Pekan lalu, kami tanpa sengaja bertemu dengan salah satu kakak kelas suami dan istrinya. Awalnya, hanya suami dan sang kakak kelas yang ngobrol macam-macam, mulai dari pekerjaan hingga tempat kajian (yang ternyata sama, alhamdulillaah). Saya cukup mengawasi anak-anak yang berlarian ke sana ke mari saja. Singkat cerita, saat suami harus harus ke toilet, saya sempat ngobrol dengan istrinya sang kakak kelas tadi.

Sebenarnya obrolan kami hanya pendek karena nomor antrian saya segera tiba. Namun obrolan  singkat itu sempat membuat saya terharu dan nyaris tak bisa menahan air mata karena mendengar kesabaran cerita mereka. 

Pasangan tadi sedang menanti buah hati pertamanya yang masih dalam kandungan usia 14 pekan. Tentunya baru saja melewati keseruan tahap pertama yang isinya mual, muntah, lemes, pusing dan semacamnya. Si mbak terlihat tenang dan tanpa saya minta menjelaskan bahwa mereka sudah lama menanti kehamilan tersebut. Berapa tahun sih lama itu? Mereka menanti tujuh tahun dan baru sekarang diberikan amanah itu. Maa syaa Allaah, kesabaran yang luar biasa menurut saya. Yang bikin kaget lagi, mereka tanpa coba ikut program terapi kesuburan atau kehamilan atau apapun. Ya intinya, keep trying and praying saja.

Ada tiga hal yang sangat saya garis bawahi setelah mendengar cerita mereka. Pertama, anak itu adalah bagian rezeki dari Allaah. Siapa bakal diberi anak berapa banyak dan kapan waktunya, hanya Allaah yang tahu. Kedua, kesabaran yang batasnya hanyalah kematian. Sabar itu bukan terbatas satu dua jam, satu tiga tahun, ada kalanya harus seumur hidup. Ketiga, do’a itu adalah senjata utama muslim.  Tahu kisahnya Nabi Yahya & Nabi Ibrahim kan? Mereka juga sempat harus berdo’a terus dalam waktu lama hingga memperoleh keturunan. Bahkan Nabi Yahya sampai berusia lanjut usia pun masih terus berdo’a memohon keturunan. Kita sudah berdo’a berapa lama lalu jenuh dan putus asa? Kita sudah bersabar seperti apa hingga pantas bilang Tuhan tidak adil? Ikhtiar bisa beragam asalkan dengan cara halal sedangkan sabar dan do’a itu wajib dihadirkan.

Ah, apalah saya ini, hanya sebutir debu di dunia ini. Saya masih harus banyak belajar tentang kesabaran dan keikhlasan dari teman-teman yang masih berjuang memperoleh momongan. Banyak kisah yang membuat saya harus banyak bersyukur, sangat bersyukur atas kondisi saya. Saya dan suami selalu berusaha saling mengingatkan, saat kami capek karena menghadapi polah tingkah anak-anak, saat itu pula kami harus ingat bahwa amanah ini besar konsekuensinya. Urusannya langsung dengan Allaah. Apapun kondisi kami saat ini, dengan segala warna-warni suka duka membesarkan & mendidik anak, kami harus banyak bersyukur kami diberikan amanah ini. Saat lelah dengan semua ini, saya hanya perlu mengingat bahwa di luar sana masih sangat banyak yang berharap ada tangan mungil yang digenggan tapi tak kunjung ada. Alhamdulillaah, in syaa Allaah saya tidak akan menyia-nyiakan rezeki & nikmat dari Allaah ini tentunya. 

Advertisements

One thought on “Tangan Mungil yang Dinanti

  1. mbak Isti apakabar ? sudah lama saya ga mampir blognya dan hari ini langsung membaca ini….benar mbak, anak adalah anugerah Tuhan, tepatnya adalah titipan Tuhan, yang wajib kita jaga, walau badan kita capek, kadang kepala msh kliyengan mesti bangun untuk nyusui anak (jaman anak2ku bayi)….terimakasih postingannya ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s