alpaca, babi, kapibara, ayam, dan kura-kura. Ada taman hiburan yang masing-masing wahananya butuh tiket tambahan untuk bisa masuk. Ada tempat gokar juga tapi tidak terlalu luas.

Masing-masing kandang hewan ternak hanya berisi beberapa ekor hewan saja. Tempatnya lumayan luas dan naik turun bukit. Jadi kalau berniat eksplorasi sepuasnya, sebaiknya memang datang pagi-pagi karena tempat ini tutup jam lima sore. 

Ada semacam kereta yang ditarik traktor maupun bis sebagai sarana transportasi di dalam Mother Farm. Sayangnya ini tidak gratis dan rutenya terbatas. Namun kami cukup tertolong dengan adanya kereta ini karena kalau kesorean dan mulai dingin, lebih enak naik ini daripada harus berjuang mendorong stroller ataupun gendong anak untuk balik ke puncak bukit utama. 

  
Beberapa kandang hewan mempunyai jadwal tertentu untuk taiken atau mencoba pengalaman, misalnya memerah susu sapi, atraksi bebek-bebek, atraksi domba, balapan mengejar babi, memegang kelinci dan hamster. Jadi sebaiknya memang benar-benar melihat peta lokasi dan penjelasan agenda per kandang biar efisien memanfaatkan waktu di sana. 

Untuk perkebunan buah dan sayur, kami tidak sempat mencoba karena tidak terlalu minat. Awalnya ingin ikut strawberry picking tapi ternyata pendaftaran hanya sampai jam setengah dua belas saja dan kami sudah telat saat itu. Tidak hanya perkebunan dalam rumah kaca, mereka juga membuat kebun bunga sesuai musim di beberapa lokasi. Salah tujuan kami saat itu adalah nanohana (rape blossom) yang berwarna kuning cerah. Sayangnya lagi-lagi kami telat karena paginya sudah dibabat habis. 

Dari sekian banyak taiken, salah satu yang kami ingin coba adalah memerah susu sapi. Hanya ada 3 atau 4 kali waktu pemerahan dan ternyata antrinya panjang. Sapi yang diperah hanya dua tiap waktu pemerahan tapi yang antri puluhan orang. Itupun susunya hanya dibuang bukan ditampung. Qodarullah anak-anak sedang tidur saat itu jadi hanya suami saya yang mencoba. 

  
Peternakan Khusus

Di sisi lain Mother Farm ada peternakan khusus yang hanya bisa diakses jika beli tiket tambahan. Ada batas maksimum peserta tour di tiap kunjungannya. Di peternakan khusus ini, pengunjung akan diajak melihat isi peternakan sapi, bison, burung unta, ox, llama, kuda, domba plus atraksi anjing penggembala dan sebagainya yang biasanya tidak bisa dilihat di peternakan umum. Beberapa kali pengunjung akan diajak turun untuk memberi makan domba maupun llama. Total waktu kunjungan sekitar 1 jam termasuk untuk pindah-pindah tempatnya. 

   
   
Tips Berkunjung

  • Berdasar pengalaman kami saat ke sana, bagi muslim lebih baik membawa bekal makan siang karena menu di restauran sebagian besar tidak bisa dikonsumsi. Selain itu antrian juga lumayan panjang dan penuh saat jam makan siang. 
  • Siapkan uang lebih jika ingin menikmati banyak wahana atau taiken di sana. Selain tiket masuk dan tiket kunjungan peternakan khusus, ada beberapa lokasi yang butuh tiket tambahan, misalnya tiket naik bis atau kereta-traktor, harga per gram dari buah atau sayuran yang dipetik, taiken naik kuda, beli makanan hewan, dan sebagainya. Satu orang butuh sekitar empat hingga enam ribu dari mulai tiket masuk hingga beberapa tiket tambahan jika ingin mencoba beberapa wahana atau taiken. Namun kalau pingin jalan-jalan hemat ya mungkin hanya habis sekitar tiga ribu tanpa mencoba atraksi atau taiken yang berbayar. 
  • Berangkat pagi-pagi supaya puas menikmati seluruh isi peternakan. Bagi yang naik angkutan umum, di stasiun terdekat ada shuttle bus dengan jadwal terntentu. Kalau bawa mobil, pastikan bensin aman untuk perjalanan bolak-balik. 
  • Pakai sepatu yang enak untuk jalan kaki, bukan high heels ataupun sandal. Sempat lihat yang pakai high heels dan rasanya kok kasihan banget buat naik-turun bukit 😀
  • Pastikan baterai kamera ataupun hand phone dalam kondisi penuh kalau memang niatnya sambil banyak foto-foto :D.  
  • Ini kelihatannya memang hanya lihat domba, kelinci, kambing dan sapi tapi bayar. Tapi menurut saya worth to try bagi mereka yang punya anak di sekitaran Tokyo dan Chiba dan entah kapan bisa ajak anaknya lihat langsung hewan ternak ^^. Setidaknya kasih pengalaman buat megang langsung atau memberi makan hewan. Apalagi di Indonesia jarang-jarang kan bisa lihat alpaca ataupun llama dari dekat bahkan bisa elus-elus muka lucunya. 
Advertisements

2 thoughts on “Jalan-jalan ke Mother Farm di Tateyama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s