Tempo hari saya iseng (as usual) baca artikel-artikel tentang dunia pengasuhan anak. Tema bermacam-macam sampai akhirnya menemukan tentang mempersiapkan anak balita untuk kedatangan adik bayinya. Dari sekian artikel, rata-rata tips yang disajikan hampir sama dan saya menyepakatinya. Di antara yang disebutkan itu misalnya, melibatkan sang kakak dalam tiap proses terkait persiapan kelahiran sang adik, dikenalkan atau diajak komunikasi dengan calon adik, tetap diberikan prioritas utama dan seterusnya.

Jauh sebelum saya menikah, saya sudah pernah ngobrol dengan beberapa kenalan yang sudah berkeluarga tentang mempersiapkan kedatangan adik bagi sang kakak. Dari sekian banyak obrolan, saya sangat terkesan tentang cerita dari seorang teman bahwa melibatkan dan mengenalkan sang kakak kepada calon adiknya sedari awal, akan sangat membantu dalam proses seterusnya. Teman tersebut bercerita bedanya ketika anak keduanya lahir, anak pertama tidak terlalu dilibatkan dan disiapkan. Ternyata saat sang adik lahir, anak pertama jadi pencemburu yang banyak mencari perhatian. Belajar dari pengalaman tersebut, saat hamil anak ketiga, kakak-kakaknya dipersiapkan dengan lebih baik dan hasilnya tidak ada drama cemburu kakak terhadap adiknya. 

Rasa cemburu pada anak saat adiknya lahir adalah masalah klasik yang sudah dianggap wajar di masyarakat. Namun, bukan berarti tidak bisa diminimalisir. Saya tidak berani bilang dihilangkan sama sekali karena toh memang adanya rasa cemburu itu manusiawi. Bedanya, balita belum seperti orang dewasa dalam mengekspresikannya dengan tepat. 

Di sini saya akan bercerita tentang pengalaman mengenalkan calon adik kepada anak pertama saya. Sebagai catatan, beda usia mereka adalah satu tahun. Saat saya hamil anak kedua, kakaknya belum ada satu tahun. Saat itu, anak pertama saya masih belajar berjalan, belum bisa bicara dan belum menunjukkan banyak emosi. Jadi langkah yang saya tempuh mungkin detailnya akan beda apabila sang kakak beda usianya lebih jauh atau lebih tua. Namun, secara garis besar, kuncinya akan tetap sama. 

Dari pengalaman saya sendiri, berbekal info sana-sini tentunya, hal paling awal yang saya lakukan saat tahu hamil lagi adalah sounding, memperkenalkan ke anak pertama saya bahwa akan ada adik, ummu sedang hamil, ada adik di perut dan seterusnya. Yang biasa saya sampaikan adalah siapa itu adik, adik akan jadi teman bermain dan berbagi, adik masih ada di perut dan sebagainya. Orang mungkin akan berpikir mana mungkin anak saya yang saat itu belum ada satu tahun akan paham komunikasi macam ini. Namun, Alhamdulillaah, menurut saya pribadi dia menangkap dengan baik apa yang saya sampaikan. Terbukti dengan makin besarnya kehamilan saya, makin sering dia memeluk dan mengelus perut saya. Ketika adiknya lahir dan dibawa pulang dari rumah sakit pun, dia tidak menunjukkan penolakan sama sekali dan langsung berusaha mencium adiknya tanpa kami minta. 

Cara lain yang saya lakukan adalah melibatkan dia dalam setiap tahapan persiapan kelahiran maupun perawatan adiknya pasca kelahiran. Saya tidak menyiapkan banyak hal karena anak pertama dan kedua berdekatan jadi masih banyak barang bisa dipakai. Tapi saya selalu mengajak ngobrol anak pertama saat saya merapikan baju-baju kecilnya, “Nanti buat adik ya”, dan sebagainya. Selain itu, kebetulan saya saat itu masih tinggal di Jepang dan harus mengurusi semua hal sendiri. Jadi, mau tidak mau memang harus bisa nyambi mengasuh anak pertama secara langsung. Termasuk saat periksa rutin ke rumah sakit, saya bawa anak pertama setiap saat. Alhamdulillaah para perawat dan dokternya baik hati dan pengertian. Anak saya tetap bisa bermain di ruang tunggu, ikut masuk di ruang periksa dan ditemani salah satu perawat saat saya harus menjalani USG transvaginal. 

Saya acap kali mendapat komentar “kasihan” dari orang-orang yang tahu saya mengurus semua sendirian. Namun, bagi saya itu sungguh pengalaman luar biasa. Dua kali melahirkan di luar negeri dan jauh dari keluarga besar. Meski berat tapi saat hamil saya tetap menggendong dan mengurus hal lain terkait anak pertama. Bagi saya itu sungguh kesempatan bagus untuk bounding bagi kami bertiga, saya, anak pertama dan calon adiknya. Makanya kalau ingin jujur memilih, saat punya anak lagi, saya ingin bisa tetap mengurus sendiri mereka sendiri karena saya tidak ingin kehilangan kesempatan pelibatan dan bounding ini.

Hal lain yang saya lakukan adalah menjadikan sang kakak tetap sebagai prioritas utama bahkan sampai sekitar satu hingga dua bulan setelah kelahiran adiknya. Jangan paksa anak untuk langsung paham tentang berbagi dan mengalah. Apalagi untuk anak pertama yang awalnya hanya satu-satunya curahan perhatian.  Perubahan tentu saja ada misalnya saya tidak bisa terlalu sering menggendong sang kakak dan sebagainya. Namun, saya mengalihkannya jadi aktifitas yang lain agar sang kakak tetap merasa mendapat cukup perhatian seperti semula. Misalnya, saat saya kecapekan pun, saya tetap mengizinkan dia minta pangku dan memeluk perut saya. Intinya adalah pandai-pandai mengalihkan bentuk aktifitas bersama dengan yang lebih ringan tapi tetap ada interaksi dan afeksi yang cukup. Anak pertama saya suka sekali tidur di kaki saya sambil saya selonjoran saat saya tidak memungkinkan lagi untuk menimangnya. 

Masa-masa jelang kelahiran dan beberapa pekan setelah kelahiran saya jadikan masa transisi bagi sang kakak untuk mengenal adanya anggota keluarga baru dan berbagi. Bukan hal mudah, tapi memang harus dilakukan. Yang biasa saya lakukan adalah mengenalkan kata berbagi, sabar, gantian (sebelum gantian dengan adiknya, dia belajar gantian dengan saya), bareng atau bersama, semua adalah kesayangan, dan kata-kata positif lainnya. Ketika adiknya lahir, saya selalu upayakan mereka dapat perlakuan yang adil sesuai porsinya. Dua-duanya sering dipeluk, digendong bergantian atau bahkan saat tertentu bersamaan.

Catatan lain tentang pengenalan setelah kelahiran adalah tidak terlalu membatasi interaksi kakak dan adiknya. Barangkali ada keluarga yang cenderung menjauhkan kakak dari adiknya agar tidak mengganggu boboknya dan sebagainya. Namun, saya tidak sepenuhnya sepakat dengan hal itu. Menjauhkan kakak dari adiknya bagi saya pribadi justru menciptakan batasan di antara keduanya dan menyisihkan sang kakak dari proses pengenalan. Bidan-bidan yang merawat saya selama di rumah sakit juga sering ngobrol bahwa bayi baru lahir mempunyai pola hidupnya sendiri sampai beberapa pekan. Dia tidak akan benar-benar terganggu lingkungan di sekitarnya. Jika memang ingin tidur, tidur. Jadi saat sang kakak ramai pun, sebenarnya tidak masalah. Jadi sebenarnya tidak perlu pasang muka galak menyuruh anak yang besar untuk diam. Kalau memang khawatir mengganggu saat adiknya tidur, alihkan dengan kegiatan bersama di tempat terpisah yang tidak jauh dari kamar sang adik. Jadi, dua-duanya tetap bisa dalam pengawasan. Qodarullah anak kedua saya ternyata cukup sensitif terhadap suara besar dan getaran. Suara pun lebih ke suara orang dewasa jadi saat kakaknya lari-lari sebenarnya tidak ada masalah kecuali ada barang berjatuhan.

Tidak membatasi interaksi antara kakak dan adik, bukan berarti tidak mengawasi. Sang kakak boleh ikut mengelus, mencium, atau memeluk adik saat ada orang tua. Perlu selalu dijelaskan dan diulang bahwa adik bukan mainan dan masih lemah jadi tidak boleh terlalu keras maupun kasar. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah anak balita belum bisa mengontrol tenaganya jadi dikhawatirkan sang kakak terlalu kuat memeluk dan sebagainya. Di sanalah peran orang tua hadir. Orang tua yang harus pandai mencari cara mengenalkan cara memegang, memeluk, mencium yang benar agar sang adik tetap aman. 

Hal lain yang bisa saya ingat adalah tentang hadiah untuk adik baru maupun kakak. Ketika sang adik, biasanya banyak hadiah yang berdatangan untuknya. Kebetulan kalau pengalaman saya, anak yang besar masih belum terlalu terlihat ego dan ekspresi emosinya jadi masih aman dari rasa cemburu. Namun, untuk mengantisipasi hal tersebut, saya upayakan untuk membelikan sesuatu juga untuknya. Jangan sampai dia merasa dia tidak memperoleh apa-apa. Barangkali orang akan berfikir “Ya kan dulu dia sudah pernah dapat”. Bagi saya tidak bisa begitu karena yang kita hadapi bayi bukan orang dewasa yang sudah pandai mengelola perasaan. 

Terakhir, sebagai seorang muslim maka saya membarengi ikhtiar dengan berdoa agar anak-anak kami rukun dan Allaah ‘azza wa jalla senantiasa mempermudah upaya kami dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kami. Doa adalah senjata terkuat umat muslim, maka berdoa lah. Saya selalu meminta agar anak-anak saya mudah mengerti apa yang kami ajarkan. Manusia boleh berupaya sekuat apapun tapi kalau Allah tidak berkehendak atas keberhasilannya, tidak akan berhasil. Seperti pernah saya tulis, anak mudah makan adalah rezeki, anak mudah mengerti adalah rezeki, anak selalu sehat juga rezeki. Jadi, apapun kemudahan maupun tantangan dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak, harus selalu dikembalikan kepada Allaah. Allah lah yang menggenggam hati makhluk-Nya maka yang bisa saya lakukan hanyalah memohon agar Allaah menautkan hati anggota kami dalam iman dan saling mencintai satu sama lain. 

Kalau ingin dirangkum, poin yang saya sampaikan di atas secara garis besar sebagai berikut: 

  • Kenalkan tentang calon adik atau sounding
  • Ajak komunikasi dan interaksi, termasuk menyapa calon adik
  • Libatkan sang kakak dalam persiapan kelahiran maupun perawatan adik pasca lahiran
  • Tetap jadikan kakak sebagai prioritas utama. Jangan paksa untuk bisa mengalah karena semua butuh proses untuk adaptasi
  • Berikan kesempatan interaksi kakak dan adik dengan pengawasan dari orang tua
  • Berikan hadiah untuk sang kakak juga jika adiknya memperoleh hadiah
  • Berdoa agar Allaah ‘azza wa jalla merpermudah pendidikan dan pengasuhan anak-anak kami

Langkah-langkah yang saya tuliskan di atas barangkali akan berbeda detail penerapannya pada anak usia berbeda atau jumlah anak/kakak yang berbeda. Semakin tua usia sang kakak, semakin banyak ekspresi perasaan yang mungkin dimunculkan olehnya. Bisa jadi sang kakak sudah bisa “protes” secara lebih nyata dengan kata-kata dan sebagainya. Selain itu, karakter masing-masing anak juga berbeda jadi keberhasilan proses pengenalan kakak dan adik baru juga akan terkait pendekatan yang dipakai. Namun saya yakin bahwa secara umum poinnya akan sama hanya penjabaran detail cara dan pendekatan yang dipakai mungkin berbeda. Silakan berbeda pendapat karena pengalaman tiap orang beda tapi be wise ya dalam penyampaiannya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s