Dari Gorengan hingga Kesombongan

Pagi ini, saya beli tambahan sayur ke Pak Sul, tukang sayur yang biasa buka lapaknya di perempatan komplek kami, sambil setengah berharap bertemu ibu penjual gorengan & susu kedelai. Sebagai warga baru di komplek ini, ya kami pindah ke kontrakan sekitar 1,5 bulan lalu, ternyata tidak bisa langsung hafal ada penjual apa saja yang lewat atau beli barang sebaiknya di warung mana.

Qodarullaah, dedek K terbangun & minta nenen agak lama setelah Subuh. Padahal, saya berencana untuk bikin isian apple pie & masak lauk untuk sehari sambil mengerjakan kerjaan rumah lainnya. Buyarlah itu rencana & berakhir dengan molornya estimasi matangnya masakan. Jadi pergi ke lapak sayuran pun sudah setengah enam. “Ah, sudahlah, pasti sudah lewat si ibunya,” batin saya sambil membayangkan ganjel perutnya dengan tahu isi & susu kedelai. Ah, sudahlah.

Saat saya hendak balik ke rumah, tak dinyana dari arah lain datang si ibu penjual gorengan dengan motornya. Ibunya faham saya berniat beli lalu menepilah di sisi lain.

Ibu ini masih terlihat muda, mungkin awal empat puluhan. Barang jualannya tidak yang begitu banyak, hanya dua wadah ukuran sekitar 40 cm x 50 cm. Kotak tersebut diikat di atas jok bagian belakang. Isinya ada beragam gorengan dari ote-ote/bakwan, pisang goreng, menjes, sampai ubi. Ada juga lemet, ketan, nagasari & susu kedelai yang masih hangat.

“Ini tinggal ambil dari kulakan atau bikin sendiri, Bu?”, tanya saya penasaran.

“Bikin sendiri, Non”

“Maa syaa Allaah, nyiapin dari jam berapa Bu kalau sebanyak ini?”

“Ya ga mesti. Kadang jam 1 malam sudah mulai. Saya takut kesiangan, nanti malah ga kejual.”

Deg! Hati saya terenyuh mendengarnya. Antara jam lima hingga setengah enam, saya tinggal berharap ketemu untuk beli. Tidak perlu repot potong ini itu, goreng-goreng dari pagi buta. Sedangkan di luar sana, banyak keluarga yang mungkin bangun dari tengah malam, masak lalu jualan setelah Subuh. Kadang, agak telat buka sedikit saja, calon pelanggan ada yang menggerutu, “Pagi-pagi belum ada yang buka, niat jual sarapan ga sih?”. Ada yang pernah seperti itu?

Kan, memang resiko pekerjaan yang dipilih kalau harus mulai bekerja tengah malam atau berdiri di depan penggorengan seharian atau apapun lah resiko pekerjaan yang tampak berat lainnya. Iya juga sih. Tapi, bagi saya pribadi, mengamati orang lain yang harus bekerja keras untuk dapat beberapa lembar ribuan, membuat hati lebih banyak bersyukur.

Saya bersyukur tidak harus bekerja di luar sana. Tidak kebayang sih saat ini kalau saya jadi penjual makanan yang harus menyiapkan makanan dari tengah malam. Ya mungkin bisa dibilang, tidak terbayang karena tidak terbiasa juga. Namun, kondisi keluarga kami saat ini, membuat saya pribadi sangat bersyukur masih mendapat rezeki yang lancar & semoga barokah tanpa harus kerja fisik yang melelahkan. Alhamdulillaah saya masih merasa cukup dengan rezeki dari Allaah melalui tangan suami. Semoga ke depannya pun demikian, selalu merasa cukup & bersyukur dengan yang sudah kami miliki.

Di sisi lain, saya juga belajar untuk lebih bisa memanusiakan orang lain. Mereka yang kita temui dalam kehidupan dunia nyata maupun dunia maya, mungkin sudah atau sedang melewati saat sulit dalam hidupnya, mungkin kurang tidur, mungkin lelah, mungkin kurang sehat, mungkin menyimpan kekhawatiran atau ketakutan dan segala macam kesusahan lainnya. Jadi, sebisa mungkin pilih untuk berlemah lembut, bertutur kata santun, tidak mengerdilkan atau meremehkan, tidak merasa benar sendiri, tidak kasar ataupun tidak suudzon. Susah sih prakteknya, tapi sekarang terus berupaya mengingat isi hadits bahwa muslim yang baik adalah yang orang lain selamat dari gangguan lisan & tangannya.

Ngomong-ngomong soal kerja, pernah saya curhat ke Ibu kalau agak sebal dengan sikap orang yang agak sombong karena berstatus ‘wanita yang memilih resign demi menjadi ibu rumah tangga yang baik”. Intinya, sesembak maupun seseibu yang pernah saya temui selalu nyebut tentang “Ya dulu pas kerja…”, atau “Ah kalau pas kerja dulu begini…”, atau bahkan “Oh tapi belum pernah ngerasain dempet-dempetan buat pergi kerja sih ya?”. Kayak pingin lempar dart deh jadinya hahaha. Ya kan gini-gini, saya pernah magang dengan gaji minimalis, juga pernah kerja paruh waktu di salah satu kantor IT & international e-commerce di Tokyo, juga pernah jadi penerjemah -modal nekat-, pernah juga jadi tour guide, dan pernah jualan. Sabar, sabaaaaar…. inhale exhale.Ibu saya bilang,”Ya nanti kalau anak-anak sudah besar, kerjalah.” Lalu kami tertawa dengan ide itu.

Ah, saya jadi ingat tujuan memilih ada di rumah, jadi gurunya anak-anak selagi suami bekerja. Saya jadi sadar bahwa setiap fase yang saya alami, tidak akan hilang meski orang lain tidak mengetahuinya. Saya yang memiliki beragam pengalaman itu. Saya yang menikmati setiap kenangan & hikmah dari kejadian yang pernah terjadi.

Ketika orang lain menyepelekan saya atau menganggap saya bodoh karena dirinya lebih pintar atau pasti lebih tahu, -semacam ‘cause I’m mr/mrs always right, I know everything dari sikap & omongannya-, sebenarnya tidak akan mengurangi apapun dalam diri saya. Sebal sih iya, tapi dia yang rugi sebenarnya karena dengan begitu dia hanya menampakkan ketinggian hati & kesombongan, bukan mengurangi pencapaian saya ^^. Lagipula apa sih yang mau diunggulkan atau disombongkan terhadap orang lain? Lha wong semua yang ada di kita hanya pinjaman dari Allaah Ta’alaa. Semoga saya ingat, besok-besok lagi tidak perlu berdebat yang tidak penting. Mau orang bersikap lebih pintar, lebih tahu, lebih apalah terserah, tidak usah diladeni.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s