Selagi masih segar di ingatan, ingin rasanya saya menuangkan pengalaman pertama cave tubing yang kami lakukan dua hari lalu. Saya asli dan besar di Gunungkidul yang kaya akan pesona pantai nan eksotis dan sungai beserta gua bawah tanahnya. Pemandangan pantai maupun gua bawah tanah nan eksotis memang sudah ada sejak dahulu kala tetapi baru beberapa tahun terakhir makin terekspos sebagai tujuan wisata unggulan.


Sekilas tentang Kalisuci

Gunungkidul adalah pegunungan karst yang debit air permukaan tanahnya sedikit tetapi sungai bawah tanahnya mengalir deras. Karakter pegunungan karst adalah ada bukit-bukit kapur, bebatuan dasarnya seperti batu karang , banyak sungai dan gua bawah tanah, air tanahnya berkapur, tandus dan debit air di permukaan tanah sedikit. Meski seringkali dikenal karena tandus dan kemiskinannya, Gunungkidul sekarang mulai menarik perhatian orang dengan wisata pantai, gua dan sungai bawah tanahnya. 

Kalisuci adalah sungai bawah tanah yang terletak di Jetis, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Dari rumah saya hanya berjarak sekitar 5 km saja. Namun, karena beberapa alasan baru kemarin baru pertama kalinya saya mencoba cave tubing di sana. Penyusuran gua Kalisuci sendiri baru resmi dibuka untuk wisata sekitar tahun 2009. Awalnya tempat pengelolaannya masih sederhana. Kalau sekarang sudah bagus, bersih dan rapi. Jalan untuk turun dan naik dari sungainya juga sudah diberi tangga dengan besi pengaman. 

Penyusuran gua Kalisuci memakan waktu rata-rata sekitar 1,5 hingga 2 jam. Biayanya Rp. 70.000,- per orang. Biaya tersebut untuk tiket masuk, retribusi, jasa pemandu, alat pelindung lutut dan siku, ban, jaket pelampung, helm serta makanan ringan. Sekali trip, minimal 5 orang dan maksimal sekitar 20 orang. Kalau misalnya kurang dari lima orang, biasanya diminta tunggu sampai ada orang lain yang bisa digabung jadi satu kelompok. Makanya pengunjung yang datang ke sini rata-rata satu rombongan baik dengan keluarga besar, teman sekantor, teman kuliah atau teman sepermainan. 


Jadi Wisatawan Lokal
Kami beruntung tinggal tidak jauh dari Kalisuci jadi bisa survei dulu sebelum memutuskan ikut serta. Pagi-pagi, kami coba main ke sana dengan bawa dua anak kami. Niatnya memang hanya untuk tanya-tanya dulu. Ternyata setelah melihat-lihat suasananya, suami sudah mantap mau ikut dan maunya hari itu juga. Tadinya sempat berfikir masuknya gantian saja biar bisa gantian jaga anak-anak. Namun setelah difikir ulang, kan kurang asyik kalau masuknya sendiri-sendiri. Belum lagi nanti digabung ama kelompok orang yang tidak kami kenal, bisa-bisa mati gaya nantinya. Terutama saya :D. Akhirnya diputuskan perginya berdua dan anak-anak dititipkan ke kakek-neneknya. Alhamdulillah, proposal diterima dan siangnya kami mengontak salah satu pemandu tentang ada tidaknya rombongan di mana kami bisa gabung. Kami diminta datang saat itu juga. Untungnya anak-anak pas baru aja tidur siang jadi kami bisa langsung kabur. Rezeki anak sholeh ini namanya. 

  

Sesampainya di lokasi langsung bayar, pakai peralatan lalu ke area sungainya. Jadi tidak sempat foto sekitar secara leluasa. Padahal saat itu lumayan rame. Ada rombongan yang baru balik dari bawah, ada juga yang baru datang, dan ada pula yang baru beres ganti baju. Sempat ketemu beberapa wisatawan asing juga baik yang baru selesai cave tubing maupun sekedar menikmati pemandangan di mulut gua. 

Alam sekitar tangga menuju ke bawah masih alami dan tampak jelas karakter perbukitan karst dari bebatuan yang terlihat di kanan-kiri. Di sekitar mulut gua untuk mulai penyusuran, tampak beberapa orang yang sepertinya datang untuk sekedar menikmati pemandangan di sana tanpa ikut penyusuran. Dari sini memang bisa dilihat air yang jernih dan kadang tampak kebiruan karena pengaruh kandungan kapur baik di air maupun bebatuannya. 

Titik mula penyusuran adalah mulut salah satu gua bawah tanah. Sekilas yang tampak adalah mulut gua yang tinggi dengan aliran sungai jauh di bawahnya. Para peserta trip tidak perlu angkut bannya sendiri karena pihak pengelola sudah membuat tali pengangkut untuk memudahkan pengiriman ban-ban ke lembah. Jadi kami cukup turun dengan santai. Sebelum memulai trip, pemandu juga mengajak berdoa dulu dan menjelaskan cara penyusuran yang aman agar terhindar dari cedera. 
Saya sempat bingung bagaimana nanti turunnya karena yang terlihat langsung tebing curam ke bawah. Ternyata ada jalur turun yang sempit dan diberi tali untuk pegangan. Aslinya saya agak takut ketinggian tapi suami bilang bakal jagain, jadi percaya saja. Baru saja saya naik di atas ban, suami saya ternyata milih turun dengan lompat dari atas tebing bersama beberapa peserta lain. Air sungainya memang menggoda untuk menceburkan diri dengan bebas. Tapi berhubung saya takut ketinggian, jadi saya menyerah saja dan pilih lewat tebing. 

  

Saya dan suami digabungin ke kelompok yang terdiri dari 5 orang mahasiswa dari Solo dan ternyata saya jadi satu-satunya perempuan. Alhamdulillaah kami memutuskan masuk bareng. Kalau sendiri-sendiri beneran mati gaya deh. Apalagi saya yang bakal heboh bentar-bentar minta bantuan suami. Entah kenapa ban yang saya naiki suka meluncur jauh sendirian padahal tidak diapa-apain. Sampai ada momentum di mana saya tiba-tiba jadi paling depan saat sampai di bagian jeram sungai terbuka. Jeramnya tidak terlalu besar tetapi lumayan bikin adrenalin naik karena ada kelokannya dan lewatnya satu-persatu. Apalagi ban saya sempat pakai tersangkut batu pas di aliran yang agak deras. Nah, enaknya di sini, para pemandunya baik, sabar, dan sigap. Untuk beberapa titik tertentu memang mereka sudah siap siaga kasih bantuan. 

Oya, sungai yang disusuri panjangnya sekitar 700 meter dengan melewati gua-gua bawah tanah, baik vertikal maupun horisontal, dan sungai terbuka. Ada bagian gua yang disebut zona senja karena agak gelap. Tapi tenang saja, para pemandu siap mengawal perjalanan pengunjung dengan sabar dan telaten. Ada area yang di langit-langitnya penuh dengan kelelawar tetapi tidak mengganggu. Ada area yang kita bisa melihat jelas stalaktit dan stalakmit. Semuanya dijelaskan oleh pemandu selama trip. Jadi bukan sekedar lewat tetapi juga belajar tentang alam dan sejarah gua tersebut.

Bagi saya pribadi, bagian paling seru adalah saat saat berhenti di gua glatik dan arung jeram kecil di sungai terbuka. Di ujung mulut gua glatik, peserta biasanya diajak berhenti dan bebas turun dari ban untuk foto-foto. Yang mau loncat dan mengambang di air juga boleh. Di sana ada patahan stalaktit yang sangat besar, bukti kekayaan alam di area ini. Sedangkan di bagian sungai terbukanya, ada jeram yang seru untuk dilewati. Awalnya saya takut, tetapi gara-gara tidak sengaja jadi paling depan, malah jadi tertantang dan super menikmati bagian ini. Benar kata suami, saat kita merasa cupu yakinlah akan ada yang lebih cupu tanpa diduga-duga :D. Saya jadi makin percaya diri karena ternyata ada peserta lain yang lebih takut dari saya padahal dia cowok. 

  

Safety first
Dalam tiap trip, pesertanya dibatasi agar lebih terkendali dan nyaman. Antar trip juga diberi jarak agar kelompoknya tidak tercampur. Jadi kalau perginya dengan keluarga atau teman dekat, benar-benar bisa leluasa dan lebih akrab. 

Tiap peserta akan diberikan jaket pelampung, helm dan deker untuk kaki dan siku demi keamanan. Para pemandu juga akan menjelaskan cara yang aman untuk melewati jeram seperti mengangkat kaki dan pantat saat melewati batuan dan sebagainya. Jadi, asal mendengarkan dengan teliti dan mengikuti instruksi, biidznillah akan baik-baik saja. Tidak bisa berenang? Tidak masalah karena ada jaket pelampung. Jeramnya juga bukan yang curam dan deras jadi mudah dilewati. 

Gadget sebaiknya dititipkan di base camp atau bawah kamera yang tahan air maupun casing yang tahan air. Bagi yang ingin tetap bawa handphone, di toko sekitar sana ada yang menjual plastik dengan zipper dan tali agar tetap bisa dibawa dengan cara dikalungkan di leher. 
Pilih pakaian yang nyaman untuk basah-basahan. Kalau alas kaki, bebas mau pakai atau tidak tetapi pastikan bukan yang mudah terlepas ketimbang ribut saat di tengah perjalanan. Oya, jalan baliknya menuju tempat penjemputan adalah tangga nyaris vertikal ya. Jadi hati-hati dengan alas kaki yang licin. 

Kenapa Pilih Kalisuci? 

Berdasar rekomendasi dari beberapa orang terdekat, Kalisuci lebih bersih dan menantang ketimbang cave tubing di tempat lain. Ada satu lagi wahana cave tubing di kecamatan sebelah yang namanya sudah terkenal sampai Jakarta maupun Surabaya. Namun, Kalisuci juga sama terkenalnya kok sampai kota-kota besar maupun ke kalangan wisatawan asing.

Airnya jernih, bersih dan segar. Pihak mengelola membatasi peserta trip demi menjaga kenyamanan pengunjung maupun kelestarian lingkungannya. 
  

Peserta dibatasi jadi tidak ada kejadian menumpuk seperti cendol. Dengan jumlah peserta yang dibatasi tiap trip tentunya lebih mudah dalam menjelaskan tentang kondisi alam dan sejarah gua. Peserta juga jadi bisa lebih leluasa tanya-tanya ke pemandu tentang kondisi bebatuan, air maupun vegetasi yang masih alami tersebut. Jadi, selain berwisata juga bisa sekalian belajar. 

Saya sendiri merasakan kenyamanan ini. Kebetulan saya sendiri dapat dibilang penduduk lokal jadi sedikit banyak tahu tentang sejarah Kalisuci meski tidak detail. Jadi kemarin bisa ngobrol panjang tentang fakta bahwa dulunya kawasan gua-gua ini untuk pembuangan mayat maupun orang hidup saat pembersihan gerakan G30S/PKI dan Petrus zaman Orde Baru. Saya masih ingat cerita dari angkatannya kakek-nenek saya yang suka bilang kawasan Luweng (gua) Grubug itu angker dan seterusnya. Sekarang sudah bersih kok karena berdasar cerita pemandu, pemerintah sudah membersihkan area ini dari sisa tulang yang mungkin ada di era delapan puluhan. 
Jalur sungainya berkelok-kelok dan lumayan berarus di bagian jeramnya jadi seru untuk dilewati. Asal tidak punya penyakit asma atau jantung, anak kecil usia SD pun bisa ikut trip di sana. 

Para pemandunya profesional. Tempat ini dibuka jadi kawasan wisata setelah melalui banyak survei dan studi banding. Pencetus idenya juga sudah menjalani pelatihan cave tubing di Meksiko (dan satu lagi di mana ya saya lupa). Para pemandunya terlatih dan bertanggung jawab. 
Alasan tambahan bagi kami adalah lokasinya dekat dengan rumah jadi bisa menitipkan anak-anak ke neneknya tanpa takut kelamaan. Kalau perginya ke gua lain, selain agak jauh saya agak malas kalau ternyata rame dan harus mengantri terlalu lama. 

Mau nyebur lagi? Mau, kalau ada yang bayarin lagi :D. 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s