Our dearest little Hana


Assalamu’alaikum warahmatullaah wabarakatuh.

Hi, there. After so long hiatus, finally I could manage to write here again. There are so many things happened that I can not share here one by one. The biggest one is my second daughter (third child) was born on April. She is 3 months old now. Khadijah Hana Nurunnisa is her name. We call her Khadijah or Hana (recently, we prefer to call her Hana). Khadijah was the first wife of Prophet Muhammad PBUH. Hana is combination of Japanese & Arabian name. In Japanese, Hana means flower. In Arabian, Hana means happines or joy. 
Kangen banget untuk menulis di sini, tapi selalu saja susah meluangkan waktu untuk sekedar mengetik beberapa kata. Kadang kala, ada keluangan tetapi not in good mood to write. Alasan klasik! 

Alhamdulillaahilladzi bini’matihi tatimmush sholihat. Keluarga kecil kami bertambah satu anggota baru awal April lalu. Anak ketiga kami lahir dengan selamat dengan kondisi normal & sehat wal’afiat. Ada niatan memperkenalkan sejak awal tapi apa daya, kebanyakan menunda-nunda adanya.

“Hamilnya kapan, kok ga keliatan?”, pertanyaan ini beberapa kali saya dengar. Lalu diikuti pernyataan,”Oh kerudungnya lebar-lebar terus sih jadi ga keliatan.” Hehe, saya sih tidak menutupi kehamilan saya, jadi ya sudah kasih muka nyengir saja :D. Padahal hamil ketiga ini saya gampang banget capek & banyak banget alergi yang muncul. Alhamdulillah ‘alaa kulli hal. Makanya saya jarang keluar rumah karena menghindari terlalu capek sesudahnya. 

Persalinan ketiga kemarin, banyak hal yang berbeda dari dua persalinan sebelumnya. Anggap saja ini persalinan pertama karena memang pertama kali melahirkan di Indonesia yang ternyata lumayan beda dengan yang saya alami waktu di Jepang. Proses melahirkan bayinya sih sama, tapi faktor pendukung sekitarnya yang beda hehe. Alhasil saya sempat deg-degan juga, stres juga, grogi juga, dan surprise…, ada banyak yang akhirnya bikin saya ngakak kalau ingat kejadiannya. Salah satunya, anak ketiga saya akhirnya brojol dengan bantuan bidan junior selagi dokternya keluar entah ke mana (kayaknya sholat Isya deh, atau visit ke kamar pasien). Sepertinya salah perkiraan juga sih. Mungkin dikiranya pembukaan masih bakal nambah sedikit seperti sebelumnya. Saya memang baru pembukaan enam padahal sudah pecah ketuban sejak satu jam sebelumnya dan selama satu jam itu pembukaannya tetap. Disuruh pasang infus dengan obat induksi tapi ternyata tidak juga dipasang oleh bidannya. Akhirnya keburu brojol duluan secara alami. Kayaknya anak-anak saya memang kudu “diancam” dulu baru mau keluar. 

Semoga baby Hana jadi anak sholihah, qurrota a’yun dan taat. Saya sudah makin penasaran bagaimana ramainya jika nanti ketiga anak ini main bersama. Sekarang saja ramai sekali kalau ketiganya bersuara berbarengan, entah itu menangis, ketawa, atau ngomong berbarengan. Pusing? Iya tapi masih banyak ketawa ngakaknya kok. Kayak mudik lebaran kemarin, bawa tiga balita cukup melelahkan tapi alhamdulillaah semua terlewati dengan ceria secara keseluruhan. Jadi ya jalani saja, tidak usah berandai-andai. Tinggal bagaimana bersyukur dan mempertebal kesabaran saja ^^. Semua pasti akan terlewati, biidznillaah. 

Advertisements

Meh! 

Konsisten untuk tidak konsisten. 

Bingung kan? Sama, saya juga bingung. Namun, kenyataan ini banyak di kehidupan sehari-hari kita, termasuk saya sendiri tentunya. 

Kita kadang bilang bahwa kita berprinsip A, B, C hingga Z, (silakan pilih sendiri) dan berkata lantang, “Aku konsisten, tidak akan melanggarnya barang sekali pun.” Nyatanya? Iya sih, tidak sekali dilanggar, tapi dua kali, tiga kali, empat kali, berkali-kali. “Ya kan kali ini aja.” “Ya kan kali pengecualian.” “Ya kan hari ini capek, sesekali ga papa lah.” Ya kali lupa sudah bilang mau konsisten.

Manusia memang tempatnya khilaf dan lupa sih, tidak perlu dipungkiri lagi. Nah makanya, tidak usah sombong dengan bilang “tidak bakal ngelakuin” atau “tidak akan melanggar” sesuatu. Kita itu ya, sukanya ke orang lain bisa tajam, galak, tegas tapi ke diri sendiri penuh dengan permakluman dan kelonggaran. Amai to aimai. Kalau orang lain yang tidak sesuai dengan prinsip atau pendapat kita, ditegur lah, disindir lah, dikomentari negatif lah. Namun kalau diri sendiri yang melakukan hal sama, kenapa tidak ditegur sendiri? Kenapa tidak lantang bilang salah? Karena kita lupa (atau tidak sadar) bahwa orang lain mungkin tidak tahu dan tidak peduli dengan prinsip, kebiasaan, ataupun aturan hidup kita. So, be nice, keep calm & stay positive thinking. Speak good or remind silent ^^. 

*efek habis baca sesuatu yang menunjukkan perilaku bertolak belakang dengan pernyataan yang biasa digembor-gemborkan*

Tangan Mungil yang Dinanti

Pekan lalu, kami tanpa sengaja bertemu dengan salah satu kakak kelas suami dan istrinya. Awalnya, hanya suami dan sang kakak kelas yang ngobrol macam-macam, mulai dari pekerjaan hingga tempat kajian (yang ternyata sama, alhamdulillaah). Saya cukup mengawasi anak-anak yang berlarian ke sana ke mari saja. Singkat cerita, saat suami harus harus ke toilet, saya sempat ngobrol dengan istrinya sang kakak kelas tadi.

Sebenarnya obrolan kami hanya pendek karena nomor antrian saya segera tiba. Namun obrolan  singkat itu sempat membuat saya terharu dan nyaris tak bisa menahan air mata karena mendengar kesabaran cerita mereka. 

Pasangan tadi sedang menanti buah hati pertamanya yang masih dalam kandungan usia 14 pekan. Tentunya baru saja melewati keseruan tahap pertama yang isinya mual, muntah, lemes, pusing dan semacamnya. Si mbak terlihat tenang dan tanpa saya minta menjelaskan bahwa mereka sudah lama menanti kehamilan tersebut. Berapa tahun sih lama itu? Mereka menanti tujuh tahun dan baru sekarang diberikan amanah itu. Maa syaa Allaah, kesabaran yang luar biasa menurut saya. Yang bikin kaget lagi, mereka tanpa coba ikut program terapi kesuburan atau kehamilan atau apapun. Ya intinya, keep trying and praying saja.

Ada tiga hal yang sangat saya garis bawahi setelah mendengar cerita mereka. Pertama, anak itu adalah bagian rezeki dari Allaah. Siapa bakal diberi anak berapa banyak dan kapan waktunya, hanya Allaah yang tahu. Kedua, kesabaran yang batasnya hanyalah kematian. Sabar itu bukan terbatas satu dua jam, satu tiga tahun, ada kalanya harus seumur hidup. Ketiga, do’a itu adalah senjata utama muslim.  Tahu kisahnya Nabi Yahya & Nabi Ibrahim kan? Mereka juga sempat harus berdo’a terus dalam waktu lama hingga memperoleh keturunan. Bahkan Nabi Yahya sampai berusia lanjut usia pun masih terus berdo’a memohon keturunan. Kita sudah berdo’a berapa lama lalu jenuh dan putus asa? Kita sudah bersabar seperti apa hingga pantas bilang Tuhan tidak adil? Ikhtiar bisa beragam asalkan dengan cara halal sedangkan sabar dan do’a itu wajib dihadirkan.

Ah, apalah saya ini, hanya sebutir debu di dunia ini. Saya masih harus banyak belajar tentang kesabaran dan keikhlasan dari teman-teman yang masih berjuang memperoleh momongan. Banyak kisah yang membuat saya harus banyak bersyukur, sangat bersyukur atas kondisi saya. Saya dan suami selalu berusaha saling mengingatkan, saat kami capek karena menghadapi polah tingkah anak-anak, saat itu pula kami harus ingat bahwa amanah ini besar konsekuensinya. Urusannya langsung dengan Allaah. Apapun kondisi kami saat ini, dengan segala warna-warni suka duka membesarkan & mendidik anak, kami harus banyak bersyukur kami diberikan amanah ini. Saat lelah dengan semua ini, saya hanya perlu mengingat bahwa di luar sana masih sangat banyak yang berharap ada tangan mungil yang digenggan tapi tak kunjung ada. Alhamdulillaah, in syaa Allaah saya tidak akan menyia-nyiakan rezeki & nikmat dari Allaah ini tentunya. 

Musim Panas Itu…

Panas. Suhu di atas 33 derajat Celcius dan suara semi (cicada/serangga musim panas) terdengar jelas dari arah pepohonan. Angin kering sesekali bertiup tanpa meninggalkan kesejukan. Kering menyerang kerongkongan begitu cepatnya.

Silau. Matahari serasa hanya sehasta di atas kepala. Ke mana kaki melangkah di luar rumah, rasanya pasti hanya akan menemui panas. Tak heran jika ada pohon di perempatan jalan, pasti penuh orang mencari bayang-bayang dan sedikit kesejukan saat menunggu lampu berganti. Rasa-rasanya selalu pingin kabur ke dalam ruang berpendingin ruangan, menyeruput es kopi dan nunut tidur barang sejenak.

——–

Itu ingatan saya akan musim panas di Jepang. Beberapa hari terakhir tiba-tiba sangat kangen suasana musim panas di Jepang. Terutama suasana di kamar pojok di lantai 6 salah satu asrama di Tokyo. Ketika jendela sedikit dibuka langsung terdengar suara serangga khas musim panas dari seberang jalan yang merupakan hutan kecil. Entahlah, suara serangga dan suasana panas dengan sesekali angin sejuk yang tak seberapa itu justru lebih berkesan ketimbang suara furin (gantungan dari kaca) di teras. 

Saya tahu di Indonesia sekarang sedang musim hujan dan di Jepang sedang musim dingin. Mungkin itu yang membuat saya rindu suasana musim panas di Jepang. Di sini gerah dan panas sih, tapi beda rasanya. Bedanya apa? Ya beda saja rasanya. Mungkin ya, mungkin juga ini perasaan saya saja, karena saya bisa menikmati kakigori (es serut) atau es kopi sambil cari keteduhan di bawah pohon di sebuah taman, pakai earphone, sambil baca buku. Kayaknya kok suasananya summer banget. Berasa beda dengan nongkrong di warung beli sup buah misalnya.

Ah, jadi makin kangen suasana musim panas di Jepang (seriusan?! Orang ke Jepang yang dipinginin salju atau Sakura kali. Haha, kan anti-mainstream). Banyak kenangan lah di beberapa musim panas yang pernah saya lalui. Kenangan-kenangan yang kadang bikin ketawa geli ataupun ngakak kalau diingat. Termasuk berpanas-panas di dapur pas puasa misalnya. Ah, dapur-dapur itu, jadi kangen. 
Sekarang lagi “not in the mood of cooking” . Pingin sih, tapi tidak ada dorongan kuat untuk eksperimen kayak dulu. Bukan doyan jajan juga, jadi tidak lagi coba resep barunya bukan karena tergantikan oleh jajan. Padahal dulu pas masih di asrama, rela antri kompor dan oven. Pas sudah nikah juga rela mondar-mandir di dapur sempit nan berantakan itu demi mencoba resep baru. Sekarang, saya angkat bendera putih, menyerah. Entah kapan mau mulai lagi yang jelas tidak dalam waktu dekat ini. Seems like I lost my passion :(. Bukan ganti hobi lain juga sih. 

Kesimpulannya apa? Saya kangen suasana summer yang itu, yang itu lho. Yang bikin saya rela jalan kaki beberapa kilo, atau naik susah payah ke Gunung Fuji, atau dorong stroller demi beli eskrim dan buah, atau main bareng suami sampai malam yang tidak kerasa sudah malam. Karen musim panas di Jepang, biasanya ada Himawari yang memberi sedikit nuansa berbeda pada dunia. 

Bajuku Dulu Tak Segini

2016/01/img_3568.jpg

(Keterangan: foto bersama Abu pada akhir Juli dan foto sendirian di awal Januari. Dalam enam bulan, baju Dedek M sudah cingkrang!)

Akhir-akhir ini lagi suka bikin baju buat Dedek M dari kain sisa. Saya kepingin juga bikin buat Mas N tetapi qodarullaah belum ada kain dengan motif yang pas. Awalnya bikin baju untuk Dedek M itu biar ada baju panjang ketika dia diajak keluar rumah terutama saat ke kajian. Ya tidak mengapa juga sih kalau mau dipakaikan baju anak-anak biasa yang berlengan pendek. Namun kok rasanya ada yang bikin saya tidak sreg. Mungkin karena ada niatan untuk mengenalkan juga tentang konsep menutup aurat dalam Islam meski dia masih balita.

Kembali ke masalah baju, sebelum balik ke Indonesia saya sempat membuatkan baju sepasang untuk Mas N dan Dedek M (iyaaaaa, sempat-sempatnya padahal sibuk banget dengan pindahan yang aslinya energy consuming, time consuming dan bikin stres juga…, a little bit) yang Alhamdulillaah masih bisa dipakai sampai sekarang. Setelah saya perhatikan, rok Dedek M ternyata sudah cingkrang. Sekitar enam bulan lalu, bajunya masih agak kepanjangan. Kalau dia berdiri tegak, ujungnya nyaris menyentuh lantai seperti tampak di foto. Kemarin saya amati, ujung roknya sekarang sudah di atas mata kaki malahan. Untung bagian ujung roknya dulu sengaja saya lebihkan lipatannya jadi ini nanti masih bisa dipanjangkan agar tidak terlalu cingkrang. Cingkrang juga tidak apa-apa sih, tapu kok rasanya panjangnya nanggung. Sudah tidak panjang penuh, tapi juga bukan potongan tujuh perdelapan. Kalau bajunya Mas N, tidak terlalu tampak karena atasan saja. Namun, sama saja aslinya, sudah mulai kekecilan juga terutama panjang lengan dan bajunya. Kalau lebarnya sih, anaknya tidak tambah gemuk, jadi ya masih muat.

Ternyata, kalau bikin baju sendiri buat anak, rasanya beda dengan kalau beli jadi. Setiap kali memakaikan, kadang masih terbayang rasanya dulu waktu bikin seperti apa waku-waku-nya (deg-degan, antusias). Masih teringat juga tiap do’a yang tersisip di tiap tahapan pembuatannya berikut rasa bahagia ketika melihat anak-anaknya begitu sumringah dan semangat ketika diminta mencoba pertama kalinya (lebay ya! Tapi biarlah saya nikmati ke-lebay-an ini sebagai bagian dari motherhood experience saya). Makanya setiap memakaikan, selalu sambil mengamati tentang perubahan tinggi mereka dan perubahan baju mereka. Namanya juga pertama kali bikin sendiri, masih harus banyak belajar tentang memilih bahan dan model biar mereka tetap nyaman meski sudah berkali-kali pakai. Kalau baju yang hasil beli atau dikasih orang, jarang sekali saya perhatikan perubahannya. Palingan, kalau sudah tidak muat ya sudah, dipensiunkan sementara lalu masuk lemari karena siapa tahu bisa buat adik-adiknya kelak. Yang jelas, saya sekarang belum bosan dan semoga tidak bosan untuk membuatkan baju ataupun benda lain untuk anak-anak. Ah, rasanya tidak sabar memulai proyek baru lagi tapi masih harus menyelesaikan satu proyek sisipan untuk Dedek M dulu.

Baru yang Tidak Harus Baru

  
Penampakan nona kecil di walimah Om Fajri & Tante Dewi kemarin siang. Baju bunga-bunga adalah hasil pemanfaatan potongan rok saya yang kelebaran.  Kerudungnya adalah hasil daur ulang kerudung untuk pesta nikahan saya dulu. Saya suka sekali bahan kerudung itu karena adem dan tidak terlalu terawang. Dulu hanya untuk dobelan di bagian dalam. Mau dikasih ke orang, tidak tega karena aslinya tidak syar’i. Jadilah kerudung balita untuk si kecil saja.
Oya, di luar sana barangkali banyak orang yang tidak sepakat anak balita diberikan kerudung dengan alasan “kan masih bayi, tidak wajib menutup aurat” dan semacamnya. Namun, saya dan suami merasa ini bagian pengenalan terhadap Islam yang bisa kami lakukan agar kelak saat dia sudah baligh, tidak akan canggung saat diperintahkan menutup aurat. Ini pun masih lepas pasang kok. Ketika dia ingin melepasnya, biasanya saya bolehkan. Namun sekarang dia tahu bahwa saat bepergian atau keluar rumah, lebih baik berkerudung. 
Saya menulis dan mengunggah foto ini sambil siap-siap diprotes lagi lho. Beberapa bulan lalu ada yang sampai bela-belain kirim pesan pribadi ke saya bahwa dia tidak setuju saya memakaikan kerudung & baju panjang ke anak saya. Plus, omelan bahwa dia masih kecil, bukan obyek sex, saya membatasi hak dia untuk memilih (hellooooo, bahkan anak saya saat itu masih 1 tahun. She couldn’t make any choice by herself at that time), saya mengeksploitasi dia dan seterusnya. Sempat dongkol sesaat tapi lalu saya diamkan. Kalau saya saya karena membiasakan kerudung bagi anak gadis saya, lalu yang benar seperti apa? Membiasakannya memakai rok mini dan tank top? Membiasakannya dandan menor seperti orang dewasa yang jauh dari umur sebenarnya? Naudzubillaahi mindzalik. Double standard. 
Saya hanya senyum-senyum sesudahnya. Saya jadi berfikir betapa berat ujian akhir zaman bagi orang tua, harus bisa mengawal anaknya untuk tidak jatuh dalam pemikiran dan tingkah laku sesat dan penuh maksiat. Kalaupun si orang yang bilang tadi tidak mau menutup aurat dengan berjilbab (yup, she is a girl, er woman I mean), itu pilihan dia, tetapi saya tidak akan membiarkan keluarga saya sepertinya, biidznillaah. Jadi, kalau ada yang mau protes lagi, please keep that for yourself. Lebih baik koreksi diri sendiri dulu ketimbang ribut menyalahkan orang. (Lhah, ini kenapa malah curhat ya?! Haha)

Proyek Dadakan : Baju Anak (lagi)

  

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush sholihat. Akhirnya jadi juga mini project dadakan saya. Ceritanya saya beli baju berbahan katun Jepang yang ternyata bagian roknya lebar banget. Karena hanya akan dipakai di rumah dan tidak terlalu suka model umbrella yang terlalu lebar (Saya punya beberapa model umbrella, tapi lebarnya cukupan. Chodo ii.), akhirnya saya potong bagian pinggir kanan dan kirinya. Pas dilihat-lihat, kok kayaknya bisa dijadiin baju untuk Dedek M. Bukan untuk kembaran ya karena saya tidak akan pakai baju motif rame seperti ini ke luar rumah hihi. Kalau dedek M sih masih tidak apa-apa diajak keluar dengan motif seramai ini. Saya sih cukup dengan yang polos-polos saja. 

Awalnya hanya mau dibikin rok saja. Ternyata masih lumayan sisa kainnya, jadi lanjut dijadiin atasannya juga. Sayangnya, saya sempat salah potong (efek ngantuk dan lapar saat itu) sehingga bagian lengan bawah jadi lumayan sempit. Untung anaknya mungil jadi masih muat haha. Demi efektifitas waktu dan tenaga, saya bikin saja jadi model terusan A-line (bilang aja kemampuan memang masih terbatas banget, jadi modelnya ya itu-itu saja). Saya suka yang potongannya sederhana sih. Toh motifnya sudah rame berbunga-bunga. Selain itu, namanya juga kain sisa, lebarnya juga terbatas.
Alhamdulillaah, tetap jadi satu baju yang pas dipakaikan ke Dedek M, lha kok mirip baju kurung ala Malaysia atau Brunei Darussalam. Terus sekarang kebayang-bayang mau kasih kerudung hitam sebagai pasangannya tapi belum punya. Ada sih kain kerudung lama yang dari dulu didambakan jadi mini kerudung untuk dedek M. Belum jadi dibikin sampai sekarang karena malas haha. Kebiasaan juga sih, apa-apa yang terlalu direncanakan biasanya malah tidak jalan. Kalau yang spontan, kadang (sering sih aslinya) malah lebih sukses sampai selesai. 

Kali ini, saya masih tetap setia pakai jahitan tangan. Belum sempat belajar penggunaan mesin jahit karena saya malas kalau anak-anak bangun, kemungkinan besar ganggu. Kalau anak-anak tidur siang, saya pilih ikutan tidur juga haha (anggap saja saya pemalas, tapi ya memang badan saya tidak bisa bohong, kalau tidak ikutan tidur siang barang sebentar langsung drop banget). Namanya juga dijahit tangan, sesempatnya saja dan selesainya juga beberapa hari. Kali ini sudah lebih lumayan sih, selesainya lebih cepat dari sebelumnya karena sudah beberapa kali bikin.
Untuk jahitannya, saya pakai metode stik balik atau french seam (apa itu? Cari sendiri ya, saya tidak pintar menerangkan kalau soal jahitan). Intinya, bagian tepian kain tidak perlu yang namanya obras maupun neci. Semua tersembunyi dibalik dua jahitan. Pernah baca di blog tentang jahit-menjahit, french seam ini bagus untuk baju anak-anak untuk menghindari kemungkinan gatal atau ketidaknyamanan akibat obras (kan kadang hasil obras ada yang tidak rapi). Jahitan model ini bagus juga sebagai penyelamat kalau mesin jahitnya tidak ada fungsi obras. Daripada antri di tukang obras, mending dibikin stik balik saja. Saya juga masih setia pakai kancing jepret atau cetit karena bagi saya ini lebih cocok ketimbang resleting. Kalau tidak hati-hati kadang pinggiran resleting yang di sisi dalam baju (terutama bagian bawah) malah bikin tidak nyaman. Saya pernah beberapa kali dapat baju yang bagian pojok bawah resletingnya malah terasa menusuk ke kulit karena tidak “tersembunyi”. 

  
Setelah dicoba oleh Dedek M, ternyata masih agak kepanjangan jadi harus dilipat lagi sedikit bagian bawahnya. Sedangkan bagian perut jadi pas padahal kemarin-kemarin dibikinnya lumayan longgar. Sepertinya memang bocahnya bertambah gemukan juga sih hihi. Setelah ini bikin apa lagi ya? Ide sih ada beberapa tapi sepertinya tenaga yang tidak mencukupi. Ah iya, proyek mainan anak-anak saja belum jadi dieksekusi juga. Banyak deh ini PR-nya (PR bikin sendiri, kerjain sendiri, nilai sendiri. Yup, saya tidak butuh penilaian orang lain :p)