Penampakan nona kecil di walimah Om Fajri & Tante Dewi kemarin siang. Baju bunga-bunga adalah hasil pemanfaatan potongan rok saya yang kelebaran.  Kerudungnya adalah hasil daur ulang kerudung untuk pesta nikahan saya dulu. Saya suka sekali bahan kerudung itu karena adem dan tidak terlalu terawang. Dulu hanya untuk dobelan di bagian dalam. Mau dikasih ke orang, tidak tega karena aslinya tidak syar’i. Jadilah kerudung balita untuk si kecil saja.
Oya, di luar sana barangkali banyak orang yang tidak sepakat anak balita diberikan kerudung dengan alasan “kan masih bayi, tidak wajib menutup aurat” dan semacamnya. Namun, saya dan suami merasa ini bagian pengenalan terhadap Islam yang bisa kami lakukan agar kelak saat dia sudah baligh, tidak akan canggung saat diperintahkan menutup aurat. Ini pun masih lepas pasang kok. Ketika dia ingin melepasnya, biasanya saya bolehkan. Namun sekarang dia tahu bahwa saat bepergian atau keluar rumah, lebih baik berkerudung. 
Saya menulis dan mengunggah foto ini sambil siap-siap diprotes lagi lho. Beberapa bulan lalu ada yang sampai bela-belain kirim pesan pribadi ke saya bahwa dia tidak setuju saya memakaikan kerudung & baju panjang ke anak saya. Plus, omelan bahwa dia masih kecil, bukan obyek sex, saya membatasi hak dia untuk memilih (hellooooo, bahkan anak saya saat itu masih 1 tahun. She couldn’t make any choice by herself at that time), saya mengeksploitasi dia dan seterusnya. Sempat dongkol sesaat tapi lalu saya diamkan. Kalau saya saya karena membiasakan kerudung bagi anak gadis saya, lalu yang benar seperti apa? Membiasakannya memakai rok mini dan tank top? Membiasakannya dandan menor seperti orang dewasa yang jauh dari umur sebenarnya? Naudzubillaahi mindzalik. Double standard. 
Saya hanya senyum-senyum sesudahnya. Saya jadi berfikir betapa berat ujian akhir zaman bagi orang tua, harus bisa mengawal anaknya untuk tidak jatuh dalam pemikiran dan tingkah laku sesat dan penuh maksiat. Kalaupun si orang yang bilang tadi tidak mau menutup aurat dengan berjilbab (yup, she is a girl, er woman I mean), itu pilihan dia, tetapi saya tidak akan membiarkan keluarga saya sepertinya, biidznillaah. Jadi, kalau ada yang mau protes lagi, please keep that for yourself. Lebih baik koreksi diri sendiri dulu ketimbang ribut menyalahkan orang. (Lhah, ini kenapa malah curhat ya?! Haha)

Advertisements

2 thoughts on “Baru yang Tidak Harus Baru

  1. iku ko isoooo ada yang komen begitu ya mba. padahal sebagai org islam kan kita wajib mengajarkan anak2 kita mengenai agama islam dari sedini mungkin, termasuk memakai kerudung. itu kayanya temen (atau kenalan?) nya mba isti tipikal feminis yang menentang agama.. heuheu.. akupun kalau punya anak perempuan mau kupakaikan kerudung dari kecil. jadi nanti besarnya terbiasa, ga mesti pake alasan ‘nunggu siap dulu, menjilbabkan hati dulu’ macam anak2 muda jaman sekarang

    1. Ya aslinya, orangnya emg dr dulu2 dah anti ama aturan2 Islam. Lha wong puasa aja dia pertanyain, knapa wajib?!! Ichiou setahuku mereka keluarga muslim.. Tp dr Iran sih emang hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s