A-Z, random thinking. 

  
Maafkan jika tulisan dan foto tidak akan benar-benar ada hubungannya :D. Itu baju barunya Dedek M, jahitan tangan saya untuk ke sekian kalinya. Meski ke sekian kali, tetapi masih tetap berantakan. Yang beda kali ini, saya memakai french seam alias stik balik hampir di seluruh bagian. Ribet? Ternyata tidak juga, hanya butuh kesabaran dobel untuk dua kali jahit ^^. Yang bikin lega, jadinya tidak perlu mikirin obras dan neci hehehe. Ngomong-ngomong, kain motif bunganya sudah dibeli sejak spring sewaktu di Jepang, tapi baru semangat bikinnya sekarang. 

Hal lain yang ingin saya tulis berikutnya, sudah beda topik. Sebenarnya ingin cerita beberapa hal, tapi setelah ditulis panjang, akhirnya dihapus lagi. Hanya karena ingat komitmen ke diri sendiri untuk mengurangi curhat ke makhluk dan lebih baik mengadukan ke Allaah ‘Azza wa Jalla saja. 

Recharge energi itu perlu, termasuk dalam hal keimanan. Iman itu naik turun, kudu rajin-rajin di”isi ulang” biar tidak kehabisan di tengah jalan. Caranya, banyakin do’a minta petunjuk agar bisa selalu jaga keimanan, baca Qur’an, dengarkan kajian online (banyak banget lho pilihannya), baca buku agama, kurangi hal yang sia-sia dan datangi taman-taman surga (majelis ilmu).

Istiqomah itu berat. Butuh perjuangan. Butuh kesabaran dan keikhlasan. Banyak tantangan. Mengawali sesuatu itu mudah, tapi biasanya menjaga untuk tetap jalan itu susah.
Asalkan alasan semua hal karena Allaah, meski awalnya berat tapi biidznillaah akan ada pertolongan dari Allaah. Mengubah penampilan sesuai syariah, awalnya mungkin berat. Banyak godaan, banyak tantangan. Namun, kalau alasan berubahnya karena Allaah, harusnya akan ada semangat kuat untuk tetap berproses. Itu satu contoh saja, selebihnya banyak tentunya. 
Salah satu PR besar bagi saya adalah meninggalkan hal yang sia-sia karena godaannya itu ada saja, ya nafsu ya setan. Biidznillaah, semoga diberi kekuatan dalam proses ini. Menurut saya, kunci meninggalkan hal yang sia-sia, antara lain fokus ke diri sendiri dan tidak perlu urusai atau gampangnya ikut campur dengan urusan orang lain yang tidak membawa kebaikan kepada diri sendiri, targetkan ibadah sunnah sebagai tambahan ibadah wajib, manfaatin waktu seoptimal mungkin untuk mengejar ilmu bekal akhirat. Melarang orang lain itu biasanya lebih mudah daripada mengerem diri sendiri dari menuruti hawa nafsu. 
Belajar tentang zuhud dan qonaah juga tidak mudah. Apalagi bagi perempuan, biasanya lebih mudah tergoda untuk belanja barang yang mungkin tidak sebegitunya butuh. Ujung-ujungnya, numpuk saja dan sayang buat dibuang atau diberikan ke orang lain. Salah satu yang saya terapkan akhir-akhir ini, one in one out. Tidak boleh ada tumpukan gamis berlebihan di lemari pakaian. Ada yang masuk, harus ada yang keluar. Apapun caranya. Bisa dijual, bisa juga jadikan shodaqoh ke muslimah lain. Plus satu lagi, menetapkan hanya warna tertentu sebagai baju luaran, ternyata mempermudah “pengereman” hawa nafsu. Tidak ada deh yang namanya godaan “mau ganti baju baru lagi karena motif yang itu lagi hits”. Mau keluar rumah juga jadi lebih cepat, ga perlu mikir warna bajunya cocok atau tidak dengan kerudungnya. Monoton? Membosankan? Tak mengapa. Yang penting saya malah merasa bakal selalu matching, lha wong sewarna.  Baju rumahan juga sama saja sih prinsipnya, tidak butuh banyak-banyak. Toh biasanya kalau sudah nyaman, yang dipakai bakal “itu lagi, itu lagi” kan. 
Itulah “ngelantur” ala saya malam ini. Bingung bacanya? Sama >:D

Advertisements

Tukang Martabak Amatir

Hari ini pingin nge-blog meski tidak ada hal spesial buat ditulis. I just need a short escape from my common flu. Saya butuh pengalihan dari ketidaknyamanan akibat pilek berkepanjangan ini dan menulis jadi pelarian tanpa beban. Setidaknya saya tidak akan merasa capek sesudahnya.

Tadinya mau cerita tentang adanya free wifi selama dua pekan untuk wisatawan asing di Jepang, tapi saya lagi malas mengumpulkan info dan fotonya lagi. Jadi saya mau bagi cerita kesuksesan (ciee, pede banget bilang sukses) saya bikin martabak telor saja. 

Saya penggemar berat makanan yang gurih. Kalau suruh milih (but please don’t ask me to choose), saya akan memakan yang gurih lebih dahulu ketimbang makanan berasa manis. Nah, martabak telor adalah salah satu favorit saya meski kadang malas beli karena ingat itu berminyak, berlemak dan menguras isi dompet :D. Apalagi kadang, satu martabak telor saja tidak cukup untuk orang serumah. Jadi, saya tertantang untuk bikin sendiri demi penghematan dan memuaskan nafsu makan >:D .

    
Bahan kulit martabak :

  • 200 gram tepung terigu protein tinggi
  • 1/4 sdt garam (atau sesuka Anda jika suka asin)
  • 140 ml air
  • 30 gram minyak sayur/goreng
  • Minyak goreng secukupnya untuk merendam & menggoreng

Bahan & bumbu isi martabak telor:

  • 200-250 gram daging sapi cincang (atau sesuka Anda jika memang penyuka daging)
  • 2-3 siung bawang putih, cincang
  • 4 siung bawang merah, cincang
  • 1 buah bawang bombay (atau skip kalau tidak suka) cincang
  • Daun bawang secukupnya, cincang
  • Lada halus dan garam secukupnya
  • Telur ayam atau bebek untuk campuran, 1-2 tiap untuk tiap kali goreng

Caranya sederhana saja. Untuk kulit, campur seluruh bahan kering lalu tambahkan air sedikit demi sedikit. Uleni sampai kalis (atau asal rata dan tampak halus kalau Anda pemalas macam saya. But trust me, 200 gram is not that much for kneading), lalu tambahkan minyak dan uleni sampai tampak elastis. Bagi jadi 3 bulatan kecil. Setelah itu rendam selama minimal 2 jam. Resep kulit ini sudah lama saya catat, sejak masih di Jepang tapi males terus mau eksekusi karena repot dengan pindahan. Saya sampai hampir lupa sumbernya dari mana, tapi kalau tidak salah dari blognya Mbak Diah Didi.

Sambil nunggu kulitnya siap pakai, bisa bikin isiannya dulu. Untuk isinya, saya lupa juga dari mana, sudah lama ada di note sejak masih di Komaba dulu. Oya, cara masak isiannya sederhana saja. Tinggal tumis bawang-bawangan tadi, masukkan daging, tambah lada, garam dan air secukupnya. Tunggu sampai daging empuk, lalu masukkan daun bawang. 

Untuk penggorengan, ambil salah satu bola adonan dari rendaman minyak (yup, siap-siap tangan belepotan minyak, tapi tidak sebegitunya bercucuran kok). Kalau saya, saya gepengkan adonannya lalu tarik kanan kiri sambil diputar sisi-sisinya. Bagaimana ya menjelaskannya dengan baik? Ya pokoknya, seperti itulah. You’ll gonna get it by yourself, instingly :)) . Taruh pelan-pelan di wajan teflon yang sudah diberi minyak secukupnya (lebih enak wajan datar ya, bukan teflon bulat cekung kayak kebanyakan). Minyaknya jangan banyak-banyak ya. Ini bukan kayak menggoreng kerupuk atau gorengan :D. Setelah itu taruh isian yang sudah dicampur telur, lalu lipat pelan-pelan. Goreng dan hati-hati saat membalik (You’ll need two spatulas if you’re not sure how to flip it only by one hand). 

Begitu lah kurang lebihnya pengalaman saya membuat martabak telur sendiri. Dari adonan di atas, bisa jadi 3 martabak telur. Ini bukan makanan yang siap saji dengan dadakan ya. Jadi memang harus ada persiapan waktu. Ya paling enak, disambi mengerjakan hal lain selama menunggu adonan direndam minyak. 

Rasanya puas bisa bikin sendiri. Apalagi pas kulitnya bisa mulur cantik dan tipis. Tapi saya suka grogian sendiri, harusnya bisa lebih rata dan halus kalau nariknya stabil. Oya, kalau pinggiran kulit terlalu tebal, nanti saat digoreng bakal kerasa tebal di bagian pertemuan lipatan.  

Tulisan ini harusnya ada blog dapur saya, tapi malas pindah-pindah. Jadi ya sudah lah, sesekali nulis masakan di sini. Sebut saja ini pengalaman pertama jadi tukang martabak 😀 .

Gendongan oh gendongan

  
Gendongan oh gendongan…

Kisahmu sungguh takkan terlupakan.

“Kenapa ga digendong miring pakai kain saja atau sling?”

“Itu kan bahaya buat bayi.”

“Emang nyaman?”

“Males ya pakai gendongan kain?”

Saya pernah mendapat komentar dan pertanyaan tentang mengapa saya memilih gendongan bayi model ransel ketimbang sling atau kain lepas. Tentu saja kain batik untuk gendongan bayi itu adem, halus, dan nyaman. Namun, tidak bagi saya. 

Saya tidak nyaman berlama-lama memakai gendongan model sling yang siap pakai maupun dari kain lepas. Manja? Silakan anggap saja begitu. Karena bahu kanan saya tidak kuat untuk membawa beban di satu sisi. Tulang selangka kanan pernah patah dan terkadang sakit jika membawa beban terlalu lama di satu sisi. Makanya saya memilih model ransel yang bisa membagi beban di dua bahu. Saya tahu batas kemampuan tubuh saya jadi saya memilih apa yang ternyaman untuk saya dan anak saya. Toh ini sudah pernah saya konsultasikan kepada dokternya anak-anak saat di Jepang. Toh ini sudah berdasarkan pertimbangan untuk menghindari infant hip dyslapsia yang salah satunya bisa dibaca di sini .

Jadi, khusnudzon dulu ya sebelum menghakimi bahwa saya pemalas untuk gendong anak-anak saya dengan kain. 

Lalu hari ini, saya mendapat pertanyaan yang tidak diduga-duga saat belanja di pasar. Tiba-tiba ada mbak-mbak yang menghentikan kami sesaat sebelum motor kami pergi. “Belinya di mana mbak?”, tanyanya setengah tergesa. “Itu yang dipakai gendong belinya di mana?”. “Di sekitar sini adanya di mana?”

Aduh, bagaimana ya jawabnya. Akhirnya pelan-pelan saya bilang,”Oh, model gendongan gini mbak? Sekitar sini memang tidak ada. Palingan, cari online di internet mbak.” Lalu saya sebutkan salah satu merk. Tapi biasanya kalau di Indonesia yang beredar yang palsu ya, kecuali di toko perlengkapan bayi yang besar macam di mall. 

“Lho dulu belinya di mana mbak? Harganya berapa?”

Aduh, makin tidak enak jadinya. Soalnya saya saat ini sedang numpang domisili di kota kecil, di mana toko perlengkapan bayi pun jarang. 

Akhirnya suami yang akhirnya jawab,”Ini dulu beli pas kami masih tinggal di Jepang.” Lalu kami sebutkan kisaran harganya. Mbaknya cuman ber-oh. Wajar sih, bukan harga untuk masyarakat kelas menengah ke bawah seperti di daerah sini. Singkat cerita, kami sarankan mbak tadi untuk cari informasi di internet saja. 

Pertanyaan tentang gendongan bayi yang kami pakai sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya juga beberapa teman pernah tanya untuk perbandingan produk dan harga. Namun, kali ini terasa beda karena kami ditanya orang yang tidak kami kenal dan termasuk “nekat” tanya dengan serius. Sepertinya mbaknya pingin banget dengan model gendongan kami. Kami jawab seperlunya sesuai pertanyaan si mbak. Kami tidak mempersuasi apapun tentang pemakaian gendongan macam ini karena kami tahu di sini masih tidak lazim. 

Tidak berapa lama, lagi-lagi saya dapat pengalaman terkait gendongan bayi. Saat mampir beli pulsa, ada serombongan orang dalam mobil di parkiran. Awalnya saya tidak peduli sampai kerasa orang-orang tadi memperhatikan kami. Saat kami hampir pergi, terdengar celetukan dalam Bahasa Jawa yang artinya kurang lebih,”Kasihan anaknya. Ibunya ngawur bawanya.” Saya cuma nyengir dan anggap angin lalu. They just don’t know about us. They just don’t know that my children are comfortable with our baby carriers. They just don’t know that we could travel in hours with our children while they were sleeping well inside the carriers. 

Ah, sudahlah. Saya sudah “kenyang” dengan komentar tanpa dasar apalagi kata pengantar. Mereka hanya tidak tahu bahwa anak saya nyaman dan sejauh ini aman-aman saja dalam gendongan kami. Mereka hanya tidak tahu bahwa dengan gendongan inilah saya bisa membawa dua anak sekaligus di depan dan belakang saat keduanya agak rewel sementara suami masih di kantor. Mereka hanya tidak tahu bahwa bahu saya bisa sangat ngilu kalau kelamaan membawa beban di satu sisi. 

Begitulah hidup. Lahiriah kita yang terlihat dan terdengar orang lain lah yang akan mereka nilai pertama kali. Tidak peduli seberapa logis alasan di baliknya. Tidak peduli seberapa berat atau ringan beban di baliknya. They just don’t know. They just don’t really care to know. Keep calm and stay khusnudzon ^^. 

Just because…

Just because I don’t talk, doesn’t mean I know nothing.

Just because I don’t show up, doesn’t mean I didn’t do.

Just because you didn’t see and hear by your self, doesn’t mean something isn’t happened.

Just because you just did it right now, doesn’t mean you’re the first in row.

Just because you’re educated, doesn’t mean you’ll always be the righteous.

Just because you’re brave, doesn’t mean you’re the best. 

Just because I don’t speak up, doesn’t mean I don’t care. 

World is just too big for our eyes and ears. 

Ini Emang Oke Banget! 

Anggap saja belum berhasil move on, tapi memang di Kalisuci beneran cakep. Yak, siap-siapa diketawain sebagai wisatawan lokal… Ih, tapi mendingan telat nyoba dan tetap bisa ketawa ketimbang tidak sama sekali haha…

  

   

 

Kalisuci Cave Tubing, Sesekali Jadi Wisatawan Lokal

 Selagi masih segar di ingatan, ingin rasanya saya menuangkan pengalaman pertama cave tubing yang kami lakukan dua hari lalu. Saya asli dan besar di Gunungkidul yang kaya akan pesona pantai nan eksotis dan sungai beserta gua bawah tanahnya. Pemandangan pantai maupun gua bawah tanah nan eksotis memang sudah ada sejak dahulu kala tetapi baru beberapa tahun terakhir makin terekspos sebagai tujuan wisata unggulan.


Sekilas tentang Kalisuci

Gunungkidul adalah pegunungan karst yang debit air permukaan tanahnya sedikit tetapi sungai bawah tanahnya mengalir deras. Karakter pegunungan karst adalah ada bukit-bukit kapur, bebatuan dasarnya seperti batu karang , banyak sungai dan gua bawah tanah, air tanahnya berkapur, tandus dan debit air di permukaan tanah sedikit. Meski seringkali dikenal karena tandus dan kemiskinannya, Gunungkidul sekarang mulai menarik perhatian orang dengan wisata pantai, gua dan sungai bawah tanahnya. 

Kalisuci adalah sungai bawah tanah yang terletak di Jetis, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Dari rumah saya hanya berjarak sekitar 5 km saja. Namun, karena beberapa alasan baru kemarin baru pertama kalinya saya mencoba cave tubing di sana. Penyusuran gua Kalisuci sendiri baru resmi dibuka untuk wisata sekitar tahun 2009. Awalnya tempat pengelolaannya masih sederhana. Kalau sekarang sudah bagus, bersih dan rapi. Jalan untuk turun dan naik dari sungainya juga sudah diberi tangga dengan besi pengaman. 

Penyusuran gua Kalisuci memakan waktu rata-rata sekitar 1,5 hingga 2 jam. Biayanya Rp. 70.000,- per orang. Biaya tersebut untuk tiket masuk, retribusi, jasa pemandu, alat pelindung lutut dan siku, ban, jaket pelampung, helm serta makanan ringan. Sekali trip, minimal 5 orang dan maksimal sekitar 20 orang. Kalau misalnya kurang dari lima orang, biasanya diminta tunggu sampai ada orang lain yang bisa digabung jadi satu kelompok. Makanya pengunjung yang datang ke sini rata-rata satu rombongan baik dengan keluarga besar, teman sekantor, teman kuliah atau teman sepermainan. 


Jadi Wisatawan Lokal
Kami beruntung tinggal tidak jauh dari Kalisuci jadi bisa survei dulu sebelum memutuskan ikut serta. Pagi-pagi, kami coba main ke sana dengan bawa dua anak kami. Niatnya memang hanya untuk tanya-tanya dulu. Ternyata setelah melihat-lihat suasananya, suami sudah mantap mau ikut dan maunya hari itu juga. Tadinya sempat berfikir masuknya gantian saja biar bisa gantian jaga anak-anak. Namun setelah difikir ulang, kan kurang asyik kalau masuknya sendiri-sendiri. Belum lagi nanti digabung ama kelompok orang yang tidak kami kenal, bisa-bisa mati gaya nantinya. Terutama saya :D. Akhirnya diputuskan perginya berdua dan anak-anak dititipkan ke kakek-neneknya. Alhamdulillah, proposal diterima dan siangnya kami mengontak salah satu pemandu tentang ada tidaknya rombongan di mana kami bisa gabung. Kami diminta datang saat itu juga. Untungnya anak-anak pas baru aja tidur siang jadi kami bisa langsung kabur. Rezeki anak sholeh ini namanya. 

  

Sesampainya di lokasi langsung bayar, pakai peralatan lalu ke area sungainya. Jadi tidak sempat foto sekitar secara leluasa. Padahal saat itu lumayan rame. Ada rombongan yang baru balik dari bawah, ada juga yang baru datang, dan ada pula yang baru beres ganti baju. Sempat ketemu beberapa wisatawan asing juga baik yang baru selesai cave tubing maupun sekedar menikmati pemandangan di mulut gua. 

Alam sekitar tangga menuju ke bawah masih alami dan tampak jelas karakter perbukitan karst dari bebatuan yang terlihat di kanan-kiri. Di sekitar mulut gua untuk mulai penyusuran, tampak beberapa orang yang sepertinya datang untuk sekedar menikmati pemandangan di sana tanpa ikut penyusuran. Dari sini memang bisa dilihat air yang jernih dan kadang tampak kebiruan karena pengaruh kandungan kapur baik di air maupun bebatuannya. 

Titik mula penyusuran adalah mulut salah satu gua bawah tanah. Sekilas yang tampak adalah mulut gua yang tinggi dengan aliran sungai jauh di bawahnya. Para peserta trip tidak perlu angkut bannya sendiri karena pihak pengelola sudah membuat tali pengangkut untuk memudahkan pengiriman ban-ban ke lembah. Jadi kami cukup turun dengan santai. Sebelum memulai trip, pemandu juga mengajak berdoa dulu dan menjelaskan cara penyusuran yang aman agar terhindar dari cedera. 
Saya sempat bingung bagaimana nanti turunnya karena yang terlihat langsung tebing curam ke bawah. Ternyata ada jalur turun yang sempit dan diberi tali untuk pegangan. Aslinya saya agak takut ketinggian tapi suami bilang bakal jagain, jadi percaya saja. Baru saja saya naik di atas ban, suami saya ternyata milih turun dengan lompat dari atas tebing bersama beberapa peserta lain. Air sungainya memang menggoda untuk menceburkan diri dengan bebas. Tapi berhubung saya takut ketinggian, jadi saya menyerah saja dan pilih lewat tebing. 

  

Saya dan suami digabungin ke kelompok yang terdiri dari 5 orang mahasiswa dari Solo dan ternyata saya jadi satu-satunya perempuan. Alhamdulillaah kami memutuskan masuk bareng. Kalau sendiri-sendiri beneran mati gaya deh. Apalagi saya yang bakal heboh bentar-bentar minta bantuan suami. Entah kenapa ban yang saya naiki suka meluncur jauh sendirian padahal tidak diapa-apain. Sampai ada momentum di mana saya tiba-tiba jadi paling depan saat sampai di bagian jeram sungai terbuka. Jeramnya tidak terlalu besar tetapi lumayan bikin adrenalin naik karena ada kelokannya dan lewatnya satu-persatu. Apalagi ban saya sempat pakai tersangkut batu pas di aliran yang agak deras. Nah, enaknya di sini, para pemandunya baik, sabar, dan sigap. Untuk beberapa titik tertentu memang mereka sudah siap siaga kasih bantuan. 

Oya, sungai yang disusuri panjangnya sekitar 700 meter dengan melewati gua-gua bawah tanah, baik vertikal maupun horisontal, dan sungai terbuka. Ada bagian gua yang disebut zona senja karena agak gelap. Tapi tenang saja, para pemandu siap mengawal perjalanan pengunjung dengan sabar dan telaten. Ada area yang di langit-langitnya penuh dengan kelelawar tetapi tidak mengganggu. Ada area yang kita bisa melihat jelas stalaktit dan stalakmit. Semuanya dijelaskan oleh pemandu selama trip. Jadi bukan sekedar lewat tetapi juga belajar tentang alam dan sejarah gua tersebut.

Bagi saya pribadi, bagian paling seru adalah saat saat berhenti di gua glatik dan arung jeram kecil di sungai terbuka. Di ujung mulut gua glatik, peserta biasanya diajak berhenti dan bebas turun dari ban untuk foto-foto. Yang mau loncat dan mengambang di air juga boleh. Di sana ada patahan stalaktit yang sangat besar, bukti kekayaan alam di area ini. Sedangkan di bagian sungai terbukanya, ada jeram yang seru untuk dilewati. Awalnya saya takut, tetapi gara-gara tidak sengaja jadi paling depan, malah jadi tertantang dan super menikmati bagian ini. Benar kata suami, saat kita merasa cupu yakinlah akan ada yang lebih cupu tanpa diduga-duga :D. Saya jadi makin percaya diri karena ternyata ada peserta lain yang lebih takut dari saya padahal dia cowok. 

  

Safety first
Dalam tiap trip, pesertanya dibatasi agar lebih terkendali dan nyaman. Antar trip juga diberi jarak agar kelompoknya tidak tercampur. Jadi kalau perginya dengan keluarga atau teman dekat, benar-benar bisa leluasa dan lebih akrab. 

Tiap peserta akan diberikan jaket pelampung, helm dan deker untuk kaki dan siku demi keamanan. Para pemandu juga akan menjelaskan cara yang aman untuk melewati jeram seperti mengangkat kaki dan pantat saat melewati batuan dan sebagainya. Jadi, asal mendengarkan dengan teliti dan mengikuti instruksi, biidznillah akan baik-baik saja. Tidak bisa berenang? Tidak masalah karena ada jaket pelampung. Jeramnya juga bukan yang curam dan deras jadi mudah dilewati. 

Gadget sebaiknya dititipkan di base camp atau bawah kamera yang tahan air maupun casing yang tahan air. Bagi yang ingin tetap bawa handphone, di toko sekitar sana ada yang menjual plastik dengan zipper dan tali agar tetap bisa dibawa dengan cara dikalungkan di leher. 
Pilih pakaian yang nyaman untuk basah-basahan. Kalau alas kaki, bebas mau pakai atau tidak tetapi pastikan bukan yang mudah terlepas ketimbang ribut saat di tengah perjalanan. Oya, jalan baliknya menuju tempat penjemputan adalah tangga nyaris vertikal ya. Jadi hati-hati dengan alas kaki yang licin. 

Kenapa Pilih Kalisuci? 

Berdasar rekomendasi dari beberapa orang terdekat, Kalisuci lebih bersih dan menantang ketimbang cave tubing di tempat lain. Ada satu lagi wahana cave tubing di kecamatan sebelah yang namanya sudah terkenal sampai Jakarta maupun Surabaya. Namun, Kalisuci juga sama terkenalnya kok sampai kota-kota besar maupun ke kalangan wisatawan asing.

Airnya jernih, bersih dan segar. Pihak mengelola membatasi peserta trip demi menjaga kenyamanan pengunjung maupun kelestarian lingkungannya. 
  

Peserta dibatasi jadi tidak ada kejadian menumpuk seperti cendol. Dengan jumlah peserta yang dibatasi tiap trip tentunya lebih mudah dalam menjelaskan tentang kondisi alam dan sejarah gua. Peserta juga jadi bisa lebih leluasa tanya-tanya ke pemandu tentang kondisi bebatuan, air maupun vegetasi yang masih alami tersebut. Jadi, selain berwisata juga bisa sekalian belajar. 

Saya sendiri merasakan kenyamanan ini. Kebetulan saya sendiri dapat dibilang penduduk lokal jadi sedikit banyak tahu tentang sejarah Kalisuci meski tidak detail. Jadi kemarin bisa ngobrol panjang tentang fakta bahwa dulunya kawasan gua-gua ini untuk pembuangan mayat maupun orang hidup saat pembersihan gerakan G30S/PKI dan Petrus zaman Orde Baru. Saya masih ingat cerita dari angkatannya kakek-nenek saya yang suka bilang kawasan Luweng (gua) Grubug itu angker dan seterusnya. Sekarang sudah bersih kok karena berdasar cerita pemandu, pemerintah sudah membersihkan area ini dari sisa tulang yang mungkin ada di era delapan puluhan. 
Jalur sungainya berkelok-kelok dan lumayan berarus di bagian jeramnya jadi seru untuk dilewati. Asal tidak punya penyakit asma atau jantung, anak kecil usia SD pun bisa ikut trip di sana. 

Para pemandunya profesional. Tempat ini dibuka jadi kawasan wisata setelah melalui banyak survei dan studi banding. Pencetus idenya juga sudah menjalani pelatihan cave tubing di Meksiko (dan satu lagi di mana ya saya lupa). Para pemandunya terlatih dan bertanggung jawab. 
Alasan tambahan bagi kami adalah lokasinya dekat dengan rumah jadi bisa menitipkan anak-anak ke neneknya tanpa takut kelamaan. Kalau perginya ke gua lain, selain agak jauh saya agak malas kalau ternyata rame dan harus mengantri terlalu lama. 

Mau nyebur lagi? Mau, kalau ada yang bayarin lagi :D. 

 

Memperkenalkan Calon Adik kepada Kakaknya (catatan pengalaman)

 
  
Tempo hari saya iseng (as usual) baca artikel-artikel tentang dunia pengasuhan anak. Tema bermacam-macam sampai akhirnya menemukan tentang mempersiapkan anak balita untuk kedatangan adik bayinya. Dari sekian artikel, rata-rata tips yang disajikan hampir sama dan saya menyepakatinya. Di antara yang disebutkan itu misalnya, melibatkan sang kakak dalam tiap proses terkait persiapan kelahiran sang adik, dikenalkan atau diajak komunikasi dengan calon adik, tetap diberikan prioritas utama dan seterusnya.

Jauh sebelum saya menikah, saya sudah pernah ngobrol dengan beberapa kenalan yang sudah berkeluarga tentang mempersiapkan kedatangan adik bagi sang kakak. Dari sekian banyak obrolan, saya sangat terkesan tentang cerita dari seorang teman bahwa melibatkan dan mengenalkan sang kakak kepada calon adiknya sedari awal, akan sangat membantu dalam proses seterusnya. Teman tersebut bercerita bedanya ketika anak keduanya lahir, anak pertama tidak terlalu dilibatkan dan disiapkan. Ternyata saat sang adik lahir, anak pertama jadi pencemburu yang banyak mencari perhatian. Belajar dari pengalaman tersebut, saat hamil anak ketiga, kakak-kakaknya dipersiapkan dengan lebih baik dan hasilnya tidak ada drama cemburu kakak terhadap adiknya. 

Rasa cemburu pada anak saat adiknya lahir adalah masalah klasik yang sudah dianggap wajar di masyarakat. Namun, bukan berarti tidak bisa diminimalisir. Saya tidak berani bilang dihilangkan sama sekali karena toh memang adanya rasa cemburu itu manusiawi. Bedanya, balita belum seperti orang dewasa dalam mengekspresikannya dengan tepat. 

Di sini saya akan bercerita tentang pengalaman mengenalkan calon adik kepada anak pertama saya. Sebagai catatan, beda usia mereka adalah satu tahun. Saat saya hamil anak kedua, kakaknya belum ada satu tahun. Saat itu, anak pertama saya masih belajar berjalan, belum bisa bicara dan belum menunjukkan banyak emosi. Jadi langkah yang saya tempuh mungkin detailnya akan beda apabila sang kakak beda usianya lebih jauh atau lebih tua. Namun, secara garis besar, kuncinya akan tetap sama. 

Dari pengalaman saya sendiri, berbekal info sana-sini tentunya, hal paling awal yang saya lakukan saat tahu hamil lagi adalah sounding, memperkenalkan ke anak pertama saya bahwa akan ada adik, ummu sedang hamil, ada adik di perut dan seterusnya. Yang biasa saya sampaikan adalah siapa itu adik, adik akan jadi teman bermain dan berbagi, adik masih ada di perut dan sebagainya. Orang mungkin akan berpikir mana mungkin anak saya yang saat itu belum ada satu tahun akan paham komunikasi macam ini. Namun, Alhamdulillaah, menurut saya pribadi dia menangkap dengan baik apa yang saya sampaikan. Terbukti dengan makin besarnya kehamilan saya, makin sering dia memeluk dan mengelus perut saya. Ketika adiknya lahir dan dibawa pulang dari rumah sakit pun, dia tidak menunjukkan penolakan sama sekali dan langsung berusaha mencium adiknya tanpa kami minta. 

Cara lain yang saya lakukan adalah melibatkan dia dalam setiap tahapan persiapan kelahiran maupun perawatan adiknya pasca kelahiran. Saya tidak menyiapkan banyak hal karena anak pertama dan kedua berdekatan jadi masih banyak barang bisa dipakai. Tapi saya selalu mengajak ngobrol anak pertama saat saya merapikan baju-baju kecilnya, “Nanti buat adik ya”, dan sebagainya. Selain itu, kebetulan saya saat itu masih tinggal di Jepang dan harus mengurusi semua hal sendiri. Jadi, mau tidak mau memang harus bisa nyambi mengasuh anak pertama secara langsung. Termasuk saat periksa rutin ke rumah sakit, saya bawa anak pertama setiap saat. Alhamdulillaah para perawat dan dokternya baik hati dan pengertian. Anak saya tetap bisa bermain di ruang tunggu, ikut masuk di ruang periksa dan ditemani salah satu perawat saat saya harus menjalani USG transvaginal. 

Saya acap kali mendapat komentar “kasihan” dari orang-orang yang tahu saya mengurus semua sendirian. Namun, bagi saya itu sungguh pengalaman luar biasa. Dua kali melahirkan di luar negeri dan jauh dari keluarga besar. Meski berat tapi saat hamil saya tetap menggendong dan mengurus hal lain terkait anak pertama. Bagi saya itu sungguh kesempatan bagus untuk bounding bagi kami bertiga, saya, anak pertama dan calon adiknya. Makanya kalau ingin jujur memilih, saat punya anak lagi, saya ingin bisa tetap mengurus sendiri mereka sendiri karena saya tidak ingin kehilangan kesempatan pelibatan dan bounding ini.

Hal lain yang saya lakukan adalah menjadikan sang kakak tetap sebagai prioritas utama bahkan sampai sekitar satu hingga dua bulan setelah kelahiran adiknya. Jangan paksa anak untuk langsung paham tentang berbagi dan mengalah. Apalagi untuk anak pertama yang awalnya hanya satu-satunya curahan perhatian.  Perubahan tentu saja ada misalnya saya tidak bisa terlalu sering menggendong sang kakak dan sebagainya. Namun, saya mengalihkannya jadi aktifitas yang lain agar sang kakak tetap merasa mendapat cukup perhatian seperti semula. Misalnya, saat saya kecapekan pun, saya tetap mengizinkan dia minta pangku dan memeluk perut saya. Intinya adalah pandai-pandai mengalihkan bentuk aktifitas bersama dengan yang lebih ringan tapi tetap ada interaksi dan afeksi yang cukup. Anak pertama saya suka sekali tidur di kaki saya sambil saya selonjoran saat saya tidak memungkinkan lagi untuk menimangnya. 

Masa-masa jelang kelahiran dan beberapa pekan setelah kelahiran saya jadikan masa transisi bagi sang kakak untuk mengenal adanya anggota keluarga baru dan berbagi. Bukan hal mudah, tapi memang harus dilakukan. Yang biasa saya lakukan adalah mengenalkan kata berbagi, sabar, gantian (sebelum gantian dengan adiknya, dia belajar gantian dengan saya), bareng atau bersama, semua adalah kesayangan, dan kata-kata positif lainnya. Ketika adiknya lahir, saya selalu upayakan mereka dapat perlakuan yang adil sesuai porsinya. Dua-duanya sering dipeluk, digendong bergantian atau bahkan saat tertentu bersamaan.

Catatan lain tentang pengenalan setelah kelahiran adalah tidak terlalu membatasi interaksi kakak dan adiknya. Barangkali ada keluarga yang cenderung menjauhkan kakak dari adiknya agar tidak mengganggu boboknya dan sebagainya. Namun, saya tidak sepenuhnya sepakat dengan hal itu. Menjauhkan kakak dari adiknya bagi saya pribadi justru menciptakan batasan di antara keduanya dan menyisihkan sang kakak dari proses pengenalan. Bidan-bidan yang merawat saya selama di rumah sakit juga sering ngobrol bahwa bayi baru lahir mempunyai pola hidupnya sendiri sampai beberapa pekan. Dia tidak akan benar-benar terganggu lingkungan di sekitarnya. Jika memang ingin tidur, tidur. Jadi saat sang kakak ramai pun, sebenarnya tidak masalah. Jadi sebenarnya tidak perlu pasang muka galak menyuruh anak yang besar untuk diam. Kalau memang khawatir mengganggu saat adiknya tidur, alihkan dengan kegiatan bersama di tempat terpisah yang tidak jauh dari kamar sang adik. Jadi, dua-duanya tetap bisa dalam pengawasan. Qodarullah anak kedua saya ternyata cukup sensitif terhadap suara besar dan getaran. Suara pun lebih ke suara orang dewasa jadi saat kakaknya lari-lari sebenarnya tidak ada masalah kecuali ada barang berjatuhan.

Tidak membatasi interaksi antara kakak dan adik, bukan berarti tidak mengawasi. Sang kakak boleh ikut mengelus, mencium, atau memeluk adik saat ada orang tua. Perlu selalu dijelaskan dan diulang bahwa adik bukan mainan dan masih lemah jadi tidak boleh terlalu keras maupun kasar. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah anak balita belum bisa mengontrol tenaganya jadi dikhawatirkan sang kakak terlalu kuat memeluk dan sebagainya. Di sanalah peran orang tua hadir. Orang tua yang harus pandai mencari cara mengenalkan cara memegang, memeluk, mencium yang benar agar sang adik tetap aman. 

Hal lain yang bisa saya ingat adalah tentang hadiah untuk adik baru maupun kakak. Ketika sang adik, biasanya banyak hadiah yang berdatangan untuknya. Kebetulan kalau pengalaman saya, anak yang besar masih belum terlalu terlihat ego dan ekspresi emosinya jadi masih aman dari rasa cemburu. Namun, untuk mengantisipasi hal tersebut, saya upayakan untuk membelikan sesuatu juga untuknya. Jangan sampai dia merasa dia tidak memperoleh apa-apa. Barangkali orang akan berfikir “Ya kan dulu dia sudah pernah dapat”. Bagi saya tidak bisa begitu karena yang kita hadapi bayi bukan orang dewasa yang sudah pandai mengelola perasaan. 

Terakhir, sebagai seorang muslim maka saya membarengi ikhtiar dengan berdoa agar anak-anak kami rukun dan Allaah ‘azza wa jalla senantiasa mempermudah upaya kami dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kami. Doa adalah senjata terkuat umat muslim, maka berdoa lah. Saya selalu meminta agar anak-anak saya mudah mengerti apa yang kami ajarkan. Manusia boleh berupaya sekuat apapun tapi kalau Allah tidak berkehendak atas keberhasilannya, tidak akan berhasil. Seperti pernah saya tulis, anak mudah makan adalah rezeki, anak mudah mengerti adalah rezeki, anak selalu sehat juga rezeki. Jadi, apapun kemudahan maupun tantangan dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak, harus selalu dikembalikan kepada Allaah. Allah lah yang menggenggam hati makhluk-Nya maka yang bisa saya lakukan hanyalah memohon agar Allaah menautkan hati anggota kami dalam iman dan saling mencintai satu sama lain. 

Kalau ingin dirangkum, poin yang saya sampaikan di atas secara garis besar sebagai berikut: 

  • Kenalkan tentang calon adik atau sounding
  • Ajak komunikasi dan interaksi, termasuk menyapa calon adik
  • Libatkan sang kakak dalam persiapan kelahiran maupun perawatan adik pasca lahiran
  • Tetap jadikan kakak sebagai prioritas utama. Jangan paksa untuk bisa mengalah karena semua butuh proses untuk adaptasi
  • Berikan kesempatan interaksi kakak dan adik dengan pengawasan dari orang tua
  • Berikan hadiah untuk sang kakak juga jika adiknya memperoleh hadiah
  • Berdoa agar Allaah ‘azza wa jalla merpermudah pendidikan dan pengasuhan anak-anak kami

Langkah-langkah yang saya tuliskan di atas barangkali akan berbeda detail penerapannya pada anak usia berbeda atau jumlah anak/kakak yang berbeda. Semakin tua usia sang kakak, semakin banyak ekspresi perasaan yang mungkin dimunculkan olehnya. Bisa jadi sang kakak sudah bisa “protes” secara lebih nyata dengan kata-kata dan sebagainya. Selain itu, karakter masing-masing anak juga berbeda jadi keberhasilan proses pengenalan kakak dan adik baru juga akan terkait pendekatan yang dipakai. Namun saya yakin bahwa secara umum poinnya akan sama hanya penjabaran detail cara dan pendekatan yang dipakai mungkin berbeda. Silakan berbeda pendapat karena pengalaman tiap orang beda tapi be wise ya dalam penyampaiannya.