Gendongan oh gendongan…

Kisahmu sungguh takkan terlupakan.

“Kenapa ga digendong miring pakai kain saja atau sling?”

“Itu kan bahaya buat bayi.”

“Emang nyaman?”

“Males ya pakai gendongan kain?”

Saya pernah mendapat komentar dan pertanyaan tentang mengapa saya memilih gendongan bayi model ransel ketimbang sling atau kain lepas. Tentu saja kain batik untuk gendongan bayi itu adem, halus, dan nyaman. Namun, tidak bagi saya. 

Saya tidak nyaman berlama-lama memakai gendongan model sling yang siap pakai maupun dari kain lepas. Manja? Silakan anggap saja begitu. Karena bahu kanan saya tidak kuat untuk membawa beban di satu sisi. Tulang selangka kanan pernah patah dan terkadang sakit jika membawa beban terlalu lama di satu sisi. Makanya saya memilih model ransel yang bisa membagi beban di dua bahu. Saya tahu batas kemampuan tubuh saya jadi saya memilih apa yang ternyaman untuk saya dan anak saya. Toh ini sudah pernah saya konsultasikan kepada dokternya anak-anak saat di Jepang. Toh ini sudah berdasarkan pertimbangan untuk menghindari infant hip dyslapsia yang salah satunya bisa dibaca di sini .

Jadi, khusnudzon dulu ya sebelum menghakimi bahwa saya pemalas untuk gendong anak-anak saya dengan kain. 

Lalu hari ini, saya mendapat pertanyaan yang tidak diduga-duga saat belanja di pasar. Tiba-tiba ada mbak-mbak yang menghentikan kami sesaat sebelum motor kami pergi. “Belinya di mana mbak?”, tanyanya setengah tergesa. “Itu yang dipakai gendong belinya di mana?”. “Di sekitar sini adanya di mana?”

Aduh, bagaimana ya jawabnya. Akhirnya pelan-pelan saya bilang,”Oh, model gendongan gini mbak? Sekitar sini memang tidak ada. Palingan, cari online di internet mbak.” Lalu saya sebutkan salah satu merk. Tapi biasanya kalau di Indonesia yang beredar yang palsu ya, kecuali di toko perlengkapan bayi yang besar macam di mall. 

“Lho dulu belinya di mana mbak? Harganya berapa?”

Aduh, makin tidak enak jadinya. Soalnya saya saat ini sedang numpang domisili di kota kecil, di mana toko perlengkapan bayi pun jarang. 

Akhirnya suami yang akhirnya jawab,”Ini dulu beli pas kami masih tinggal di Jepang.” Lalu kami sebutkan kisaran harganya. Mbaknya cuman ber-oh. Wajar sih, bukan harga untuk masyarakat kelas menengah ke bawah seperti di daerah sini. Singkat cerita, kami sarankan mbak tadi untuk cari informasi di internet saja. 

Pertanyaan tentang gendongan bayi yang kami pakai sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya juga beberapa teman pernah tanya untuk perbandingan produk dan harga. Namun, kali ini terasa beda karena kami ditanya orang yang tidak kami kenal dan termasuk “nekat” tanya dengan serius. Sepertinya mbaknya pingin banget dengan model gendongan kami. Kami jawab seperlunya sesuai pertanyaan si mbak. Kami tidak mempersuasi apapun tentang pemakaian gendongan macam ini karena kami tahu di sini masih tidak lazim. 

Tidak berapa lama, lagi-lagi saya dapat pengalaman terkait gendongan bayi. Saat mampir beli pulsa, ada serombongan orang dalam mobil di parkiran. Awalnya saya tidak peduli sampai kerasa orang-orang tadi memperhatikan kami. Saat kami hampir pergi, terdengar celetukan dalam Bahasa Jawa yang artinya kurang lebih,”Kasihan anaknya. Ibunya ngawur bawanya.” Saya cuma nyengir dan anggap angin lalu. They just don’t know about us. They just don’t know that my children are comfortable with our baby carriers. They just don’t know that we could travel in hours with our children while they were sleeping well inside the carriers. 

Ah, sudahlah. Saya sudah “kenyang” dengan komentar tanpa dasar apalagi kata pengantar. Mereka hanya tidak tahu bahwa anak saya nyaman dan sejauh ini aman-aman saja dalam gendongan kami. Mereka hanya tidak tahu bahwa dengan gendongan inilah saya bisa membawa dua anak sekaligus di depan dan belakang saat keduanya agak rewel sementara suami masih di kantor. Mereka hanya tidak tahu bahwa bahu saya bisa sangat ngilu kalau kelamaan membawa beban di satu sisi. 

Begitulah hidup. Lahiriah kita yang terlihat dan terdengar orang lain lah yang akan mereka nilai pertama kali. Tidak peduli seberapa logis alasan di baliknya. Tidak peduli seberapa berat atau ringan beban di baliknya. They just don’t know. They just don’t really care to know. Keep calm and stay khusnudzon ^^. 

Advertisements

2 thoughts on “Gendongan oh gendongan

  1. Memang ga lazim ya mba? Di Jakarta kulihat sudah lumayan lazim. Kalo aku sh udah dr lama Rencana nanti kalo udah punya anak pun ingin pake gendongan ala ransel aja, supaya ga numpu di satu bahu, soale aku pun rasanya tak kuat dan karena aku orangnya canggung jd rasa2nya kurang aman malah buat bayinya karena takut posisi anak jd ga bener (nyadar sendiri).
    Ternyata pake gendongan begitu pun suka dikomentari orang ya mba, suka heran deh. Perasaan belinya ga minta ke dia, anak kita pun ga nangis2 juga, masih aja orang ngurusin. Gapapa mba, cuekin aja. Berarti kita artis. Haha

    1. Haha, ya gitu lah Far… Apapun yang kita lakuin, bakal ada komentar. Kalau di kota besar lazim sih ya sekarang. Tpi kalau di kota kecil apalagi pedasaan jarang banget kan. Sling yang siap pakai sih banyak ya. Aku sering sih aslinya ditanyain. Sejauh ini ya sebatas tanya2 sih kalau soal gendongan bayi, itu pun rata2 teman ya. Misalnya karena sama2 punya anak pertama di Jepang, ga tau perbandingan harga berbagi merk gitu2. Tapi ya baru hari ini kok aku merasa butuh buat nulis ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s