Panas. Suhu di atas 33 derajat Celcius dan suara semi (cicada/serangga musim panas) terdengar jelas dari arah pepohonan. Angin kering sesekali bertiup tanpa meninggalkan kesejukan. Kering menyerang kerongkongan begitu cepatnya.

Silau. Matahari serasa hanya sehasta di atas kepala. Ke mana kaki melangkah di luar rumah, rasanya pasti hanya akan menemui panas. Tak heran jika ada pohon di perempatan jalan, pasti penuh orang mencari bayang-bayang dan sedikit kesejukan saat menunggu lampu berganti. Rasa-rasanya selalu pingin kabur ke dalam ruang berpendingin ruangan, menyeruput es kopi dan nunut tidur barang sejenak.

——–

Itu ingatan saya akan musim panas di Jepang. Beberapa hari terakhir tiba-tiba sangat kangen suasana musim panas di Jepang. Terutama suasana di kamar pojok di lantai 6 salah satu asrama di Tokyo. Ketika jendela sedikit dibuka langsung terdengar suara serangga khas musim panas dari seberang jalan yang merupakan hutan kecil. Entahlah, suara serangga dan suasana panas dengan sesekali angin sejuk yang tak seberapa itu justru lebih berkesan ketimbang suara furin (gantungan dari kaca) di teras. 

Saya tahu di Indonesia sekarang sedang musim hujan dan di Jepang sedang musim dingin. Mungkin itu yang membuat saya rindu suasana musim panas di Jepang. Di sini gerah dan panas sih, tapi beda rasanya. Bedanya apa? Ya beda saja rasanya. Mungkin ya, mungkin juga ini perasaan saya saja, karena saya bisa menikmati kakigori (es serut) atau es kopi sambil cari keteduhan di bawah pohon di sebuah taman, pakai earphone, sambil baca buku. Kayaknya kok suasananya summer banget. Berasa beda dengan nongkrong di warung beli sup buah misalnya.

Ah, jadi makin kangen suasana musim panas di Jepang (seriusan?! Orang ke Jepang yang dipinginin salju atau Sakura kali. Haha, kan anti-mainstream). Banyak kenangan lah di beberapa musim panas yang pernah saya lalui. Kenangan-kenangan yang kadang bikin ketawa geli ataupun ngakak kalau diingat. Termasuk berpanas-panas di dapur pas puasa misalnya. Ah, dapur-dapur itu, jadi kangen. 
Sekarang lagi “not in the mood of cooking” . Pingin sih, tapi tidak ada dorongan kuat untuk eksperimen kayak dulu. Bukan doyan jajan juga, jadi tidak lagi coba resep barunya bukan karena tergantikan oleh jajan. Padahal dulu pas masih di asrama, rela antri kompor dan oven. Pas sudah nikah juga rela mondar-mandir di dapur sempit nan berantakan itu demi mencoba resep baru. Sekarang, saya angkat bendera putih, menyerah. Entah kapan mau mulai lagi yang jelas tidak dalam waktu dekat ini. Seems like I lost my passion :(. Bukan ganti hobi lain juga sih. 

Kesimpulannya apa? Saya kangen suasana summer yang itu, yang itu lho. Yang bikin saya rela jalan kaki beberapa kilo, atau naik susah payah ke Gunung Fuji, atau dorong stroller demi beli eskrim dan buah, atau main bareng suami sampai malam yang tidak kerasa sudah malam. Karen musim panas di Jepang, biasanya ada Himawari yang memberi sedikit nuansa berbeda pada dunia. 

Advertisements

One thought on “Musim Panas Itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s