2016/01/img_3568.jpg

(Keterangan: foto bersama Abu pada akhir Juli dan foto sendirian di awal Januari. Dalam enam bulan, baju Dedek M sudah cingkrang!)

Akhir-akhir ini lagi suka bikin baju buat Dedek M dari kain sisa. Saya kepingin juga bikin buat Mas N tetapi qodarullaah belum ada kain dengan motif yang pas. Awalnya bikin baju untuk Dedek M itu biar ada baju panjang ketika dia diajak keluar rumah terutama saat ke kajian. Ya tidak mengapa juga sih kalau mau dipakaikan baju anak-anak biasa yang berlengan pendek. Namun kok rasanya ada yang bikin saya tidak sreg. Mungkin karena ada niatan untuk mengenalkan juga tentang konsep menutup aurat dalam Islam meski dia masih balita.

Kembali ke masalah baju, sebelum balik ke Indonesia saya sempat membuatkan baju sepasang untuk Mas N dan Dedek M (iyaaaaa, sempat-sempatnya padahal sibuk banget dengan pindahan yang aslinya energy consuming, time consuming dan bikin stres juga…, a little bit) yang Alhamdulillaah masih bisa dipakai sampai sekarang. Setelah saya perhatikan, rok Dedek M ternyata sudah cingkrang. Sekitar enam bulan lalu, bajunya masih agak kepanjangan. Kalau dia berdiri tegak, ujungnya nyaris menyentuh lantai seperti tampak di foto. Kemarin saya amati, ujung roknya sekarang sudah di atas mata kaki malahan. Untung bagian ujung roknya dulu sengaja saya lebihkan lipatannya jadi ini nanti masih bisa dipanjangkan agar tidak terlalu cingkrang. Cingkrang juga tidak apa-apa sih, tapu kok rasanya panjangnya nanggung. Sudah tidak panjang penuh, tapi juga bukan potongan tujuh perdelapan. Kalau bajunya Mas N, tidak terlalu tampak karena atasan saja. Namun, sama saja aslinya, sudah mulai kekecilan juga terutama panjang lengan dan bajunya. Kalau lebarnya sih, anaknya tidak tambah gemuk, jadi ya masih muat.

Ternyata, kalau bikin baju sendiri buat anak, rasanya beda dengan kalau beli jadi. Setiap kali memakaikan, kadang masih terbayang rasanya dulu waktu bikin seperti apa waku-waku-nya (deg-degan, antusias). Masih teringat juga tiap do’a yang tersisip di tiap tahapan pembuatannya berikut rasa bahagia ketika melihat anak-anaknya begitu sumringah dan semangat ketika diminta mencoba pertama kalinya (lebay ya! Tapi biarlah saya nikmati ke-lebay-an ini sebagai bagian dari motherhood experience saya). Makanya setiap memakaikan, selalu sambil mengamati tentang perubahan tinggi mereka dan perubahan baju mereka. Namanya juga pertama kali bikin sendiri, masih harus banyak belajar tentang memilih bahan dan model biar mereka tetap nyaman meski sudah berkali-kali pakai. Kalau baju yang hasil beli atau dikasih orang, jarang sekali saya perhatikan perubahannya. Palingan, kalau sudah tidak muat ya sudah, dipensiunkan sementara lalu masuk lemari karena siapa tahu bisa buat adik-adiknya kelak. Yang jelas, saya sekarang belum bosan dan semoga tidak bosan untuk membuatkan baju ataupun benda lain untuk anak-anak. Ah, rasanya tidak sabar memulai proyek baru lagi tapi masih harus menyelesaikan satu proyek sisipan untuk Dedek M dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s